Kamu ingin meromantisasi hidup dan merajut ceritamu dengan benang-benang sederhana, menjadikannya kain tipis yang lembut, namun penuh makna. Kamu ingin meromantisasi setiap helaiannya, mengikat kenangan dan mimpi di antara simpul-simpul waktu yang terus berjalan tanpa pernah menunggu. Kamu tahu betul bahwa detik-detik yang berlalu tidak akan pernah memutar arah, dan setiap embusan napas adalah kesempatan yang sayang jika dilewatkan begitu saja tanpa sebuah penanda.
Di dunia yang sering kali terlalu bising dan menyesakkan, kamu ingin menjadi seorang pengembara yang meniti jalan-jalan sunyi. Mengunjungi kota-kota kecil yang belum terlalu akrab dengan hiruk-pikuk kesibukan, ambisi, dan tuntutan yang datang tanpa permisi. Menemukan tempat-tempat yang mungkin tidak masuk dalam daftar perjalanan kebanyakan orang, tetapi menyimpan cerita yang barangkali akan tinggal lama di kepala dan hatimu itu. Kamu merindukan ruang untuk bernapas lega, jauh dari deru mesin dan riuh percakapan orang-orang yang senantiasa terburu-buru mengejar sesuatu yang tak pasti.
Bayangkan kamu berada di sebuah kota yang hampir semua orang namanya saja tidak pernah sempat mereka pikirkan. Sebuah titik terpencil di peta yang tenang dan bersahaja. Angin membawa wangi bunga yang tertinggal di tepi jalan, bercampur dengan aroma tanah basah seusai gerimis tipis. Matahari perlahan tenggelam, membiarkan langit berubah menjadi merah saga, memancarkan kehangatan terakhir sebelum malam benar-benar mengambil alih. Di sebuah warung kecil yang remang-remang di sudut jalan, kamu duduk dengan secangkir kopi hangat dan beberapa lembar kertas lusuh yang siap menampung tumpahan pikiranmu.
Lalu kamu menulis.
Menulis dengan begitu liar, membiarkan jemarimu menari tanpa terlalu peduli pada aturan dan norma grammar atau estetika yang kaku. Kata-kata tumbuh seperti ilalang di padang yang tak terurus. Tidak rapi, tidak selalu indah, tetapi hidup dan jujur dari dasar jiwamu. Dan mungkin, justru dalam ketidakteraturan itulah kamu menemukan sesuatu yang benar-benar menjadi milikmu—sebuah kejujuran yang tak perlu dibuktikan kepada siapa pun.
Kamu ingin menangkap momen-momen kecil yang sering terlewatkan oleh mata yang terlalu terbiasa dengan rutinitas harian yang membosankan. Senyum tulus seorang pedagang di pagi hari saat menyapa pelanggan pertamanya. Cahaya matahari hangat yang jatuh menembus sela-sela jendela kayu tua. Anak-anak yang berlarian dengan kaki telanjang di gang sempit tanpa beban. Seorang lelaki tua yang duduk sendirian menikmati kopinya sambil menatap jauh ke luar jalanan.
Kamu ingin membingkai semuanya melalui kamera, seperti memungut butir-butir mutiara yang tercecer di sepanjang perjalanan hidup. Setiap sudut pandang yang kauabadikan menyimpan emosi dan kisah tersendiri yang tak terucapkan.
Setiap foto akan menjadi saksi bisu dari waktu yang pernah kausinggahi. Setiap tulisan menjadi catatan kejujuran hatimu. Dan setiap perjalanan menjadi bagian dari romansa yang perlahan kamu bangun dengan hidupmu sendiri.
Kamu tidak ingin hidup dalam kemewahan atau kebesaran yang harus dipertontonkan kepada dunia hanya demi validasi orang lain. Kamu hanya ingin hidup dalam keindahan-keindahan kecil yang sering kali tidak memiliki nama. Dalam percakapan panjang ditemani kopi yang makin mendingin. Dalam perjalanan tanpa tujuan pasti, menyerahkan diri pada ke mana pun langkah membawamu. Dalam tokoh novel yang menjadi favoritmu, tenggelam dalam dunia fiksyen yang memberi kedamaian. Dalam foto yang diambil hanya karena kamu menyukai apa yang kaulihat, bukan karena ingin dipuji.
Seperti angin yang berembus lembut di pagi hari, membelai dedaunan tanpa suara, kamu ingin hidup mengalir dengan tenangnya, tanpa distraksi yang melelahkan. Hidupmu tetap bermakna, meskipun jalannya pelan, perlahan, dan konstan. Kamu percaya bahwa langkah kecil yang konsisten jauh lebih berharga daripada lompatan terburu-buru yang menyiksanya jiwa.
Barangkali, kebahagiaan memang tidak selalu datang dalam bentuk sesuatu yang besar, megah, atau penuh sorak-sorai. Barangkali ia bersembunyi di antara hal-hal sederhana yang sering kamu lewatkan karena terlalu sibuk mengejar sesuatu yang selalu berada di luar kendalimu. Kamu mulai menyadari bahwa kedamaian sejati ada pada keberanian untuk merangkul apa yang ada di depan mata.
Dan jika suatu hari nanti kamu menoleh ke belakang, di penghujung usia ketika rambutmu mulai memutih, kamu ingin melihat bahwa kamu pernah hidup dengan cara yang benar-benar kamu sukai.
Menjadi pengembara yang meromantisasi setiap langkahnya. Menjadi penulis yang mengabadikan pikirannya secara jujur. Menjadi fotografer yang menyimpan cahaya-cahaya kecil dari perjalanannya.
Tidak harus megah.
Cukup sederhana, tetapi terasa mewah.
12 September 2024
