Pernah punya ide yang menurutmu brilian?
Sampai rasanya ingin segera mengerjakannya. Sudah membayangkan hasil akhirnya, sudah membayangkan orang-orang melihatnya, bahkan mungkin sudah membayangkan bagaimana hidupmu akan berubah setelah ide itu berhasil.
Tapi kemudian kamu tidak melakukan apa-apa.
Terlalu banyak berpikir. Takut hasilnya jelek. Takut tidak sempurna. Takut tidak ada yang suka.
Akhirnya ide itu hanya tinggal ide.
Aku semakin sadar bahwa punya ide bagus sebenarnya tidak terlalu sulit. Hampir semua orang punya sesuatu yang ingin dibuat. Masalahnya bukan siapa yang paling banyak punya ide, tetapi siapa yang mau duduk, mengerjakannya, gagal, memperbaikinya, lalu mengerjakannya lagi.
Karena yang mahal dari sebuah karya bukan idenya.
Eksekusinya.
Untuk menjadi penulis, misalnya, kita tidak harus menunggu sampai punya tulisan yang sempurna. Tulis saja satu artikel. Publikasikan. Baca lagi beberapa bulan kemudian, lalu mungkin kita akan merasa, “Waduh, ternyata tulisan gue dulu begini.”
Tidak apa-apa.
Setidaknya kita sudah punya tulisan untuk diperbaiki.
Begitu juga dengan fotografi, video, desain, bisnis, atau apa pun yang ingin kita kerjakan. Karya pertama mungkin buruk. Karya kedua mungkin masih biasa saja. Karya kesepuluh mungkin baru mulai terlihat bentuknya.
Tapi bagaimana kita bisa sampai ke karya kesepuluh kalau karya pertama saja tidak pernah dibuat?
Aku juga mulai melihat bahwa kemampuan tidak tumbuh hanya karena kita belajar. Ia tumbuh karena kita terus menggunakannya.
Repetisi.
Kita membuat sesuatu, mengevaluasinya, belajar, lalu membuatnya lagi. Perlahan, sesuatu yang awalnya terasa sulit mulai menjadi kebiasaan. Yang tadinya canggung mulai terasa natural.
Aku tidak terlalu percaya dengan gagasan bahwa seseorang harus menunggu sampai benar-benar ahli sebelum menunjukkan karyanya.
Justru mungkin kita menjadi ahli karena berani menunjukkan proses kita.
Biarkan orang melihat karya kita yang masih berantakan. Biarkan mereka memberi kritik. Biarkan kita sesekali malu melihat karya lama sendiri.
Karena karya yang tidak pernah ditunjukkan mungkin memang aman dari kritik.
Tapi ia juga tidak pernah punya kesempatan untuk tumbuh.
Mungkin itu juga alasan kenapa aku ingin terus menulis, memotret, membuat video, dan mencoba berbagai hal. Bukan karena aku sudah merasa hebat dalam semua itu, tetapi karena aku ingin melihat sejauh apa aku bisa berkembang kalau terus mengerjakannya.
Pada akhirnya, ide hanyalah permulaan.
Yang membuatnya bernilai adalah keberanian untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang nyata.
Jadi kalau hari ini ada sesuatu yang terus berputar di kepalamu, mungkin tidak perlu menunggu semuanya siap.
Buat saja.
Mulai saja.
Biarkan karya pertamamu buruk.
Nanti kita perbaiki.
Karena mungkin yang paling mahal dari sebuah ide bukan bagaimana kita memikirkannya, tetapi keberanian untuk benar-benar mengerjakannya.
