Akhir-akhir ini, hidupmu seperti tertidur dalam gelap, terjebak dalam kenyamanan yang semu dan enggan untuk bergerak. Kamu mulai cari tahu cara keluar dari zona nyaman. Dibungkus kebiasaan yang perlahan-lahan membelenggu tanpa benar-benar kamu sadari.
Terlalu banyak tidur.
Awalnya terasa seperti istirahat. Tapi semakin lama, tidur justru menjadi pelarian. Semangatmu perlahan menghilang, sementara kamar yang dulu menjadi tempat paling bebas justru terasa semakin membuatmu terpenjara.
Dulu, kamar ini adalah oase. Tempat kamu pulang setelah hari yang panjang. Tempat membaca, menulis, mendengarkan musik, memikirkan banyak hal, dan sesekali hanya berbaring tanpa melakukan apa-apa.
Tapi sekarang, kamar yang dulu begitu kamu sukai justru berubah menjadi semacam tempat yang kamu benci.
Setiap sudutnya seperti mengingatkanmu pada waktu yang terbuang. Jam-jam yang hilang karena terlalu banyak tidur, terlalu lama menatap layar, terlalu sering menunda, dan terlalu nyaman untuk sekadar keluar dan melakukan sesuatu.
Kamu benci perasaan itu.
Beberapa malam terakhir kamu justru terjaga tanpa bisa memejamkan mata. Lalu ketika siang datang, rasa kantuk muncul tanpa mengenal waktu. Siklusnya berantakan.
Malam kamu tidak tidur.
Siang tidur.
Bangun sore dengan perasaan bersalah.
Lalu malam kembali datang dan semuanya terulang.
Kamu tahu ini bukan solusi. Tapi ketika tidak ada kegiatan, tidur menjadi pelarian paling mudah. Tidak perlu berpikir. Tidak perlu menghadapi apa-apa. Tinggal memejamkan mata dan membiarkan waktu berjalan.
Masalahnya, hidup juga terus berjalan.
Dan kamu hanya diam di tempat, dengan pikiran riuhmu itu.
Mungkin sudah waktunya kamu keluar dari repetisi ini.
Kamu mulai berpikir untuk mencari tempat-tempat yang bisa mengembalikan ritme hidupmu. Mungkin kampus. Mungkin huta. Mungkin danau. Mungkin toko buku. Akan ada suasana yang berbeda ketika kamu melihat orang-orang sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Ada energi yang membuatmu merasa terdorong untuk ikut bergerak.
Atau coffeeshop. Duduk dengan laptop, ditemani aroma kopi, suara orang-orang yang sedang berdiskusi, lalu mengerjakan sesuatu sampai lupa waktu.
Perpustakaan juga bisa menjadi pilihan. Tempat yang tenang, penuh buku dan pikiran orang-orang yang pernah menuliskan sesuatu sebelum kamu ada.
Bahkan bioskop atau tempat wisata.
Kamu hanya harus keluar.
Melihat dunia.
Mencari sedikit warna yang belakangan ini hilang.
Hidupmu akhir-akhir ini seperti kanvas yang terlalu lama dibiarkan kosong. Tidak benar-benar buruk, tapi juga tidak terasa hidup.
Kamu merindukan dirimu yang dulu.
Dirimu yang bisa tidur di mana saja karena memang lelah setelah melakukan sesuatu. Dirimu yang punya banyak cerita karena terlalu sibuk menjalani hidup, bukan karena terlalu lama berpikir sampai lupa ternyata kamu tidak kemana-mana.
Mungkin kamu merasa nyaman. Tidak ada resiko yang berarti ketika kamu hanya tinggal menyendiri di kamarmu itu.
Dan kenyamanan, kalau terlalu lama dipelihara, ternyata bisa membuatmu terlena.
Kamu butuh kegiatan. Sesuatu yang membuat hari-harimu punya tujuan. Sesuatu yang membuatmu pulang dalam keadaan lelah karena telah melakukan sesuatu, bukan lelah karena tidak melakukan apa-apa.
Kamu tidak tahu apakah keluar dari kamar akan langsung menyelesaikan semuanya.
Mungkin tidak.
Tapi setidaknya, kamu harus mencoba.
Sebab perubahan memang tidak akan datang hanya karena kamu terus memikirkannya.
Harus ada langkah pertama.
Mungkin besok kamu harus membawa laptopmu ke kampus.
Mungkin sekedar duduk di coffeeshop.
Mungkin pergi ke perpustakaan.
Mungkin sekadar berjalan tanpa tujuan.
Yang penting keluar.
Dunia masih luas. Masih banyak tempat yang belum kamu datangi, orang yang belum kamu temui, buku yang belum kamu baca, cerita yang belum kamu tulis, dan pengalaman yang belum sempat kamu jalani.
Kamu tidak ingin terlalu lama menjadi penonton dari hidupmu sendiri.
Kamar itu tetap akan menjadi tempatmu pulang.
Bukan menjadikan tempatmu berhenti.
10 September 2024
