Aku ingin merajut hidup ini dengan benang-benang sederhana, menjadikannya kain tipis yang lembut, namun penuh makna. Aku ingin meromantisasi setiap helaiannya, mengikat kenangan dan mimpi di antara simpul-simpul waktu yang terus berjalan tanpa pernah menunggu.
Di dunia yang sering kali terlalu bising dan menyesakkan, aku ingin menjadi seorang pengembara yang meniti jalan-jalan sunyi. Mengunjungi kota-kota kecil yang belum terlalu akrab dengan hiruk-pikuk modernitas. Menemukan tempat-tempat yang mungkin tidak masuk dalam daftar perjalanan kebanyakan orang, tetapi menyimpan cerita yang barangkali akan tinggal lama di kepalaku.
Bayangkan aku berada di sebuah kota yang hampir terlupakan. Angin membawa wangi bunga yang tertinggal di tepi jalan. Matahari perlahan tenggelam, membiarkan langit berubah menjadi merah saga. Di sebuah kafe kecil yang remang-remang, aku duduk dengan secangkir kopi dan beberapa lembar kertas.
Lalu aku menulis.
Menulis dengan begitu liar, membiarkan jemariku menari tanpa terlalu peduli pada aturan dan norma. Kata-kata tumbuh seperti ilalang di padang yang tak terurus. Tidak rapi, tidak selalu indah, tetapi hidup. Dan mungkin, justru dalam ketidakteraturan itulah aku menemukan sesuatu yang benar-benar menjadi milikku.
Aku ingin menangkap momen-momen kecil yang sering terlewatkan oleh mata yang terlalu terbiasa dengan rutinitas. Senyum seorang pedagang di pagi hari. Cahaya matahari yang jatuh di sela-sela jendela. Anak-anak yang berlarian di gang sempit. Seorang lelaki tua yang duduk sendirian menikmati kopinya.
Aku ingin membingkai semuanya melalui kamera, seperti memungut butir-butir mutiara yang tercecer di sepanjang perjalanan.
Setiap foto akan menjadi saksi bisu. Setiap tulisan menjadi catatan. Dan setiap perjalanan menjadi bagian dari romansa yang perlahan kubangun dengan hidupku sendiri.
Aku tidak ingin hidup dalam kemewahan atau kebesaran yang harus dipertontonkan kepada dunia. Aku hanya ingin hidup dalam keindahan-keindahan kecil yang sering kali tidak memiliki nama. Dalam percakapan panjang ditemani kopi. Dalam perjalanan tanpa tujuan yang terlalu jelas. Dalam buku yang dibaca perlahan. Dalam foto yang diambil hanya karena aku menyukai apa yang kulihat.
Seperti angin yang berembus lembut di pagi hari, membelai dedaunan tanpa suara, aku ingin hidup mengalir dengan tenang, tetapi tetap meninggalkan makna.
Mungkin kebahagiaan memang tidak selalu datang dalam bentuk sesuatu yang besar. Barangkali ia bersembunyi di antara hal-hal sederhana yang sering kita lewatkan karena terlalu sibuk mengejar sesuatu yang lebih besar.
Dan jika suatu hari nanti aku menoleh ke belakang, aku ingin melihat bahwa aku pernah hidup dengan cara yang benar-benar aku sukai.
Menjadi pengembara yang meromantisasi setiap langkahnya. Menjadi penulis yang mengabadikan pikirannya. Menjadi fotografer yang menyimpan cahaya-cahaya kecil dari perjalanan.
Tidak harus megah.
Cukup sederhana, tetapi terasa.
12 September 2024
