Membaca The Psychology of Money karya Morgan Housel membawa kesadaran baru bahwa urusan finansial sejatinya bukan sekadar kalkulasi angka, melainkan seni mengendalikan emosi diri.
Ini adalah tulisan buku pertamamu di blog ini. Salah satu alasanmu mulai menulis lagi di sini ya karena kamu harus mengejar agar semua kategori terisi. Jadi, daripada terlalu banyak mikir mau mulai dari mana, mari mulai saja.
Beberapa waktu lalu kamu membaca The Psychology of Money karya Morgan Housel. Buku ini sebenarnya bukan buku tentang bagaimana cara menjadi kaya. Lebih dari itu, buku ini banyak membahas bagaimana hubunganmu dengan uang, dan kenapa sering kali masalah terbesar soal uang bukan karena kamu tidak tahu cara mengelolanya, tapi karena kamu tidak bisa mengendalikan diri sendiri.
Ada satu kalimat yang cukup menampar: orang yang paling tenang hidupnya sering kali bukan yang paling kaya.
Kamu jadi teringat dengan dirimu sendiri. Dulu ketika punya uang lebih, rasanya selalu ada saja yang ingin dibeli. Laptop, kamera, perlengkapan traveling, berbagai perangkat yang kamu pikir akan berguna untuk pekerjaan atau proyek. Kadang memang berguna. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, tidak semuanya benar-benar kamu butuhkan.
Ada masa ketika kamu merasa kalau punya lebih banyak uang, hidup pasti akan lebih tenang. Ternyata tidak selalu begitu. Penghasilan naik, keinginan juga ikut naik. Punya sedikit lebih banyak, ingin sedikit lebih banyak lagi. Sampai akhirnya kamu bekerja semakin keras hanya untuk mempertahankan standar hidup yang semakin tinggi.
And somehow, you forget why you wanted money in the first place.
Morgan Housel membahas satu realita bahwa uang lebih sering rusak karena emosi daripada karena kurang ilmu. Kamu bisa saja tahu pentingnya menabung, investasi, membuat anggaran, atau mengatur pengeluaran. Tapi ketika ego ikut mendominasi, semuanya bisa berubah. Kamu ingin terlihat sukses. Ingin punya barang yang dimiliki orang lain. Ingin membuktikan sesuatu. Akhirnya uang yang seharusnya menjadi alat justru berubah menjadi tujuan untuk menunjukkan siapa dirimu kepada orang lain.
Sebaliknya, ada orang yang kelihatannya biasa saja. Tidak terlalu banyak menunjukkan apa yang dia punya. Tidak sibuk terlihat kaya. Tapi hidupnya justru lebih stabil karena dia tahu apa yang penting.
Dia tidak terlalu mengejar terlihat sukses hari ini. Dia lebih memilih aman untuk puluhan tahun ke depan. Lebih memilih konsisten daripada instan. Lebih memilih punya kendali daripada terlihat hebat. Dan mungkin di situlah kamu mulai memahami bahwa uang sebenarnya bukan tujuan akhir.
Sebab kalau dipikir-pikir, untuk apa kamu ingin punya banyak uang? Untuk membeli rumah? Untuk traveling? Untuk membeli barang yang kamu inginkan? Untuk pensiun lebih cepat? Mungkin semuanya benar. Tapi semakin kamu pikirkan, ternyata yang paling kamu cari dari uang adalah kebebasan.
Kebebasan untuk menentukan bagaimana kamu menggunakan waktu. Ada satu kutipan dari buku ini yang paling kamu ingat:
“Kemampuan untuk melakukan apa yang kamu inginkan, kapan pun kamu mau, dengan siapa pun yang kamu mau, adalah dividen tertinggi yang diberikan oleh uang.”
Sebab mungkin kemewahan yang sebenarnya bukan ketika kamu bisa membeli mobil mahal atau makan di restoran mahal. Tapi ketika kamu punya cukup kendali atas hidup sendiri.
Bisa mengambil cuti ketika ingin pergi. Bisa menghabiskan waktu bersama orang yang kamu sayangi. Bisa mengerjakan sesuatu yang kamu sukai. Bisa berkata tidak pada pekerjaan atau keadaan yang tidak lagi sesuai dengan hidupmu.
Time is the real luxury.
Kamu sendiri masih jauh dari kondisi itu. Masih bekerja, masih mengejar banyak hal, masih punya banyak keinginan. Bahkan mungkin sampai sekarang kamu masih belajar membedakan mana yang benar-benar kamu butuhkan dan mana yang hanya ingin kamu beli karena sedang punya uang.
Di tengah perjalanan ini, kamu mulai menyadari bahwa mengelola finansial bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan keterampilan mengendalikan emosi dan ego. Ketika kamu berhenti membandingkan pencapaianmu dengan orang lain, kamu memberi ruang bagi dirimu sendiri untuk bernapas dan menikmati apa yang sudah ada.
Memiliki kelonggaran finansial pada dasarnya memberikanmu hak atas pilihan. Pilihan untuk melangkah pelan saat dunia bergerak terlalu cepat, pilihan untuk menolak hal-hal yang menguras jiwamu, dan pilihan untuk menjaga kedamaian pikiran. Setiap rupiah yang berhasil kamu tabung adalah investasi kecil untuk membeli kedaulatan atas waktumu di masa depan.
Tapi setidaknya sekarang kamu mulai memahami satu hal. Mungkin kamu tidak selalu membutuhkan uang yang lebih banyak. Mungkin kamu hanya perlu cara berpikir yang lebih dewasa tentang uang.
Sebab semakin banyak uang yang kamu punya, bukan berarti otomatis semakin tenang hidupmu. Kalau standar hidup, ego, dan keinginan tidak pernah punya batas, sebanyak apa pun uang yang masuk akan selalu terasa kurang.
Pada akhirnya, kaya mungkin bukan tentang seberapa banyak yang bisa kamu beli. Kaya adalah ketika kamu punya cukup untuk tidak menjual seluruh waktumu demi uang. And perhaps, the highest dividend of money is not money itself, but the freedom to own your own time.
