Mungkin kamu sering mendengar kalimat, “Kalau mau sukses, kamu harus bikin konten.”
Aku juga sering mendengarnya.
Di zaman ketika hampir semua orang bisa menjadi content creator, rasanya hidup seperti ikut perlombaan. Ada yang setiap hari bikin video, membangun personal branding, mengejar followers, membuat podcast, menulis, atau membagikan hampir setiap bagian dari hidupnya.
Aku sendiri pernah ikut masuk ke dalam arus itu.
Aku suka menulis. Aku suka fotografi. Aku suka membuat video. Aku juga suka bercerita tentang perjalanan, buku, pekerjaan, dan hal-hal yang kupikirkan. Jadi membuat konten sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagiku.
Tapi semakin banyak yang ingin kulakukan, semakin aku sadar bahwa ada pertanyaan yang lebih penting:
Apakah aku benar-benar ingin membuat konten, atau hanya takut tertinggal?
Karena ternyata, membuat konten memang punya banyak manfaat.
Konten bisa menjadi cara untuk menunjukkan siapa kita, apa yang kita kuasai, dan apa yang kita pikirkan. Ia bisa membuka kesempatan bertemu orang baru, mendapatkan pekerjaan, klien, kolaborasi, bahkan membangun bisnis.
Tapi ada satu hal yang sering kita lupakan.
Konten hanyalah alat. Bukan tujuan.
Kalau seorang fotografer memiliki karya yang bagus, dia tidak harus setiap hari membuat video tentang fotografi.
Kalau seorang konsultan memiliki keahlian yang kuat, dia tidak harus selalu muncul di depan kamera.
Kalau seseorang memang tidak nyaman membagikan hidupnya kepada internet, dia juga tidak harus memaksakan diri hanya karena semua orang sedang melakukannya.
Ada banyak jalan untuk menjadi baik dalam sesuatu.
Bisa lewat karya.
Bisa lewat relasi.
Bisa lewat komunitas.
Bisa lewat tulisan.
Bisa lewat buku.
Bisa lewat percakapan.
Bisa juga lewat pekerjaan yang diam-diam kita kerjakan dengan sangat baik.
Aku kira masalahnya bukan apakah kita harus bikin konten atau tidak.
Masalahnya adalah apakah kita tahu untuk apa kita melakukannya.
Karena kalau tujuan kita jelas, kita tidak akan terlalu sibuk melihat apa yang sedang dilakukan orang lain.
Aku tetap ingin membuat konten. Bukan karena semua orang sedang membuatnya, tapi karena ada cerita yang ingin kusimpan dan mungkin ada sesuatu yang ingin kubagikan.
Aku ingin menulis tentang perjalanan yang pernah kulalui, buku yang kubaca, gunung yang kudaki, pekerjaan yang sedang kupelajari, dan mungkin pemikiran-pemikiran kecil yang suatu hari bisa berguna bagi orang lain.
Tapi aku juga tidak ingin hidup hanya untuk menghasilkan konten.
Ada kehidupan yang harus benar-benar dijalani sebelum diceritakan.
Ada buku yang perlu dibaca tanpa harus direview.
Ada perjalanan yang cukup dinikmati tanpa harus direkam.
Ada percakapan yang tidak perlu diunggah.
Dan ada proses belajar yang mungkin memang lebih baik dilakukan diam-diam.
Jadi, kalau kamu tidak ingin menjadi content creator, tidak apa-apa.
Dan kalau kamu ingin menjadi content creator, juga tidak apa-apa.
Yang penting, jangan sampai kita membuat konten hanya karena takut hidup kita terlihat tidak bergerak.
Bangun sesuatu yang nyata. Jalani hidupmu. Kalau ada yang layak dibagikan, ceritakan.
Karena pada akhirnya, yang membuat seseorang berharga bukan seberapa banyak konten yang ia hasilkan.
Tapi apa yang benar-benar ia lakukan ketika kamera dimatikan.
