Kali ini aku balik lagi ke Jambuluwuk Resort di Batu. Ternyata, selain menawarkan udara dingin dan pemandangan pegunungan, resort ini juga punya wahana flying fox.
Aku sebenarnya suka kegiatan yang sedikit ekstrem. Tapi biasanya ekstrem versiku masih yang aman-aman saja, seperti hiking dan naik gunung. Nah, kali ini aku mencoba sesuatu yang berbeda.
Jalur start flying fox ini berada di samping restoran. Awalnya temanku bilang mau ikut. Tapi entah bagaimana ceritanya, ketika aku sudah siap, dia malah tidur pulas.
Ya sudah.
Aku ganti baju, mengambil kamera, lalu iseng foto-foto sebentar sebelum naik. Sendirian sebenarnya sudah biasa buatku. Tidak masalah.
Tapi begitu sampai di atas dan siap meluncur, baru terasa bahwa keberanian yang tadi kubawa ternyata tidak sebanyak yang kubayangkan.
Kaki mulai gemetar.
โWah, ternyata nggak sesantai ini.โ
Begitu tubuh mulai meluncur, gravitasi menarikku tanpa banyak kompromi. Aku terbang, melayang, sedikit panik, lalu perlahan mulai menikmati semuanya.
Kakiku gemetar bukan karena lemah, tetapi karena tubuhku sedang bernegosiasi dengan rasa takut.
Dan entah kenapa, aku jadi teringat cinta pertama yang pernah menyakitkan.
Mencintai seseorang yang tidak mencintai kita ternyata agak mirip dengan naik flying fox. Kita tahu ada kemungkinan terluka, tetapi tetap saja memilih melompat.
Jarak 200 meter di depanku terasa panjang. Tapi setelah beberapa detik, aku mulai berhenti berpikir.
Aku tertawa.
Lalu berteriak.
Ternyata tidak semenakutkan yang kubayangkan.
Mungkin hidup memang seperti itu. Kita sering takut melangkah karena terlalu sibuk membayangkan apa yang mungkin terjadi setelahnya. Padahal, kadang kita hanya perlu melompat dulu.
Di tengah perjalanan, mungkin akan ada tawa kecil yang mengingatkan:
Hei, kau masih hidup.
Ketika akhirnya kakiku menyentuh tanah, gemetarnya belum benar-benar hilang. Tapi ada rasa lega sekaligus bangga.
โLihat, kau berhasil.โ
Aku tertawa kecil. Setengah lega, setengah menertawakan diriku sendiri yang tadi begitu banyak berpikir sebelum meluncur.
Mungkin setelah ini aku akan mencoba pengalaman lain. Bungee jumping? Paralayang? Entahlah. Siapa tahu.
Tapi setidaknya hari itu aku belajar sesuatu yang sederhana:
Keberanian bukan berarti tidak takut.
Kadang keberanian hanya berarti tetap melangkah meskipun kaki masih gemetar.
Dan kalau harus memilih, aku lebih suka jatuh dari ketinggian flying fox daripada jatuh cinta kepada seseorang yang tidak membalas perasaanku.
Setidaknya flying fox punya akhir yang jelas.
Kita meluncur, gemetar, berteriak, lalu sampai di tanah.
Sedangkan cinta sepihak?
Ah, itu seperti meluncur tanpa tahu kapan akhirnya bisa menyentuh tanah.
