Kita sering mengira kebahagiaan akan datang setelah memiliki lebih banyak.
Lebih banyak uang. Lebih banyak barang. Rumah yang lebih besar. Pekerjaan yang lebih baik. Rekening yang lebih tebal.
Lalu kita terus berlari.
Satu pencapaian selesai, kita mengejar pencapaian berikutnya. Satu keinginan terpenuhi, muncul keinginan baru. Sampai akhirnya kita lupa bertanya, “Sebenarnya, kapan cukup?”
Mungkin yang kita butuhkan bukan lebih banyak.
Mungkin kita hanya perlu rasa cukup.
Sebab kekayaan tidak selalu membuat hati tenang. Ada orang yang memiliki banyak, tetapi masih merasa kurang. Ada pula yang hidup sederhana, tetapi bisa tidur dengan tenang karena tidak terlalu sibuk membandingkan hidupnya dengan orang lain.
Rasa cukup bukan berarti berhenti berusaha.
Kita tetap boleh punya mimpi. Tetap boleh ingin hidup lebih baik. Tetap boleh mengejar penghasilan, membeli sesuatu yang kita inginkan, atau pergi ke tempat-tempat yang selama ini hanya ada dalam daftar impian.
Tapi jangan sampai semua itu membuat kita lupa menikmati apa yang sudah ada.
Kadang kebahagiaan sesederhana duduk di pagi hari dengan secangkir kopi, mengobrol dengan orang yang kita sayangi, membaca beberapa halaman buku, atau melihat matahari perlahan turun setelah hari yang panjang.
Hal-hal kecil yang dulu kita anggap biasa, ternyata bisa menjadi kemewahan ketika kita belajar mensyukurinya.
Mungkin hidup memang bukan tentang memiliki sebanyak-banyaknya.
Melainkan tentang mampu berkata, “Aku masih ingin lebih, tapi apa yang kupunya hari ini sudah cukup untuk membuatku bersyukur.”
Karena pada akhirnya, kekayaan yang paling sulit ditemukan bukanlah yang tersimpan di rekening.
Melainkan hati yang tidak terus-menerus merasa kekurangan.
Dan mungkin, pagi ini, kita hanya perlu duduk sebentar, menyeruput kopi perlahan, lalu menyadari:
ternyata hidup tidak seburuk yang kita kira.
