Pernah nggak sih, kamu memulai sesuatu. Dulu. Dulu sekali. Lalu entah kenapa, berhenti begitu saja.
Awalnya begitu bersemangat. Membuat rencana, menyusun target, membayangkan bagaimana rasanya ketika semua itu selesai. Tapi hari berganti hari, minggu berganti minggu, sampai akhirnya sesuatu yang dulu begitu ingin kita lakukan perlahan hilang dari rutinitas.
Banyak alasan yang bisa kita cari. Kesibukan, pekerjaan, distraksi, rencana baru yang terlihat lebih menarik, atau mungkin memang keadaan yang membuat kita harus berhenti sementara.
Tapi kalau mau jujur, mungkin ada dua hal yang paling sering menjadi penyebabnya: malas dan tidak disiplin. Malas mungkin terdengar sederhana. Tapi justru karena sederhana itulah ia sering tidak kita sadari.
Kita punya waktu untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya penting bagi kita. Kita tahu apa yang harus dikerjakan. Bahkan mungkin sejak pagi sudah berjanji kepada diri sendiri untuk mulai. Tapi kemudian kita rebahan sebentar. Scroll media sosial sebentar. Menonton satu video lagi. Lalu satu video lagi. Tiba tiba tiga jam sudah berlalu.
Hari sudah sore. Malam datang. Kita mulai merasa bersalah karena hari ini lagi lagi tidak melakukan apa apa. Besok kita berjanji akan lebih baik. Dan siklus itu berulang. Yang paling melelahkan sebenarnya bukan pekerjaan yang tidak selesai. Tapi pertengkaran kecil dengan diri sendiri yang terjadi hampir setiap hari.
Pikiran kita tahu bahwa terlalu lama rebahan bukan sesuatu yang baik. Hati kita ingin bergerak. Kita ingin produktif. Kita ingin mengerjakan sesuatu yang sudah lama tertunda. Tapi tubuh rasanya berat sekali untuk sekadar bangun dan memulai. Begitu terus sampai waktu berjalan tanpa menunggu kita.
Sampai suatu hari kita sadar, ternyata banyak hal yang dulu kita impikan masih berada di tempat yang sama. Tidak bergerak ke mana mana.
Aku tidak sedang menyalahkan media sosial. Aku juga tidak sedang mengatakan bahwa rebahan adalah sesuatu yang buruk. Kita tetap membutuhkan istirahat. Kita butuh hiburan. Kita juga perlu sesekali berhenti dari rutinitas. Masalahnya adalah ketika kita terlalu nyaman.
Ketika istirahat berubah menjadi kebiasaan menunda. Ketika hiburan mengambil terlalu banyak waktu. Ketika kita mulai menggunakan kata βnantiβ terlalu sering sampai akhirnya tidak pernah benar benar mulai. Setidaknya, itulah yang sering aku rasakan. Kemudian ada satu hal lagi yang menurutku jauh lebih sulit daripada sekadar memulai: disiplin.
Disiplin mudah sekali diucapkan. Mudah dinasihatkan. Tapi ketika harus benar benar dilakukan setiap hari, ternyata tidak sesederhana itu. Ada disiplin terhadap waktu. Ada juga disiplin untuk menjaga niat, motivasi, dan tindakan agar tetap berjalan ketika semangat sudah tidak lagi sebesar di awal.
Kita sering membenci penundaan, tapi pada saat yang sama kita sendiri yang terus menundanya. Kita tahu apa yang harus dilakukan, tetapi masih menunggu mood. Menunggu waktu yang tepat. Menunggu semangat datang. Padahal mungkin tidak ada waktu yang benar benar tepat. Dan mungkin semangat memang tidak selalu datang lebih dulu. Kadang kita harus mulai dulu, baru semangat itu menyusul.
Pada akhirnya, aku mulai memahami satu hal. Kalau ada sesuatu yang benar benar ingin kita capai, pasti ada harga yang harus dibayar. Waktu. Tenaga. Kenyamanan. Dan kadang, rasa malas yang harus kita lawan berkali kali.
Sebab kalau niat kita kalah besar dari hambatan yang ada di depan mata, mungkin mimpi itu akan tetap menjadi mimpi. Aku juga masih belajar soal ini. Masih sering menunda. Masih sering kalah dengan rasa malas. Masih sering membuat rencana baru ketika rencana lama belum selesai.
Tapi mungkin tidak apa apa untuk mengakuinya. Yang penting, jangan berhenti terlalu lama. Kalau ada sesuatu yang pernah kita mulai dan kemudian kita tinggalkan, mungkin sekarang waktunya melihatnya lagi. Tidak perlu langsung menyelesaikan semuanya. Mulai saja lagi. Satu langkah kecil. Satu halaman. Satu pekerjaan. Satu jam yang digunakan dengan benar.
Sebab waktu akan tetap berjalan, dengan atau tanpa kita. Dan mungkin, daripada suatu hari nanti menyesal karena terlalu banyak hal yang tidak pernah kita selesaikan, lebih baik hari ini kita sedikit memaksa diri untuk bergerak. Pahit dan berat hari ini mungkin masih lebih baik daripada penyesalan yang harus kita teguk di kemudian hari.
Terima kasih sudah membaca. Semangat untuk kita yang sedang belajar memulai lagi.
