Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, terkadang aku merasa kita sedang terjebak dalam perlombaan yang tidak pernah benar-benar selesai. Semua orang seperti berlomba mencapai sesuatu. Karier, penampilan, pencapaian, kehidupan sosial, bahkan kebahagiaan pun seolah punya standar yang harus dikejar.
Standarnya terus berubah.
Hari ini kita merasa sudah cukup, besok muncul sesuatu yang membuat kita merasa tertinggal lagi.
Lalu aku berpikir, sebenarnya kita sedang mengejar apa?
Bukankah pada akhirnya kita hanya manusia biasa?
Mungkin menjadi manusia saja sudah lebih dari cukup.
Hidup sebagai manusia berarti menerima diri sendiri apa adanya. Dengan segala kekurangan dan kelebihan yang kita punya. Tidak perlu memaksakan diri untuk selalu sempurna hanya karena melihat kehidupan orang lain yang tampak begitu baik dari kejauhan.
Kita tidak harus mengikuti semua arus.
Ada kalanya kita perlu berhenti sebentar dan bertanya kepada diri sendiri, “Apakah ini benar-benar yang aku inginkan, atau aku hanya sedang mengikuti apa yang dilakukan orang lain?”
Sebab terkadang, justru dalam kehidupan yang sederhana, kita menemukan sesuatu yang selama ini kita cari.
Secangkir kopi di pagi hari. Obrolan panjang dengan seseorang. Pulang ke rumah setelah hari yang melelahkan. Jalan-jalan tanpa tujuan. Membaca buku. Duduk sendirian. Atau sekadar punya waktu untuk memandangi langit tanpa harus merasa bersalah karena tidak sedang melakukan sesuatu yang besar.
Hal-hal kecil seperti itu sering kali terlewat ketika kita terlalu sibuk mengejar sesuatu yang lebih besar.
Aku juga sedang belajar untuk tidak terlalu keras kepada diri sendiri.
Gagal ternyata tidak membuat kita menjadi manusia yang gagal. Salah mengambil keputusan juga tidak berarti seluruh perjalanan kita menjadi sia-sia.
Kita hanya sedang belajar.
Mungkin daripada terus-menerus memaki diri sendiri karena belum menjadi seperti yang kita inginkan, sesekali kita perlu duduk dan berkata, “Tidak apa-apa. Kamu sudah berusaha sejauh yang kamu bisa.”
Karena hidup bukan tentang seberapa tinggi kita bisa melompat atau seberapa cepat kita bisa berlari.
Mungkin hidup hanya tentang berjalan.
Pelan-pelan.
Menikmati pemandangan yang ada di sekitar, menerima bahwa tidak semua hal harus segera dicapai, dan menyadari bahwa setiap hari yang masih bisa kita jalani sebenarnya adalah sebuah keberuntungan.
Aku tidak ingin hidup dengan terus merasa kurang.
Aku ingin hidup sebagai manusia biasa. Dengan segala kekacauan, kegagalan, kebahagiaan, kesedihan, mimpi, dan keterbatasanku.
Tidak harus luar biasa setiap hari.
Tidak harus selalu produktif.
Tidak harus selalu menang.
Cukup menjadi manusia yang masih mau belajar, masih mau mencoba, dan masih bisa bersyukur atas apa yang dimiliki.
Sebab mungkin, menjadi manusia biasa adalah salah satu anugerah paling luar biasa yang sering kita lupakan.
8 September 2024
