Mencoba Flying Fox Jambu Luwuk jadi pengalaman seru saat kamu balik lagi ke Jambuluwuk Resort di Batu. Ternyata, selain menawarkan udara dingin dan pemandangan pegunungan, resort ini juga punya wahana yang siap memacu adrenalin.
Kamu sebenarnya suka kegiatan yang sedikit ekstrem. Tapi biasanya ekstrem versimu masih yang aman-aman saja, seperti hiking atau naik gunung. Nah, kali ini kamu mencoba sesuatu yang berbeda. Aktivitas baru yang benar-benar menguji batas keberanianmu di tengah lanskap alam yang memukau.
Jalur start flying fox ini berada di samping restoran. Awalnya temanmu bilang mau ikut. Tapi entah bagaimana ceritanya, ketika kamu sudah siap dengan semangat yang membara, dia malah tidur pulas di dalam kamar.
Ya sudah.
Kamu ganti baju, mengambil kamera, lalu iseng foto-foto sebentar sebelum naik. Sendirian sebenarnya sudah biasa buatmu. Tidak masalah sama sekali. Kamu sudah terbiasa menikmati momen-momen personal tanpa harus bergantung pada kehadiran orang lain.
Tapi begitu sampai di atas platform dan siap meluncur, baru terasa bahwa keberanian yang tadi kamu bawa ternyata tidak sebanyak yang kamu bayangkan. Angin dingin pegunungan yang berembus makin menambah rasa tegang di dalam dadamu.
Kaki mulai gemetar hebat.
“Wah, ternyata nggak sesantai ini.”
Begitu tubuh mulai meluncur, gravitasi menarikmu tanpa banyak kompromi. Kamu terbang, melayang tinggi di udara, sedikit panik menyaksikan daratan yang kian menjauh di bawah sana, lalu perlahan mulai menikmati setiap detik embusan angin yang menerpa wajahmu.
Kakimu gemetar bukan karena kamu lemah, tetapi karena tubuhmu sedang bernegosiasi dengan rasa takut yang alami. Rasa takut yang mengajarkanmu arti penting dari sebuah keberanian sejati.
Dan entah kenapa, di tengah bentangan tali kabel itu, kamu jadi teringat cinta pertama yang pernah menyakitkan di masa lalu.
Mencintai seseorang yang tidak mencintaimu ternyata agak mirip dengan naik flying fox. Kamu tahu ada kemungkinan terluka dan patah hati, tetapi tetap saja kamu memilih melompat demi merasakan sensasi indahnya.
Jarak 200 meter di depanmu terasa begitu panjang dan menantang. Tapi setelah beberapa detik berlalu, kamu mulai berhenti berpikir berlebihan. Kamu memilih untuk pasrah pada alur perjalanan.
Kamu tertawa.
Lalu berteriak melepaskan seluruh beban yang ada.
Ternyata tidak semenakutkan yang kamu bayangkan sejak awal.
Mungkin hidup memang seperti itu. Kamu sering takut melangkah ke depan karena terlalu sibuk membayangkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi setelahnya. Padahal, kadang kamu hanya perlu melompat dulu dan membiarkan semesta menuntun langkahmu.
Di tengah perjalanan yang memacu adrenalin itu, mungkin akan ada tawa kecil yang hadir untuk menyadarkan dan mengingatkanmu:
Hei, kamu masih hidup.
Ketika akhirnya kakimu kembali menyentuh tanah landasan, gemetarnya belum benar-benar hilang dari lututmu. Tapi ada rasa lega yang membuncah sekaligus rasa bangga yang luar biasa di dalam dada.
“Lihat, sudah selesai. Cuma gitu aja kan.”
Kamu tertawa kecil. Setengah lega karena telah mendarat dengan selamat, setengah lagi menertawakan dirimu sendiri yang tadi begitu banyak berpikir panjang sebelum akhirnya memberanikan diri untuk meluncur.
Mungkin setelah ini kamu akan berani mencoba pengalaman ekstrem lain yang lebih menantang. Bungee jumping? Paralayang? Entahlah. Siapa tahu ada petualangan baru yang sudah menunggumu di depan sana.
Tapi setidaknya hari itu kamu berhasil belajar sesuatu yang sangat sederhana:
Berani itu bukan berarti kamu tidak merasa takut sama sekali.
Kadang keberanian hanya berarti kamu tetap memilih untuk melangkah ke depan meskipun kakimu masih gemetar hebat.
Dan kalau harus memilih kembali, kamu tentu lebih suka jatuh dari ketinggian flying fox daripada jatuh cinta kepada seseorang yang sama sekali tidak membalas perasanmu yang tulus.
Setidaknya flying fox punya akhir yang pasti dan jelas.
Kamu meluncur, gemetar, berteriak sepuasnya, lalu akhirnya mendarat dengan aman di tanah.
Sedangkan cinta sepihak?
Ah, itu seperti meluncur di udara hampa tanpa pernah tahu kapan akhirnya kamu bisa kembali menyentuh tanah.
