Percayalah, semesta selalu memiliki kejutan indah bagi siapa saja yang mau bersabar dan terus berusaha. Selesai salat Magrib di masjid, kamu mengambil Al-Qur’an dan membaca lembar demi lembar, mencoba menenangkan pikiran yang sejak sore tadi tidak juga selesai dengan dirinya sendiri.
Sebenarnya sederhana. Kamu sedang memikirkan satu mimpi yang ingin benar-benar kamu perjuangkan.
Tapi kemudian muncul pertanyaan yang mengganggu:
“Kenapa sekarang kamu hanya duduk di depan laptop, mengedit seharian, dan paling-paling hanya selesai dua video? Haruskah begini selamanya?”
Kamu mencoba menjawabnya sendiri.
Tidak. Seharusnya tidak.
Kamu masih punya waktu. Masih ada perjalanan panjang yang bisa ditempuh.
Lalu muncul pertanyaan berikutnya.
“Kalau begitu, apakah mimpi itu benar-benar harus diwujudkan?”
Jawabannya jelas: iya.
Tapi dari mana uangnya?
Kamu mulai mencari kemungkinan. Bekerja setahun lagi, menabung, lalu pergi. Tapi usiamu sudah hampir tiga puluh. Waktu terasa semakin cepat, dan kamu takut jika terus menunda, mimpi itu hanya akan tinggal sebagai mimpi. Kamu sadar bahwa bertambahnya angka usia sering kali membawa rasa cemas yang tak tertahankan, membuatmu merasa seolah-olah dikejar oleh waktu yang kian menyempit.
Mungkin kamu bisa membuat channel YouTube. Menjual produk digital. Membuka kelas online. Mencari penghasilan lain yang bisa membiayai perjalanan tanpa harus meninggalkan apa yang sedang kamu kerjakan sekarang. Pikiranmu terus berputar mencari celah dan gagasan kreatif demi menciptakan sumber pendapatan baru yang berkelanjutan.
Lalu kamu mulai membayangkan perjalanannya.
Awalnya kamu ingin menggunakan motor. Lebih praktis, bisa masuk ke tempat-tempat yang sulit dijangkau kendaraan umum. Tapi kemudian muncul pikiran lain: bagaimana kalau kamu backpacker saja?
Naik kendaraan umum. Berjalan kaki. Menumpang jika perlu.
Mungkin justru di situlah perjalanan yang akan memberikan kesan mendalam dalam hidupmu.
Bukan sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi merasakan setiap prosesnya. Menunggu kendaraan di terminal, menyeberangi pelabuhan, melewati desa-desa kecil, bertemu orang asing, tersesat, lalu menemukan jalan lagi.
Kamu ingin benar-benar berada di dalam perjalanan itu, bukan hanya sampai di tujuan. Kamu merindukan sensasi menjadi asing di tempat baru dan menyerap setiap pelajaran hidup dari lanskap yang kamu lewati.
Tapi ada satu hal yang kadang membuatmu berhenti dan berpikir.
Tabunganmu dulu sebenarnya cukup banyak. Entah berapa puluh juta yang sudah habis untuk pendidikan. Kadang kamu bertanya, “Apa yang sebenarnya kamu dapat dari semua itu?” Ada rasa sesal yang samar ketika mengingat lembaran uang yang telah bertransformasi menjadi lembar ijazah dan teori.
Tapi kemudian kamu ingat, mungkin tidak semua investasi harus bisa dihitung dengan angka.
Pendidikan mungkin tidak langsung membawamu ke tempat yang kamu inginkan. Tapi setidaknya penidikan memberimu sesuatu untuk dibawa dalam perjalanan. Cara berpikirmu, perspektifmu dalam memandang dunia, serta ketahanan mentalmu adalah buah manis dari pendidikan yang pernah kamu tempuh.
Kamu juga tahu, mungkin orang tuamu tidak akan langsung setuju dengan rencana ini. Dan kamu bisa memahami mereka. Orang tua memang begitu. Ketika anaknya ingin pergi jauh, yang mereka pikirkan bukan tentang petualangannya, tapi tentang kemungkinan buruk yang mungkin terjadi. Mereka mengkhawatirkan keselamatanmu, masa depanmu, dan kenyamanan yang mungkin hilang dari hidupmu.
Namun semakin bertambah usia, semakin kamu sadar bahwa waktu tidak pernah menunggu.
Suatu hari nanti mungkin akan ada keluarga, pekerjaan, dan tanggung jawab yang membuat perjalanan seperti ini semakin sulit dilakukan. Pintu-pintu kesempatan untuk berkelana bebas akan tertutup secara perlahan oleh tuntutan peran dewasa yang baru.
Karena itu, kamu ingin menyelesaikan satu hal dalam dirimu terlebih dahulu.
Kamu ingin tahu rasanya mengejar sesuatu yang benar-benar kamu inginkan.
Bukan karena ingin membuktikan apa-apa kepada orang lain.
Hanya kepada dirimu sendiri.
Jika suatu hari mimpi itu benar-benar tercapai, mungkin kamu akan merasa lega. Setelah itu, jika memang harus kembali bekerja keras sampai tua, tidak apa-apa.
Setidaknya kamu pernah menjalani satu bagian hidup yang benar-benar ingin kamu jalani. Kamu tidak akan dihantui oleh rasa penasaran atau penyesalan atas hal-hal yang tidak pernah kamu coba di masa muda.
Dan mungkin, memang seperti itulah hidup bekerja. Hidup akan selalu punya cara sendiri untuk mengejutkan kita.
Bisa jadi sesuatu yang kamu kira mustahil akan dengan sendiri menemukan jalannya. Bisa juga rencana yang sudah kamu susun berbulan-bulan justru berubah hanya karena satu kejadian kecil.
Kita tidak pernah benar-benar tahu.
Maka untuk sekarang, kamu hanya ingin tetap berusaha.
Menabung. Berkarya. Mencari jalan.
Sambil percaya bahwa di luar semua perhitungan yang sudah kamu buat, masih ada hal-hal yang belum kamu ketahui.
Karena hidup akan selalu memberi kejutan. Maka, siapkanlah dirimu.
24 Januari 2025
