Di luar lagi mendung. Sesekali angin masuk dari jendela. Udara dingin, setiap hari. Kamu suka. Di tengah momen-momen tenang seperti ini, kamu tersadar bahwa setiap kali Kamu Bertumbuh, selalu ada ruang sunyi dan kejujuran batin yang perlu kamu lewati terlebih dahulu.
Menginjak hari ke-21 kamu tidak bekerja dan memutuskan untuk pindah ke Kota Malang. Tidak banyak yang sudah kamu kerjakan. Hanya berdiam di kamar, duduk manis di depan laptop, membaca dan meringkas ratusan artikel.
Kamu mulai lagi menulis catatan ini karena kepalamu sudah mulai terlalu berisik. Kamu suka berdebat dengan diri sendiri. Bertanya, menjawab, lalu berdiskusi dengan pikiran sendiri.
Kamu melihat banyak kehidupan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Semuanya membingungkan. Seakan selalu ada sesuatu yang membuatmu tersesat untuk mengenal siapa sebenarnya dirimu ini. Sesosok kecil yang banyak malunya, tapi juga banyak maunya.
Beberapa waktu, kamu merasa telah menemukan dirimu. Tapi beberapa waktu kemudian, kamu justru kehilangan lagi. Aneh memang. Tapi kamu menikmati perjalanan ini.
Kamu punya banyak keinginan. Banyak sekali. Tapi kamu juga sadar diri. Otak, kemampuan, dan dukunganmu mungkin pas-pasan.
Kamu tidak mau membandingkan dirimu dengan siapa pun. Kamu hanya ingin tetap dan terus berusaha, sambil belajar menerima dirimu sendiri dengan segala kekurangan dan keterbatasan.
Kamu bukan orang yang suka show off banyak hal. Kamu cenderung diam dan mungkin tidak terlalu pandai menjadi sosok yang revolusioner. Barangkali memang bukan itu jalanmu.
Kamu nyaman dengan kesendirian dan kesunyian. Tapi di sisi lain, kamu suka berjalan-jalan, mengeksplorasi tempat baru, bertemu orang, dan berbagi pikiran.
Di tengah waktu santai, ketika sedang menikmati jeda dari mengerjakan laporan penelitian, kamu sering menenggelamkan diri dalam dunia maya dan media sosial.
Kadang kamu melihat mereka dan berpikir, I want to be like them.
Tapi di saat yang sama, kamu juga tahu bahwa keramaian tidak selalu membuatmu nyaman. Mungkin itu sebabnya sudah menjadi rahasia umum kalau seseorang mengirimimu pesan, jangan berharap balasan datang dengan cepat. Kadang kamu hanya butuh waktu untuk kembali menjadi manusia setelah terlalu lama berada di dalam kepalamu sendiri.
Proses bertumbuh yang sedang kamu jalani di kota baru ini adalah bentuk keberanian yang kerap tidak disadari. Ketika kamu memilih untuk mengambil jarak dari ritme hidup yang lama, kamu sebenarnya sedang memberi kesempatan bagi jiwa dan pikiranmu untuk menata ulang arah serta tujuan hidup. Keheningan kamar kos, dinginnya udara Malang, dan tumpukan artikel yang kamu ringkas adalah bagian dari laboratorium pribadi tempat karaktermu ditempa.
Di dunia yang bergerak serba cepat dan menuntut serba terlihat, pilihanmu untuk berproses secara sunyi adalah sebuah keistimewaan. Kamu belajar bahwa kesuksesan dan pertumbuhan diri tidak selalu harus dirayakan dengan tepuk tangan orang lain. Kadang, pencapaian terbesar justru terjadi ketika kamu berhasil menaklukkan keraguan dalam pikiranmu sendiri, berdiri tegak di tengah ketidakpastian, dan tetap melangkah meskipun pelan.
Setiap catatan kecil yang kamu tulis, setiap refleksi yang kamu urai, dan setiap momen jeda yang kamu ambil memperkuat akar mentalitasmu. Kamu sedang membangun ketahanan emosional yang kelak akan membentengimu dari guncangan hidup yang lebih besar. Jangan pernah meremehkan langkah-langkah kecil yang tampaknya sederhana hari ini, karena dari sanalah fondasi masa depanmu yang kokoh sedang terbentuk.
Kamu tidak mau mati tanpa meninggalkan sesuatu.
Bukan sesuatu yang besar. Bukan juga sesuatu yang membuat namamu dikenang banyak orang. Kamu hanya tidak ingin menyerah begitu saja pada keterbatasan.
Mungkin kamu akan mulai meninggalkan pesan-pesan kecil. Catatan. Foto. Video. Cerita-cerita sederhana tentang perjalanan seseorang yang masih mencoba memahami hidupnya sendiri.
Kamu tidak tahu apakah suatu hari nanti akan ada yang membaca atau menontonnya. Kamu juga tidak berharap banyak orang memberi kesan.
Mungkin memang tidak perlu.
Dalam sunyi, kamu akan bertumbuh.
Pelan-pelan. Sambil terus membuat peninggalan kecil tentang mimpi seorang manusia yang penuh kekurangan.
Salam.
