Keberanian mengambil aksi kecil setiap hari adalah hal yang terasa begitu mahal di tengah kebiasaan kita yang hobi berencana namun suka menunda.
Selamat sore kalian semua, yang hobinya berencana dan suka menunda aksi nyata. Catatan kali ini akan kamu mulai dengan sebuah kalimat yang entah kapan dan di mana pernah kamu temukan: Menyusun mimpi, membuat rencana, membayangkan masa depan, merancang pendidikan, keuangan, proyek, pekerjaan, karier, dan segala macam harapan itu murah; yang mahal adalah membuat satu aksi kecil setiap harinya. Kamu dan orang-orang yang sedang membaca tulisan ini sejenak mungkin akan mengamini betapa sulitnya menjaga sesuatu yang sudah direncanakan agar benar-benar menjadi tindakan nyata.
Awalnya selalu menyenangkan. Kamu membayangkan kalau suatu hari nanti mimpi itu benar-benar menjadi nyata, membayangkan kehidupan yang akan kamu jalani dan siapa dirimu beberapa tahun ke depan. Bayangan itu seperti dopamin yang menyenangkan, indah untuk diangan-angankan, tetapi begitu berat ketika harus diwujudkan. Rencana saja tidak cukup, memulai saja juga tidak cukup. Kamu harus berani melanjutkan dan menyelesaikannya karena setelah langkah pertama, akan selalu ada rasa malas, bosan, kesalahan, hambatan, distraksi, keraguan, bahkan keputusasaan.
Di situlah sebagian besar mimpi berhenti, bukan karena tidak punya mimpi atau tidak tahu harus berbuat apa, melainkan karena kamu tidak cukup lama bertahan untuk melihatnya menjadi nyata. Masih banyak mimpi dan rencana yang harus dilanjutkan. Mari sama-sama melihat lagi apa saja yang pernah kamu mulai tetapi kemudian berhenti di tengah jalan—hal-hal yang dulu pernah kamu kerjakan dengan penuh semangat, tetapi akhirnya tidak lagi kamu tahu ke mana arahnya.
Dulu, kamu ingin sekali punya catatan pribadi untuk menyimpan pikiran, cerita, keresahan, dan perjalanan yang mungkin bisa sedikit menginspirasi dirimu sendiri atau dibaca orang lain. Kamu suka menulis karena merasa bisa menyembuhkan beberapa hal yang sedang kamu rasakan, seperti berbicara kepada diri sendiri tanpa menuntut orang lain mendengarkan. Sejak mahasiswa, kamu dan teman-temanmu sempat mencoba membangun blog untuk mencari penghasilan dari AdSense, tetapi setelah AdSense datang, semangatnya hilang dan blognya mati di tengah jalan karena kalian hanya semangat di awal.
Selain itu, kamu sering menulis acak atau journaling, tetapi catatanmu berantakan dan tersebar di Facebook, notes HP, buku catatan, laptop, hingga selembar kertas yang akhirnya hilang. Blog pribadi yang pernah kamu buat pun berakhir mangkrak. Namun anehnya, ketika beberapa catatan lama itu tidak sengaja kamu baca kembali, ada perasaan kagum pada tulisan sendiri. Tulisan itu seperti mengingatkanmu pada sosok dirimu dulu yang lebih berani berpikir dan merenung sebelum akhirnya tersesat oleh riuhnya kesibukan, pekerjaan, target, dan kegagalan.
Menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan sebuah proses merekam jejak jiwa yang perlahan membentuk sudut pandangmu terhadap dunia. Setiap ide yang sempat terhenti sebenarnya menyimpan potensi besar untuk kembali kamu hidupkan saat kamu bersedia melangkah tanpa membebankan ekspektasi berlebih. Keberanian untuk merawat konsistensi kecil setiap harinya adalah kunci utama yang akan membedakan antara mimpi yang tinggal kenangan dan karya yang benar-benar mewujud nyata.
Ketika kamu berani mengambil kembali pena atau membuka layar untuk mengetik, kamu sedang memberi ruang bagi pikiranmu untuk bernapas lega di tengah penatnya rutinitas harian. Tidak perlu meremas otak demi menghasilkan sesuatu yang tampak sempurna di mata dunia; keberanianmu untuk menuangkan kejujuran rasa adalah nilai yang paling berharga. Proses ini akan menuntunmu memahami bahwa konsistensi bukanlah tentang lompatan besar yang melelahkan, melainkan langkah-langkah kecil yang terus kamu ulang dengan penuh rasa sadar.
Mungkin menulis adalah salah satu cara untuk pulang. Kamu masih ingin membuat banyak cerita tentang dirimu, orang-orang yang pernah kamu temui, tempat yang kamu kunjungi, dan hal-hal kecil yang berkesan. Kali ini, kamu memberanikan diri untuk kembali memulai tanpa berniat menjadi atau mengejar citra siapa pun. Kamu hanya ingin menjadi diri sendiri dan menyuarakan apa yang ada di kepala.
Kamu tidak berharap banyak dari catatan ini, hanya menulis sepenuhnya untuk dirimu sendiri. Jika tulisan ini memberikan wawasan baru bagi siapa pun yang membaca tentu kamu senang, tetapi jika tidak pun tidak apa-apa karena kamu tidak berniat menjadi penulis, kamu hanya ingin menulis. Jika ada yang punya saran, kritik, atau sudut pandang lain, mereka bisa menuliskannya di kolom komentar agar kamu bisa belajar. Terima kasih sudah membaca; salam buat diri sendiri dan terima kasih sudah berani memulai kembali.
