Proses belajar menerima kekecewaan sering kali bermula dari deretan janji yang akhirnya dibatalkan begitu saja. Kamu sudah terbiasa menerima kabar beberapa janji akhirnya dibatalkan. Entah itu pertemuan untuk sekadar nongkrong, ketemu, cerita, trip, atau janji bersama gebetan.
Entah sudah berapa puluh. Kamu berusaha untuk merasakannya, sampai titik kamu membuat kesimpulan bahwa itu menyakitkan.
Akhirnya, salah satu prinsip yang selalu kamu pegang adalah, sekali kamu berencana, berucap, berjanji, maka bagaimanapun kondisinya, kamu akan tetap berusaha tunaikan.
Sempat kecewa suatu ketika ada seorang teman ingin ikut mendaki, sementara memang kamu sudah berencana sendiri, karena memang kamu sedang ingin merayakan ulang tahunmu sendiri. Sialnya, H-4 jam dia memberi kabar kalau dia batal ikut mendaki. Akhirnya ya kamu berangkat sendiri.
Entah sudah berapa kali perjalanan kesendirianmu. Ke Raung, ke Argopuro, ke Bali, ke Lombok. Kalau gunung di bawah 2.000 mdpl sudah cukup banyak, atau pantai, sangat sering.
Dulu kamu membenci semua hal yang berkaitan dengan harus menunda atau membatalkan rencana, sampai akhirnya kamu menerima bahwa semua orang adalah peragu di bidang tertentu. Tentu saja, soal trip, kamu tidak pernah merasa ragu. Tapi soal asmara, masa depan, dan karier, kamu adalah peragu yang andal.
Kamu masih membenci orang yang seenaknya membatalkan janji. Apalagi sudah berjanji, tiba-tiba menghilang, tidak ada konfirmasi, langsung kamu cut-off seketika. Karena buat apa berhubungan terlalu jauh dengan orang yang menyepelekan janji?
Perihal janji, besok kamu juga ada janji mengajak seorang teman untuk mendaki. Rencana awal bulan ini mau ke Jogja, tapi harus kamu tunda, karena ada seorang teman ingin melakukan pendakian, namun berakhir batal juga. Akhirnya kamu harus cari teman lain untuk pergi mendaki.
Rencana besok mau ke Gunung Wilis via Dolo, ke Puncak Tembelang, lanjut hunting Air Terjun Ngleyangan. Sampai sekarang sebenarnya belum tahu akan berangkat jam berapa, tapi kalian akan berangkat.
Kenapa ke Tembelang? Sebenarnya ini tidak terlalu tinggi. Setelah dua minggu lalu kamu mendaki Wilis di ketinggian 2.200 mdpl via Jurang Senggani, kali ini Puncak Tembelang hanya 1.624 mdpl.
Dan fun fact-nya, via Dolo ini ada empat puncak, lo. Puncak Tembelang, Cemoro Tumbuk, Cemoro Selurup, dan Puncak Wilis/Puncak 17/Liman/Puncak Liman.
Gunung Wilis ini sendiri terletak di enam kabupaten, yaitu Ponorogo, Nganjuk, Madiun, Trenggalek, Kediri, dan Tulungagung. Memiliki ketinggian puncak tertinggi yaitu 2.563 meter.
Gunung Wilis juga memiliki enam jalur pendakian, yaitu Jalur Candi Penampihan, Tulungagung; Jalur Bajulan, Nganjuk; Jalur Mojo, Kediri; Jalur Kare, Madiun; Jalur Bareng, Nganjuk; dan Jalur Jurang Senggani, Tulungagung.
Awalnya rencana pendakianmu mau ke Puncak Argokelono, lereng Wilis dengan ketinggian 1.700 mdpl via Bukit Salju. Namun karena sedang kebakaran, basecamp-nya ditutup total.
Akhir-akhir ini juga banyak kabar buruk, kalau gunung di Jawa Timur banyak yang kebakar, atau potensi terbakar, mulai dari Arjuno, Ranu Kumbolo, Buthak, Kelud, Kawi Ngantang, dan Wilis Nganjuk. Perbukitan lereng Arjuno di Mojokerto juga terkena imbasnya dan ditutup.
Nah, mengenai Ngleyangan, ini juga akan menjadi perjalanan cukup menarik karena harus trekking kurang lebih dua jam. Air terjun ini ada dua jalur. Bisa via Desa Parang-Banyakan dan Krampyang-Grogol.
Air terjun di ketinggian 800 mdpl ini letaknya tersembunyi di balik hutan Gunung Wilis. Aliran air itu jatuh dari ketinggian 125 meter. Jalur yang paling ramai adalah Air Terjun Ngleyangan di Dusun Goliman, Desa Parang, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri.
Setiap langkah menyusuri rimba adalah ruang untuk merapikan kembali pikiranmu yang riuh oleh kekecewaan dan ekspektasi manusia. Alam tidak pernah berjanji manis, ia hanya ada, menyambutmu apa adanya tanpa pura-pura. Saat kakimu terus melangkah menembus semak dan meniti jalan berbatu, kamu tersadar bahwa kesendirian di alam terbuka jauh lebih menenangkan daripada keramaian yang dipenuhi kebohongan dan pembatalan janji.
Di sepanjang jalur nanti, saat helai dedaunan diterpa angin pegunungan dan gemericik air mulai terdengar dari kejauhan, kamu akan menemukan kembali kendali atas hidupmu sendiri. Perjalanan ini mungkin sederhana, tetapi di sinilah kamu merayakan keteguhan hati dan membuktikan bahwa kamu tidak akan pernah membiarkan keraguan orang lain menghentikan langkahmu untuk terus menjelajah.
Ya, doakan semoga besok jadi.
Oke, sekian dulu tulisan kali ini. Terima kasih sudah membaca.
