Sore tadi, sepulang kerja. Mungkin sedikit lelah, tapi tidak selelah kemarin. Badan rasanya ingin segera rebahan, tapi pikiranku masih stuck pada blog ini yang ingin segera kurilis. Entah kenapa, beberapa hari terakhir kepalaku penuh dengan urusan blog. Layout yang belum selesai, tulisan yang masih berserakan, dan berbagai hal kecil yang sebenarnya bisa dikerjakan satu per satu, tapi entah kenapa kalau sudah dipikirkan bersamaan malah terasa seperti semuanya harus selesai malam ini.
Begitu sampai kamar, kopi semalam yang sudah dingin masih kuminum sampai saat itu. Laptop kunyalakan, sound dan monitor ikut menyala. Lampu LED RGB menambah sedikit warna di kamar. Gorden kubuka, cahaya matahari masih tersisa meskipun senja sore ini tidak begitu menawan. Sedikit mendung. Dari balik jendela kaca yang dikasih teralis besi, kendaraan lalu lalang seperti biasa. Kota tetap sibuk, sementara aku memilih berhenti sebentar.
Setelah laptop menyala, aku memutuskan untuk tidak membuka blog yang masih acakadul itu. Takutnya malah tambah pusing.
Satu satunya yang kubuka adalah YouTube yang sudah kupasang ekstensi bebas iklan. Lagu pertama yang kuputar tentu saja Sweet Disposition dari The Temper Trap. Sudah dua hari ini di kantor aku menggunakan headset full dengan mode loop, hanya satu playlist ini yang terus berputar. Entah kenapa enak saja didengarkan. Aransemen musiknya punya sesuatu yang membuatku betah.
Mungkin gara gara beberapa hari lalu aku rewatch 500 Days of Summer. Sejak itu lagu ini terus terngiang di kepala.
Kemudian lanjut Rewrite the Stars, Yellow, Pesisir dari Hindia, lalu Daylight dari Maroon 5. Tapi yang terakhir ini cuma sekilas. Terlalu menye menye untuk dijadikan musik menaikkan saraf yang justru sedang butuh chill sendiri di kamar.
Kemudian aku teringat satu lagu lama yang dulu juga sering sekali kuputar, The Spirit Carries On dari Dream Theater.
Aku nyanyi keras keras sendirian di kamar.
Mungkin teman kos mendengar suara merduku itu. Tapi aku tidak terlalu peduli. Aku memang suka chill, nyanyi sendiri di kamar. Kadang sebelum berangkat kerja, kadang sepulang kerja. Just vibing, doing my own thing.
Dan semakin ke sini aku sadar, sendiri ternyata semenyenangkan itu.
Bukan berarti aku tidak membutuhkan orang lain. Bukan juga berarti aku ingin hidup sendirian selamanya. Hanya saja, aku mulai memahami bahwa kita harus bisa merasa nyaman dengan diri sendiri sebelum berharap orang lain membuat hidup kita terasa lengkap.
Kalau nanti kamu punya pasangan, pastikan hidupmu sudah jauh lebih menyenangkan sebelum dia datang. Jangan menjadikan pasangan sebagai satu satunya alasan untuk merasa bahagia.
Karena ternyata kamar yang sederhana, kopi yang sudah dingin, musik yang keras, dan waktu sendirian juga bisa menjadi sesuatu yang sangat berharga.
Lalu aku membaca kembali lirik The Spirit Carries On. Ada bagian yang kurang lebih bercerita tentang bagaimana mungkin kita tidak akan pernah menemukan seluruh jawaban, tidak selalu memahami alasan dari segala sesuatu yang terjadi, bahkan mungkin tidak mampu membuktikan semua yang kita yakini. Tetapi satu hal yang tetap harus dilakukan adalah mencoba.
Dan bagian lainnya terasa seperti perjalanan seseorang yang perlahan berdamai dengan rasa takut, rasa sakit dan pikirannya sendiri, sampai akhirnya menemukan kembali makna hidup.
Aku merasa seperti sedang membaca diriku sendiri.
Banyak sekali hal yang aku pertanyakan.
Tentang hidup.
Tentang pekerjaan.
Tentang masa depan.
Tentang keputusan yang pernah kubuat.
Tentang kenapa aku berada di titik ini.
Tentang apa sebenarnya yang ingin aku kejar.
Dan mungkin sampai kapanpun aku tidak akan menemukan semua jawabannya.
Tapi mungkin memang bukan semua pertanyaan harus punya jawaban.
Kadang justru karena kita terus bertanya, kita akhirnya menemukan siapa diri kita.
Aku sering takut. Bahkan mungkin lebih sering daripada yang terlihat. Tapi toh aku tetap berjalan. Pelan pelan. Kadang sendirian. Kadang bingung. Kadang tidak tahu harus menuju ke mana.
Tapi tetap maju.
Lalu playlist berganti lagi. Oasis. Avenged Sevenfold dengan So Far Away dan Seize the Day. Country Roads. My Chemical Romance dengan Disenchanted dan The Black Parade. Vance Joy dengan Riptide. Banyak yang hanya kudengarkan sekilas, paling sampai bagian reff, lalu kulewati.
Sampai akhirnya sore itu kututup dengan satu lagu dari Avicii, The Nights.
Entah kenapa lagu ini selalu terasa berbeda.
Ada sesuatu dari lagu itu yang seperti sedang menamparku berkali kali.
Tentang bagaimana kita pernah berhadapan dengan ketakutan, belajar dari air mata, kemudian membawa pulang kenangan yang mungkin tidak akan pernah hilang. Tentang keberanian untuk pergi lebih jauh, menjelajahi hidup, dan tidak menyia nyiakan kehidupan yang kita punya.
Dan kemudian ada satu gagasan besar yang terus menempel di kepalaku.
Suatu hari nanti kita akan meninggalkan dunia ini.
Jadi, hiduplah dengan kehidupan yang layak untuk dikenang.
Sederhana, tapi menampar.
Karena selama ini mungkin kita terlalu takut untuk melakukan banyak hal. Takut gagal. Takut salah. Takut dianggap aneh. Takut tidak diterima. Takut kehilangan. Takut mengambil jalan yang berbeda.
Padahal waktu terus berjalan.
Dan suatu saat nanti, kita semua akan sampai pada akhir yang sama.
Mati.
Jadi mungkin memang tidak ada alasan untuk menjalani hidup hanya berdasarkan ketakutan.
Kalau ingin menulis, ya menulislah.
Kalau ingin pergi, ya pergilah.
Kalau ingin belajar sesuatu, belajarlah.
Kalau ingin membuat sesuatu, buatlah.
Kalau ingin berkelana, berkelanalah.
Tidak harus menunggu semuanya sempurna.
Tidak harus menunggu punya banyak uang.
Tidak harus menunggu semua orang mendukung.
Tidak harus menunggu hidup menjadi mudah.
Karena mungkin hidup memang tidak pernah benar benar mudah.
Yang bisa kita lakukan hanyalah menjalaninya sebaik mungkin.
Aku tidak tahu sudah sejauh apa perjalanan ini. Tapi ketika melihat ke belakang, ternyata aku sudah berjalan cukup jauh. Pernah takut, pernah gagal, pernah kehilangan arah, pernah berhenti, lalu mencoba berjalan lagi.
Maybe I’m still figuring things out.
Dan mungkin memang tidak apa apa.
Aku tidak harus mengetahui seluruh jawaban hari ini. Yang penting aku masih mau mencoba. Masih mau berjalan. Masih mau membuat sesuatu. Masih mau pergi melihat dunia. Masih mau menulis. Masih mau bercerita.
Sore ini aku kembali diingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang bertahan sampai besok.
Tetapi tentang bagaimana kita ingin mengingat hari hari yang sudah kita lewati ketika suatu saat nanti kita menoleh ke belakang.
Apakah kita pernah benar benar hidup?
Atau hanya pernah ada?
Mungkin itu sebabnya aku ingin terus membuat catatan kecil seperti ini. Menyimpan potongan potongan kehidupan yang mungkin hari ini terasa biasa saja, tetapi suatu hari nanti bisa menjadi bagian dari sejarah hidupku.
Kopi dingin.
Kamar sederhana.
Lampu RGB.
Laptop yang belum selesai digunakan untuk mengurus blog.
Lagu lagu lama.
Suara kendaraan dari balik jendela.
Dan seorang manusia yang masih mencoba memahami hidupnya sendiri.
Mungkin tidak banyak yang istimewa.
Tapi bukankah kehidupan memang tersusun dari hal hal kecil seperti ini?
Dan sebelum malam benar benar selesai, aku ingin menutup catatan ini dengan satu kutipan yang sering dikaitkan dengan Mark Twain:
“Kebanyakan orang mati pada usia 27 tahun, tetapi baru dikubur pada usia 72 tahun.”
Entah benar atau tidak siapa yang pertama mengatakannya, tapi maknanya cukup untuk membuatku berpikir.
Jangan mati sebelum benar benar mati.
Jangan biarkan ketakutan, rutinitas, pekerjaan, pendapat orang lain dan kehidupan yang terlalu nyaman membunuh rasa ingin tahu kita.
Pergilah sejauh yang kamu bisa.
Cobalah sebanyak yang kamu mampu.
Buatlah sesuatu.
Cintai hidupmu.
Dan kalau suatu hari nanti kita harus meninggalkan dunia ini, semoga setidaknya kita bisa berkata kepada diri sendiri:
I lived a life worth remembering.
