Menjadi manusia itu membingungkan, terutama ketika kamu mencoba memahami Dirimu Sendiri di tengah pusaran kehidupan. Kamu harus memahami banyak hal, mulai dari sesuatu yang sederhana sampai hal-hal yang begitu rumit. Terkadang, di tengah kebingungan itu, kamu tersesat dalam sebuah alur yang entah akan bermuara ke mana.
Perjalanan ini terlalu liar. Kamu dihantam dari berbagai sisi oleh pencapaian, keberhasilan, dan seabrek pemikiran tentang definisi kebahagiaan, kesuksesan, kesejahteraan, sampai kesempurnaan. Sering kali kamu lupa bahwa manusia memang tempat segala ketidaksempurnaan itu sendiri. Kebahagiaan selalu punya pasangan bernama kesedihan. Kesuksesan dan kesejahteraan pun menyimpan sisi gelapnya sendiri: penderitaan dan perjuangan.
Di tempat yang sedikit nyaman ini, entahlah, kamu kembali memikirkan banyak hal. Mungkin yang paling membingungkan dari memahami hidup adalah memahami diri sendiri.
Di depan tablet yang kamu beli beberapa bulan lalu, ketika waktu sudah menunjukkan hampir masuk sahur, kamu mulai menuliskan banyak hal yang sejak tadi terasa sesak di dalam kepala.
Dulu. Dulu sekali.
Kamu pernah mengerti bahwa kondisi hari ini adalah sesuatu yang pernah kamu semogakan. Hal-hal yang sekarang terasa biasa, ternyata pernah menjadi doa yang diam-diam kamu titipkan kepada Tuhan.
Maka, kamu bersyukur.
Bersyukur atas segala karunia dan kasih sayang-Nya. Mungkin hidup memang tidak pernah benar-benar sesuai dengan apa yang kamu bayangkan, tetapi selalu ada sesuatu yang bisa kamu syukuri di dalamnya.
Setelah beberapa batang rokok dan seteguk kopi hitam yang sudah mulai dingin, kamu akhirnya menuangkan semuanya ke dalam tulisan ini.
Dan ya, mungkin memang inilah tujuan awal kamu membuat blog yang sedang dibaca orang-orang.
Bukan karena kamu ingin terkenal. Bukan karena kamu ingin dianggap hebat. Bukan pula karena kamu berharap tulisan-tulisan ini mengubah siapa pun.
Tulisan ini cukup untuk dirimu sendiri.
Sebuah tempat untuk menyimpan pikiran-pikiran yang mungkin akan hilang jika tidak dituliskan. Catatan-catatan kecil yang akan terus mengalir, menemani setiap peluh, setiap keraguan, setiap kegagalan, dan setiap langkah kecil yang mencoba bertahan demi mimpi-mimpi yang pernah kamu semogakan.
Proses mengenali dan menerima keunikan batinmu adalah fondasi utama dalam membangun ketahanan mental. Di saat dunia luar sibuk mematok standar tentang bagaimana seharusnya kamu bersikap dan bertindak, keberanian untuk jujur pada perasaan sendiri adalah sebuah pencapaian yang teramat berharga. Kamu belajar bahwa ketenangan sejati tidak didapatkan dari riuh tepuk tangan orang lain, melainkan dari kemampuanmu berdamai dengan bayang-bayang dan ketakutanmu sendiri.
Setiap momen refleksi di tengah keheningan malam memberikan kejelasan yang sering kali kabur di siang hari. Saat kamu mengamati setiap jejak langkah yang pernah diambil, kamu menyadari bahwa kegagalan dan kekecewaan di masa lalu bukanlah tanda kelemahan, melainkan batu pijakan yang menempa karaktermu menjadi lebih matang. Kamu tidak perlu lagi terburu-buru membuktikan apa pun kepada siapa pun.
Merawat dialog yang jujur dengan batinmu sendiri akan membantumu menyaring hal-hal yang benar-benar esensial. Kamu mulai belajar memilah mana ekspektasi lingkungan yang patut diabaikan dan mana cita-cita autentik yang layak terus kamu perjuangkan. Keberanian untuk berdiri di atas nilai-nilai pribadi inilah yang membuat setiap helai napas dan usahamu terasa jauh lebih bermakna.
Barangkali suatu hari nanti, ketika kamu lupa siapa dirimu dan sejauh apa kamu sudah berjalan, kamu bisa kembali ke sini.
Membaca semuanya.
Lalu tersenyum dan berkata,
“Oh, ternyata aku pernah sejauh ini.”
8 Juli 2024
