Aku sangat menghargai seseorang yang ketika menyadari energinya sedang tidak baik, memilih untuk menjaga jarak. Bukan karena tidak peduli, bukan karena tiba tiba berubah menjadi seseorang yang dingin, tetapi karena dia sadar bahwa apa yang sedang terjadi di dalam dirinya mungkin saja ikut terbawa kepada orang lain. I respect a person who knows their energy is off and keeps their distance because they don’t want to transfer it onto you. Menurutku, tidak banyak orang yang benar benar memahami betapa nyata dan pentingnya hal seperti ini.
Kita sering menganggap bahwa ketika seseorang menjauh, berarti dia sedang marah, tidak suka, atau sudah tidak peduli. Padahal mungkin tidak selalu begitu. Ada kalanya seseorang hanya sedang tidak baik baik saja dengan dirinya sendiri. Sedang lelah, sedang banyak pikiran, sedang kehilangan arah, atau mungkin sedang berusaha menyelesaikan sesuatu di dalam kepalanya yang bahkan belum mampu dia ceritakan kepada orang lain.
Dan menurutku, mengambil jarak dalam kondisi seperti itu justru membutuhkan kesadaran.
Karena tidak semua hal harus dibagikan kepada orang lain. Tidak semua kegelisahan harus dilampiaskan. Tidak semua emosi harus dibawa ke dalam percakapan. Ada kalanya kita perlu berhenti sebentar, mengatur napas, membereskan diri sendiri, kemudian kembali ketika keadaan sudah sedikit lebih baik.
Sometimes, taking a step back is not about pushing people away. Itβs about making sure you donβt hurt them while youβre trying to fix yourself.
Aku rasa kita semua pernah berada di posisi ketika energi sedang benar benar habis. Hal kecil terasa mengganggu. Percakapan sederhana terasa melelahkan. Pertanyaan biasa bisa terdengar seperti tekanan. Bahkan orang yang sebenarnya tidak melakukan kesalahan apa apa bisa ikut terkena dampak dari suasana hati kita.
Karena itulah menjaga energi bukan sesuatu yang egois.
Protecting your energy isnβt selfish. Itβs necessary.
Kita perlu tahu kapan harus hadir dan kapan harus beristirahat. Kapan harus berbicara dan kapan lebih baik diam. Kapan harus menemani orang lain dan kapan harus memberikan waktu untuk diri sendiri. Bukan karena kita tidak membutuhkan manusia lain, justru karena kita sadar bahwa kita adalah manusia yang punya batas.
Dan di sisi lain, kita juga perlu belajar memilih siapa yang boleh terlalu dekat dengan kehidupan kita.
Karena memang ada orang orang tertentu yang ketika terlalu lama berada di sekitar kita, entah bagaimana membuat energi kita habis. Setiap percakapan berubah menjadi keluhan. Setiap solusi selalu menemukan masalah baru. Setiap hal baik selalu dicari sisi buruknya. Kita datang dengan energi yang penuh, pulang dengan perasaan seperti baru saja kehilangan sesuatu.
Some people are like mosquitoes. Theyβll suck the life out of you if you let them.
Tentu bukan berarti kita harus membenci mereka. Tidak semua orang yang membawa energi negatif adalah orang jahat. Bisa jadi mereka juga sedang berjuang dengan kehidupannya sendiri. Hanya saja, kita tidak selalu punya kapasitas untuk menjadi tempat bagi semua masalah orang lain.
Dan menurutku, itu juga bukan sebuah kesalahan.
Kita boleh peduli tanpa harus ikut tenggelam.
Boleh mencintai tanpa harus kehilangan diri sendiri.
Boleh membantu tanpa harus mengorbankan seluruh tenaga yang kita punya.
Dan boleh pergi sebentar ketika kita merasa diri sendiri mulai tidak baik baik saja.
Mungkin kedewasaan memang salah satunya adalah kemampuan untuk mengenali keadaan diri sendiri. Tahu kapan harus berkata, βAku sedang tidak baik baik saja, mungkin lebih baik aku sendiri dulu.β Bukan untuk menghilang dari kehidupan orang lain, tetapi untuk kembali dengan keadaan yang lebih baik.
Pada akhirnya, aku ingin belajar menjadi seseorang yang bukan hanya mampu menjaga perasaanku sendiri, tetapi juga cukup sadar untuk tidak menjadikan orang lain sebagai tempat pelampiasan ketika hidup sedang berantakan.
Kalau sedang lelah, istirahat.
Kalau sedang penuh, beri ruang.
Kalau sedang kacau, jangan buru buru membuat keputusan.
Kalau sedang tidak punya energi untuk bertemu siapa pun, tidak apa apa untuk menyendiri.
You are allowed to step away, breathe, reset, and come back when youβre ready.
Sebab menjaga energi bukan tentang menjadi egois.
Mungkin justru itu salah satu bentuk kepedulian paling sederhana, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.
