Setelah tiga minggu berturut-turut melakukan hiking, mulai dari Wilis, Kelud, dan terakhir ke Mojokerto, tepatnya Puncak Sarah Klopo yang sedang ramai karena sabananya, akhirnya kamu memberikan waktu dua hari untuk kaki beristirahat. Setelah itu, kamu kembali mulai berlari. Kaki masih sedikit terasa sakit, tetapi ya memang harus sedikit dipaksakan. Bukan berarti harus menyiksa diri, tetapi ada kalanya kamu memang perlu sedikit melawan rasa tidak nyaman. Sebab capek itu pasti, tidak enak juga pasti, tetapi beginilah faktanya: kadang-kadang, hal yang menyakitkan justru yang kamu butuhkan.
Kamu mulai menyadari bahwa ternyata banyak hal yang bisa kamu kerjakan sekaligus, terutama hal-hal yang memang sudah kamu masukkan ke dalam to-do list. Bagi kamu yang suka hiking, lari tentu sangat membantu. Kamu tidak pernah tahu kapan tiba-tiba ada kesempatan untuk trekking lagi, apalagi kalau tujuannya gunung dengan ketinggian di atas 3.000 mdpl. Kaki yang terbiasa diajak bekerja, napas yang mulai terlatih, dan tubuh yang tidak terlalu kaget ketika harus berjalan berjam-jam, semuanya akan sangat berguna ketika waktunya tiba.
Mungkin memang begitu cara terbaik untuk mempersiapkan diri. Tidak menunggu sampai kamu membutuhkan sesuatu, baru kemudian mulai berlatih. Prepare before you need it. Kalau ingin kuat mendaki, ya latih tubuh sebelum pendakian datang. Kalau ingin punya pengetahuan, ya belajar sebelum pengetahuan itu benar-benar dibutuhkan. Kalau ingin menjadi lebih baik dalam sesuatu, ya mulai sekarang, sedikit demi sedikit.
Selain lari, ada satu kegiatan lain yang rasanya tidak boleh kamu tinggalkan, yaitu listening. Podcast menjadi salah satu cara paling murah bagimu untuk terus membuka wawasan. Kadang dalam bahasa Inggris, bahkan lebih sering, tetapi sesekali juga dalam bahasa Indonesia. Yang menyenangkan, mendengarkan podcast bisa dilakukan sambil melakukan banyak hal lain. Sambil lari, sambil perjalanan, sambil beres-beres, atau bahkan sambil menikmati kopi.
Kamu juga suka membaca. Tapi masalahnya, waktu untuk benar-benar duduk dan membaca buku terkadang tidak sebanyak yang kamu inginkan. Jadi belakangan ini kamu sering mencari jalan lain. Salah satunya mendengarkan audiobook di Spotify sambil berkeringat. Two things at once. Tubuh bergerak, pikiran juga tetap berjalan.
Kemarin sore, kamu mendengarkan audiobook No Excuses karya Brian Tracy dan menemukan sebuah kalimat yang cukup menarik. Kurang lebih pesannya seperti ini: kalau kamu memang menginginkan kesuksesan, maka kamu juga harus bersedia membayar harga yang dibutuhkan untuk mendapatkannya. Tenaga, waktu, disiplin, pengetahuan, rasa lelah, bahkan mungkin kurang tidur dan berbagai pengorbanan lainnya.
Tidak ada yang benar-benar gratis.
Kamu sering melihat seseorang yang sudah berada jauh di depan, kemudian berpikir bahwa kamu juga ingin seperti mereka. Kamu bisa mempelajari apa yang mereka lakukan. Kamu bisa membaca buku yang mereka baca, mengikuti kebiasaan mereka, belajar dari pengalaman mereka, bahkan mencoba meniru cara mereka bekerja. If you want the results they have, you have to be willing to do the things they did.
Tapi ada satu bagian yang sering kamu lupakan, yaitu durasi.
Kamu meniru kebiasaan orang sukses selama satu atau dua bulan, kemudian merasa tidak ada perubahan berarti. Setelah itu berhenti. Padahal mungkin bukan caranya yang salah. Kamu saja yang belum cukup lama melakukannya.
Satu bulan olahraga belum tentu membuat tubuhmu berubah drastis. Dua bulan membaca belum tentu membuatmu langsung menjadi orang yang paling berpengetahuan. Beberapa minggu membuat konten belum tentu membuatmu memiliki banyak penonton. Begitu juga dengan belajar bahasa, membangun bisnis, menulis, atau mengejar apa pun yang sedang kamu perjuangkan.
Consistency is where the real game begins.
Mungkin yang membedakan bukan siapa yang paling semangat ketika memulai, tetapi siapa yang masih terus berjalan ketika semangat itu sudah tidak lagi sebesar hari pertama.
Proses melatih ketahanan fisik dan mental membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Setiap kali kamu memilih untuk bangkit di pagi hari, melangkah keluar rumah, dan menembus batas rasa lelah, kamu sedang menempa kapasitas dirimu menjadi lebih tangguh dari sebelumnya. Rasa sakit di otot-ototmu, napas yang terengah-engah, serta bisikan untuk menyerah adalah indikator nyata bahwa batas kenyamananmu sedang bergeser ke tingkat yang lebih tinggi.
Ketika kamu membiasakan diri untuk memeluk ketidaknyamanan, hal-hal yang dulu terasa menakutkan perlahan berubah menjadi sesuatu yang biasa. Kamu belajar bahwa ketidaknyamanan bukanlah musuh yang harus dihindari, melainkan sebuah ruang tempaan yang membentuk karakter dan mentalitas pantang menyerah. Ketabahan yang kamu bangun melalui olahraga harian dan kedisiplinan belajar ini akan meresap ke dalam seluruh aspek kehidupanmu yang lain.
Setiap kali tantangan hidup atau kegagalan menghampiri, kamu tidak akan mudah runtuh karena jiwamu sudah terbiasa bertahan di tengah tekanan. Kamu memahami bahwa pertumbuhan sejati tidak pernah hadir dari jalan yang rata dan datar. Ia lahir dari bukit-bukit terjal yang harus kamu daki dengan peluh dan perjuangan yang konsisten setiap harinya.
Sebab motivasi bisa naik turun. Tubuh bisa lelah. Pikiran bisa jenuh. Bahkan kamu bisa sampai pada titik bertanya, “Untuk apa aku melakukan semua ini?”
Tapi kalau kamu punya long-term goal, mungkin kamu akan lebih mudah mengingat alasan kenapa kamu memulainya.
Jadi, ya sudah. Lari lagi. Baca lagi. Dengarkan podcast lagi. Belajar lagi. Menulis lagi. Mendaki lagi ketika waktunya tiba. Tidak harus selalu maksimal, yang penting jangan berhenti terlalu lama.
Stay motivated, keep fighting, and keep showing up for whatever you’re trying to build.
Karena mungkin, sesuatu yang hari ini terasa menyakitkan, melelahkan, dan tidak menyenangkan, justru sedang mempersiapkanmu untuk sesuatu yang jauh lebih besar di masa depan.
15 Mei 2024
