Kamu tak meminta apa-apa lagi untuk dirimu sendiri. Kamu tahu, sudah terlalu banyak permintaan dan tuntutan yang kamu haturkan kepada-Nya.
Seperti pohon yang rela akarnya menembus kerasnya tanah demi tunas-tunas di atasnya, kamu pun begitu. Kamu biarkan dirimu menjadi perisai bagi mereka. Menjadi bayangan yang melindungi mereka dari terik dunia, menopang ketika badai menghampiri, dan memenuhi harapan yang begitu besar yang mereka titipkan kepadamu.
Dalam doa ini, kamu tak memohon sebagai hamba yang mengemis kemuliaan. Kamu hanya seorang anak yang ingin melihat mereka bangga.
Tuhan, jika keberuntungan harus memilih, berikanlah mereka umur sedikit lebih panjang, hingga apa yang selama ini kamu perjuangkan menjadi nyata. Biarlah tanganmu retak memikul beban, asalkan kamu masih bisa melihat senyum mereka merekah karena bangga pada buah hatinya.
Kamu tak peduli jika langkahmu harus tersandung berkali-kali, asalkan jalan mereka tetap rata dan tenang. Jika hidup adalah sungai yang deras, kamu biarkan dirimu menjadi batu di tengah arusnya, menahan derasnya air agar mereka bisa menyeberang dengan tenang.
Bukan untukmu, Tuhan, kamu memohon.
Ketika mereka tertawa, rasanya surga ada begitu dekat. Ketika mereka bahagia, kamu lupa pada kesedihanmu sendiri. Dalam pelukan mereka, dunia yang penuh luka itu tiba-tiba terasa lebih lembut dan berwarna.
Dan jika kamu adalah daun yang harus gugur agar pohon itu tetap berdiri tegak, kamu ikhlas.
Asalkan keluarga itu tetap hidup. Tetap bersama. Kamu tak peduli seberapa kecil dirimu dalam rencana besar-Nya.
Maka, Tuhan, permudahkan jalan mereka. Berikan kekuatan kepada mereka yang lemah, harapan kepada mereka yang lelah, dan rezeki kepada tangan-tangan yang masih kosong.
Jika kesulitan harus datang, biarkan ia menghampirimu lebih dulu.
Kamu bukan siapa-siapa tanpa mereka, Tuhan. Dan karena merekalah kamu masih berani menatap hari-hari di depan.
Jangan biarkan mereka terlalu lama merasakan pahitnya dunia, Tuhan.
Jangan.
Sebab kali ini, doamu bukan untukmu.
Melainkan untuk mereka yang kamu sebut keluargamu.
Di antara sunyinya malam dan desir angin yang berembus pelan, kamu menyandarkan seluruh lelahmu di hadapan Sang Pencipta. Setiap tetes keringat dan kepalan jemarimu yang memar oleh kerasnya takdir adalah bukti nyata dari kasih sayang yang tak bertepi. Kamu sadar betul bahwa menjadi tumpuan keluarga bukanlah beban yang ringan, melainkan sebuah kehormatan mulia yang dengan rela kamu panggul di atas pundakmu. Kamu mengesampingkan segala hasrat dan cita-cita pribadimu, hanya agar ada senyum yang terkembang di wajah-wajah yang paling kamu cintai.
Dunia ini mungkin sering kali bersikap tidak adil kepadamu, memberi ujian yang seolah tiada hentinya, namun melihat mereka bernapas dengan lega sudah cukup untuk memulihkan seluruh rasa sakitmu. Kamu siap menjadi benteng terdepan yang menahan gempuran cobaan hidup, mengorbankan waktu, tenaga, bahkan usiamu sendiri. Di mata orang lain, mungkin kamu terlihat lelah dan penuh luka, tetapi di mata hatimu, selama orang tuamu terlindungi, tiada pengorbanan yang sia-sia.
Kamu terus melangkah dengan keteguhan hati yang luar biasa, menolak untuk menyerah pada keadaan. Setiap doa yang kamu panjatkan adalah napas kehidupan bagi perjuanganmu esok hari. Kamu ingin memastikan bahwa sebelum mata mereka tertutup rapat, mereka telah merasakan indahnya buah dari sabar dan derai air mata yang selama ini mengalir. Rasa cinta yang begitu dalam membuatmu sanggup bertahan di dalam badai yang paling dingin sekalipun.
Semoga semesta mendengar setiap bisikan tulus dari jiwamu yang berani. Semoga setiap peluh yang menetes berubah menjadi keberkahan, dan setiap pengorbanan yang kamu lakukan membuahkan kebahagiaan yang abadi bagi keluargamu.
24 Januari 2025
