Kadang aku merasa hidup ini panjang sekali.
Masih banyak yang ingin kulakukan. Masih banyak tempat yang ingin kukunjungi, buku yang ingin kubaca, tulisan yang ingin kuselesaikan, dan mimpi yang ingin kuperjuangkan.
Rasanya masih ada banyak waktu.
Tapi di saat yang sama, hidup juga terasa begitu singkat.
Semakin bertambah usia, semakin aku sadar betapa cepat waktu berjalan. Tahun-tahun yang dulu terasa jauh ternyata sudah lewat begitu saja. Orang-orang yang dulu setiap hari ada di sekitar kita mulai sibuk dengan hidupnya masing-masing. Dan tanpa terasa, kita sudah sampai di usia yang dulu hanya bisa kita bayangkan.
Mungkin itu sebabnya kita sering merasa punya banyak waktu.
Kita menunda meminta maaf. Menunda menghubungi orang tua. Menunda melakukan hal yang sebenarnya ingin kita lakukan. Menunda mengejar mimpi karena merasa masih ada hari esok.
Padahal kita tidak pernah benar-benar tahu berapa banyak hari esok yang masih kita punya.
Memikirkan kematian memang tidak selalu nyaman. Tapi mungkin justru karena itulah kita perlu sesekali mengingatnya.
Bukan untuk membuat hidup terasa menakutkan, tetapi agar kita tidak terlalu sibuk mengejar sesuatu yang pada akhirnya harus kita tinggalkan.
Uang penting. Karier penting. Mimpi juga penting.
Tapi ada hal-hal lain yang mungkin lebih penting: orang-orang yang kita cintai, waktu yang kita habiskan bersama mereka, kebaikan yang pernah kita lakukan, dan bagaimana kita menjalani hari-hari yang diberikan kepada kita.
Mungkin hidup memang panjang jika dilihat dari jumlah tahunnya.
Tapi singkat jika dilihat dari betapa cepat semuanya berlalu.
Karena itu, aku ingin tetap mengejar apa yang kuinginkan tanpa lupa menikmati apa yang sudah kumiliki. Tetap bekerja untuk kehidupan di dunia, tapi tidak lupa bahwa ada kehidupan setelahnya.
Sebab pada akhirnya, mungkin pertanyaan terpenting bukanlah:
βBerapa lama aku hidup?β
Melainkan:
βApa yang kulakukan dengan waktu yang diberikan kepadaku?β
