Hari ini tanggal 31 Agustus. Selesai pulang kantor dengan pekerjaan yang sedikit lebih sibuk dari biasanya, kamu menyadari satu kenyataan penting bahwa di setiap pilihan hidup, selalu ada hal yang dikorbankan. Sebenarnya cukup ngantuk, badan juga rasanya ingin segera rebahan, tapi entah kenapa endorphin-mu belum juga reda. Mungkin karena seminggu ini kamu sedang cukup serius mengeksekusi satu proyek yang belakangan menjadi perhatian utamamu.
Ada rasa bergelora ketika sesuatu yang selama ini hanya ada di kepala mulai perlahan dikerjakan, meskipun realitanya tidak semudah ketika membayangkannya. Sampai malam ini pun kamu masih tersangkut mengatur tata letak WordPress yang beberapa hari lalu kamu beli dengan harga yang menurutmu tidak murah. Lucunya, membeli sesuatu terkadang jauh lebih mudah daripada menggunakannya dengan benar.
Kamu ingin menjadi penulis. Maka kamu akan menulis. Sesederhana itu.
Targetmu tahun ini setidaknya ingin menulis dua buku. Salah satunya mungkin tentang catatan pribadimu ketika menemukan diri sendiri di Malang, ketika sedang menyelesaikan studi magister, ketika malam-malam terasa panjang dan kamu tidak pernah benar-benar bisa tidur, kemudian memilih menulis untuk mengurai isi kepala. Maybe someday, all these sleepless nights will become a story worth keeping. Kamu ingin menjadikannya satu draf utuh. Tidak tahu nantinya akan menjadi buku yang benar-benar diterbitkan atau hanya menjadi arsip perjalanan hidupmu, tetapi setidaknya harus selesai.
Kamu akan memulainya dari blog.
Masalahnya, blog saja sampai sekarang masih tertahan dan kamu belum menemukan titik temu dengan tata letak WordPress yang rasanya seperti sedang menguji kesabaran. Tapi ya sudah, pelan-pelan. Mungkin memang tidak semuanya harus langsung terlihat bagus. Yang penting mulai ada isinya. A beautiful empty website is still an empty website.
Sore tadi kamu kembali membaca buku Steven Covey, The 8th Habit of Highly Effective People. Kalau suatu saat ada yang bertanya dari mana semangat yang sedang menggebu-gebu ini datang, mungkin sekarang kamu sudah punya jawabannya. Dari dua buku Steven Covey, The 7 Habits of Highly Effective People dan The 8th Habit. Entah kenapa dua buku itu cukup banyak mengubah cara pandangmu tentang hidup, pekerjaan, tujuan dan bagaimana seharusnya kamu menjalani semuanya.
Sore ini kamu tidak menyelesaikan satu bab penuh. Hanya sekitar enam topik. Sekarang sudah sampai bab 9. Sebagai informasi, kamu tidak tahu kenapa, tetapi kamu selalu membaca buku self-improvement dengan sangat lambat. Sudah dua minggu dan bukunya belum juga selesai. Berbeda ketika membaca novel. Kalau sudah menemukan cerita yang menarik, bisa cepat sekali tamat. Mungkin karena novel hanya memintamu menikmati cerita, sementara buku seperti ini memaksamu berhenti, berpikir, kemudian bertanya kepada diri sendiri.
Dan sore tadi kamu sampai pada satu bagian tentang otoritas moral dan kecepatan kepercayaan. Ada satu kalimat yang cukup menamparmu.
“Segala sesuatu yang berharga dalam hidup diperlukan pengorbanan.”
Kemudian dijelaskan bahwa pengorbanan adalah melepaskan sesuatu, bahkan sesuatu yang baik, untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik.
Kamu hanya ingin menggarisbawahi satu kata: pengorbanan.
Mungkin selama ini kamu belum benar-benar berkorban untuk impian jangka pendekmu. Kamu ingin punya blog yang produktif, ingin menulis buku, ingin membuat konten, ingin punya penghasilan tambahan dari affiliate, ingin mengembangkan freelance drone, ingin membuat banyak proyek. Tapi apakah kamu sudah memberikan sesuatu yang sepadan untuk mendapatkannya?
Mungkin belum.
Kamu masih terlalu sering bermalas-malasan. Masih terlalu sering mengatakan nanti. Masih terlalu sering memilih rebahan ketika sebenarnya ada waktu yang bisa digunakan untuk mengerjakan sesuatu. Jadi mungkin masalahnya bukan lagi soal punya mimpi atau tidak. Masalahnya adalah seberapa besar kamu bersedia membayar harga dari mimpi tersebut.
You can’t keep your old habits and expect a new life.
Siang tadi kamu juga sambil mendengarkan podcast Prof. Bagus Muljadi bersama Bilal di akun Suara Berkelas. Ada beberapa pembahasan yang cukup menarik tentang bagaimana secara umum sebagian masyarakat Indonesia masih sering terjebak dalam pola pikir inferior, kurang percaya diri, malas, mencari kambing hitam dan enggan bertanggung jawab terhadap keadaan sendiri. Tentu tidak bisa digeneralisasi kepada semua orang, tetapi ketika mendengarkannya, kamu jadi kembali berpikir bahwa keluar dari dogma dan kebiasaan berpikir yang sudah begitu mengakar memang bukan pekerjaan mudah.
Susahnya minta ampun.
Karena ternyata yang harus kamu lawan bukan hanya keadaan di luar dirimu, tetapi juga suara-suara yang sudah terlalu lama tinggal di dalam kepala.
Dan kembali lagi kepada pengorbanan.
Ada satu kalimat yang entah kamu dapat dari mana, tetapi semakin ke sini semakin terasa masuk akal: kalau kamu menginginkan hasil yang berbeda, kamu harus melakukan sesuatu yang berbeda. It’s impossible to expect different results if you keep doing the same things.
Kalau setiap hari kamu tidur terlalu lama, malas bergerak, terlalu banyak scrolling, menunda pekerjaan dan hanya sibuk membuat rencana, lalu tahun depan berharap hidupmu berubah, rasanya agak lucu juga.
Maka tahun depan harus ada beberapa proyek yang mulai terlihat bentuknya.
Mungkin kamu harus mengorbankan sedikit waktu tidur. Sedikit waktu istirahat. Mungkin juga waktu untuk bersenang-senang. Bahkan mungkin waktu untuk asmara.
Ah, entahlah.
Soal asmara ini kamu benar-benar tidak bisa menjawabnya dengan pasti. Barangkali memang ada hal yang tidak bisa direncanakan. Kalau memang Tuhan sudah menyiapkan seseorang, semoga dipertemukan pada waktu yang tepat, dengan cara yang tepat, dan dalam keadaan yang sama-sama siap. Kalau belum, ya sudah. Some things are not meant to be rushed.
Untuk sekarang, mungkin kamu harus fokus dulu dengan apa yang bisa kamu kerjakan.
Memang terdengar sedikit materialistik ketika kamu mulai membicarakan target proyek, uang, blog, affiliate, freelance drone dan buku. Tapi menurutmu tidak selalu buruk. Salah satu hal yang kamu pelajari dari The 7 Habits adalah memulai dengan hasil yang ingin dicapai. Begin with the end in mind. Jadi kamu mencoba menjawabnya dengan jelas.
Tahun depan, setidaknya kamu ingin sudah memiliki blog yang produktif. Punya sumber keuangan tambahan dari konten maupun affiliate. Mulai mendapatkan proyek freelance drone. Dan yang paling penting, setidaknya sudah memiliki satu draf buku yang benar-benar selesai.
Proses bertumbuh dan berpindah ke tingkatan hidup yang baru selalu menuntut keberanian untuk melepaskan zona nyaman. Ketika kamu berani menetapkan batas pada hal-hal yang kurang produktif, kamu sedang membuka ruang yang jauh lebih lapang bagi pencapaian berharga yang telah lama menunggunya. Pengorbanan berupa waktu luang, tenaga, dan kesenangan sesaat adalah investasi sejati yang akan membuahkan hasil manis di kemudian hari.
Setiap malam yang kamu habiskan untuk menuntaskan sebuah draf, membaca satu halaman tambahan, atau mematangkan tata letak situs webmu adalah bukti nyata dari komitmen jiwa terhadap masa depanmu sendiri. Kamu belajar bahwa kesuksesan yang otentik tidak pernah lahir dari kebetulan, melainkan dari tumpukan kedisiplinan sunyi yang terus kamu rawat setiap harinya tanpa perlu pamer kepada dunia luar.
Tidak perlu langsung besar.
Tidak perlu langsung terkenal.
Tidak perlu langsung menghasilkan banyak uang.
Yang penting mulai terlihat.
Start small, but make it real.
Mungkin nanti semuanya berkembang. Mungkin juga ada yang gagal. Tidak apa-apa. Setidaknya kamu sudah mencoba melakukan sesuatu yang berbeda.
Sebab kalau ingin hasil yang berbeda, ya mungkin kamu juga harus rela menjalani hari-hari yang berbeda.
Lebih sedikit rebahan. Lebih banyak berkarya. Lebih sedikit mengeluh. Lebih banyak mengerjakan. Lebih sedikit berangan-angan. Lebih banyak mengeksekusi.
Dan mungkin lebih banyak berkorban untuk sesuatu yang memang ingin kamu miliki.
Sebagai penutup, kamu ingin mengutip kembali sebuah utas yang pernah kamu tulis beberapa waktu lalu:
“Bagaimana kalau kita ganti targetnya, dari tahun depan nikah jadi tahun depan kebeli HRV.”
Amin.
Terima kasih sudah membaca.
Semoga kamu dan semua orang yang membaca catatan kecil ini bisa membeli HRV.
31 Agustus 2026
