Kamu terbangun pada suatu pagi dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Menuju usia 30, angka itu terasa seperti tamparan kecil yang cukup keras untuk membuatmu berhenti sejenak.
Orang bilang, usia 30 adalah fase penting. Karier seharusnya mulai mapan, impian mulai tercapai, dan pernikahan? Bukankah itu hanya soal waktu?
Kamu termenung.
“Sudahkah aku sesuai dengan ekspektasi?”
Pertanyaan itu muncul setiap kali melihat orang-orang seusiamu yang tampak sudah menemukan jalannya masing-masing. Ada yang menikah, punya anak, membeli rumah, membangun karier, atau pergi jauh mengejar impian.
Sementara kamu masih di sini.
Masih mencoba memahami apa yang sebenarnya ingin kamu kejar.
Dulu, ketika masih 20-an, dunia terasa seperti halaman kosong. Kamu bisa menjadi siapa saja. Pindah kota, membangun karier, menulis buku, membuat film, bepergian ke banyak tempat, atau sekadar hidup dengan cara yang kamu inginkan.
Tapi semakin bertambah usia, kamu mulai sadar bahwa tidak semua mimpi berjalan sesuai rencana.
Beberapa masih menjadi mimpi. Beberapa berubah bentuk. Dan beberapa mungkin memang harus dilepaskan.
“Kapan terakhir kali aku benar-benar mengejar sesuatu yang kuinginkan?”
Kamu pun mulai bertanya tentang karier. Bukankah selama ini kamu bekerja keras karena ingin sampai di suatu tempat? Tapi ketika sampai, kenapa rasanya masih ada sesuatu yang kurang?
Mungkin karena sejak awal kamu terlalu sibuk mengejar apa yang dianggap berhasil oleh orang lain.
Di media sosial, hidup orang lain terlihat begitu sempurna. Karier mereka berjalan, hubungan mereka bahagia, perjalanan mereka jauh, pencapaian mereka bertambah.
Kamu lupa bahwa yang kamu lihat hanyalah potongan kecil dari hidup mereka.
Bisa jadi, di balik layar itu, mereka juga sedang bertanya hal yang sama:
“Apakah aku sudah cukup?”
Lalu ada orang tua.
Pertanyaan tentang pernikahan mulai terdengar lebih sering. “Kapan nikah?” kemudian berubah menjadi, “Kapan kasih cucu?”
Kamu tahu mereka hanya ingin melihatmu bahagia. Kamu juga ingin membahagiakan mereka. Tapi terkadang, keinginan mereka dan jalan hidupmu tidak selalu bertemu di tempat yang sama.
Kamu mencintai mereka.
Namun hidupmu tetap milikmu.
Dan mungkin, itulah salah satu hal tersulit yang harus dipahami ketika beranjak dewasa: mencintai orang tua bukan berarti harus menjalani seluruh hidup berdasarkan ekspektasi mereka.
Begitu juga dengan dunia.
Ada begitu banyak standar tentang bagaimana seharusnya seseorang menjalani hidup setelah usia 30. Harus stabil. Harus sukses. Harus menikah. Harus punya rumah. Harus punya tabungan. Seolah hidup memiliki checklist yang harus selesai sebelum angka tertentu datang.
Padahal hidup bukan perlombaan.
Ada orang yang menemukan cintanya di usia 25. Ada yang di 35. Ada yang memilih sendiri. Ada yang baru menemukan kariernya setelah berkali-kali berpindah jalan. Ada pula yang sampai usia 30 masih mencoba memahami dirinya sendiri.
Dan tidak ada yang salah dengan itu.
Mungkin selama ini kamu terlalu sibuk menghitung apa yang belum tercapai, sampai lupa melihat apa saja yang sudah berhasil kamu lewati.
Usia 30 bukan garis akhir.
Ia hanya satu persimpangan kecil dalam perjalanan yang masih panjang.
Impian boleh berubah. Karier boleh berbelok. Pernikahan boleh datang nanti. Dan hidup tidak harus terlihat sempurna hanya karena usiamu bertambah.
Mungkin yang perlu kamu lakukan bukan mengejar hidup seperti milik orang lain.
Cukup berjalan.
Pelan-pelan, dengan jalanmu sendiri.
Sebab pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa cepat kamu sampai.
Tapi tentang apakah kamu masih mengenali dirimu ketika akhirnya tiba.
