Aku dan Rasa Penasaran yang Nggak Pernah Selesai
Aku selalu penasaran seperti apa rasanya berdiri di tempat yang selama ini cuma bisa kulihat dari foto, kutonton dari video, dan kudengar dari cerita orang-orang keren yang memiliki kesempatan dan keberanian untuk melangkahkan kaki, merasakan, dan menikmati pemandangan yang mereka impikan.
Aku penasaran bagaimana rasanya bangun pagi di kota yang belum pernah kudatangi.
Penasaran dengan jalan kecil yang nggak masuk itinerary.
Penasaran dengan orang-orang yang nggak kukenal, makanan yang belum pernah kucoba, bahasa yang nggak kupahami, dan cerita yang mungkin nggak akan pernah kutemukan kalau aku cuma tinggal di rumah.
Mungkin itu alasan kenapa traveling selalu punya tempat tersendiri dalam hidupku.
Aku bukan orang yang traveling karena ingin terlihat keren.
Aku juga nggak selalu mencari tempat yang Instagramable.
Aku cuma ingin bilang ketika akhirnya sampai ditempat atau pengalaman baru.
“Ohh, jadi ini. Oh, jadi begini too”
Dan kalimat sederhana itu lebih dari cukup memaksaku untuk berjalan lebih jauh.
Nggak Harus Kaya untuk Memulai Perjalanan
Dulu aku pikir traveling adalah sesuatu yang mahal.
Pesawat mahal.
Hotel mahal.
Makan mahal.
Belum lagi transportasi, tiket masuk, oleh-oleh, dan segala macam biaya yang tiba-tiba muncul ketika sudah berada di perjalanan.
Ternyata memang mahal.
Hahaha.
Aku nggak akan berbohong dan mengatakan bahwa traveling itu murah.
Tapi setelah beberapa kali berangkat dan berhasil mengunjungi beberapa tempat yang pernah menjadi wishlistku, aku mulai memahami satu hal.
Traveling bukan selalu tentang seberapa banyak uang yang kita punya.
Kadang cuma soal seberapa besar keinginan kita untuk mencari cara.
Naik kereta kalau pesawat terlalu mahal.
Tidur di penginapan sederhana.
Berbagi kendaraan.
Membawa kamera sendiri.
Makan di warung lokal.
Menyusun perjalanan sendiri.
Atau bahkan sekadar pergi ke tempat yang jaraknya beberapa jam dari rumah.
Karena ternyata traveling nggak selalu harus dimulai dari bandara.
Kadang cukup dari sebuah jalan yang belum pernah kita lewati.
Ada Banyak Hal Baru dan Tak Terduga
Salah satu hal yang paling kusukai dari traveling adalah bagaimana perjalanan bisa membuat dunia terasa jauh lebih luas.
Di rumah, kita mungkin merasa hidup kita adalah pusat dari segala sesuatu.
Kita sibuk dengan pekerjaan.
Sibuk dengan deadline.
Sibuk dengan masalah sendiri.
Sibuk memikirkan masa depan.
Kemudian saat kita memutuskan pergi keluar rumah untuk ambil trip.
Kita akan melihat orang yang bangun setiap pagi untuk membuka warung kecil.
Ketemu pendaki yang rela berjalan berjam-jam hanya untuk melihat matahari terbit.
Ketemu bapak-bapak yang dengan santainya mengajak ngobrol di pinggir jalan.
Ketemu orang asing yang mungkin hanya kita kenal selama beberapa jam, tetapi ceritanya justru kita ingat bertahun-tahun.
Dan dari sana aku sadar,
ternyata hidup orang lain juga sedang berjalan.
Dengan masalahnya sendiri.
Dengan mimpi-mimpinya sendiri.
Dengan alasan masing-masing untuk terus bangun setiap pagi.
Perjalanan yang aku jalani selalu mengingatkan dan membuatku merasa kecil dibandingkan semua orang yang pernah kuamati dan kutemui.
Namun , justru dalam rasa kecil itulah aku merasa lebih hidup.
Aku Traveling Bukan untuk Kabur
Ada orang yang traveling untuk melupakan masalah.
Aku juga pernah begitu.
Tapi semakin sering traveling, justru aku merasa bahwa perjalanan yang kita tempuh bukanlah tempat untuk melarikan diri.
Kita tetap membawa diri kita sendiri ke mana pun kita pergi.
Kalau sedang punya masalah, masalah itu ikut naik kereta.
Kalau sedang bingung dengan masa depan, kebingungan itu ikut masuk ke dalam kerir yang kita gendong.
Kalau sedang patah hati, ya…
Itu biasanya ikut juga.
Gratis.
Tapi justru perjalanan memberi kita ruang untuk melihat semuanya dari jarak yang sedikit berbeda.
Kadang setelah berjalan jauh, kita pulang bukan dengan jawaban.
Kita hanya pulang dengan kepala yang sedikit lebih tenang.
Dan mungkin, itu saja sudah lebih dari cukup.
Karena Besok Belum Tentu Ada
Ada satu alasan lain kenapa aku selalu ingin pergi ketika ada kesempatan.
Karena kita terlalu sering menganggap besok sebagai sesuatu yang pasti.
“Nanti aja.”
“Nanti kalau sudah punya uang.”
“Nanti kalau sudah selesai kerja.”
“Nanti kalau sudah punya pasangan.”
“Nanti kalau sudah sukses.”
“Nanti kalau sudah punya banyak waktu.”
Masalahnya, hidup nggak pernah benar-benar menjanjikan “nanti”.
Kita hanya terlalu nyaman menganggapnya ada.
Makanya ada kalimat yang selalu terngiang di kepalaku:
You said, maybe tomorrow.
I said, bro tomorrow we die.
Bukan berarti kita harus hidup sembrono.
Bukan berarti semua uang harus dihabiskan untuk traveling.
Dan bukan berarti masa depan nggak perlu dipikirkan.
Tetap perlu.
Menabung perlu.
Bekerja perlu.
Membangun kehidupan juga perlu.
Tapi mungkin di sela-sela semua itu, kita juga perlu memberikan sedikit ruang untuk hidup.
Untuk melihat dunia.
Untuk mencoba sesuatu yang baru.
Untuk menjawab rasa penasaran yang selama ini cuma disimpan di kepala.
Perjalanan yang Belum Selesai
Kalau sekarang ditanya sudah berapa banyak tempat yang pernah kudatangi, jawabannya mungkin masih jauh dari cukup.
Indonesia saja belum selesai.
Masih ada puluhan provinsi yang ingin kukunjungi.
Masih ada gunung yang ingin kudaki.
Masih ada kota yang ingin kutelusuri.
Masih ada makanan yang ingin kucoba.
Masih ada orang-orang yang belum kutemui.
Dan setelah Indonesia, mungkin ada negara lain.
Kemudian negara lain lagi.
Entah sampai kapan.
Mungkin sampai uang habis.
Lalu kerja lagi.
Hahaha.
Tapi aku rasa memang begitulah sebuah perjalanan hidup menjadi seorang manusia.
Nggak pernah benar-benar selesai.
Setiap satu perjalanan berakhir, biasanya muncul rasa penasaran baru.
Dan mungkin, itulah bagian yang paling kusukai.
Aku nggak tahu persis akan pergi ke mana setelah ini.
Aku juga nggak tahu kapan perjalanan berikutnya akan dimulai.
Tapi selama rasa penasaran itu masih ada, rasanya aku akan selalu punya alasan untuk berjalan.
Karena pada akhirnya, mungkin aku nggak membutuhkan rekening yang penuh saldo untuk mulai melakukan perjalanan itu.
Aku hanya membutuhkan sedikit uang, sedikit keberanian, waktu yang tersedia, dan rasa penasaran yang cukup besar.
Dan sejauh ini, satu hal terakhir itu sepertinya terus meluber setiap harinya.
Aku cuma punya satu masalah: rasa penasaranku jauh lebih besar daripada isi rekeningku.
Dan mungkin…
itu bukan masalah.
Itu alasan kenapa perjalanan ini masih akan terus berlanjut.
