Pagi ini, kamu sedang mendengarkan lagu MV NIKI Backburner. Awalnya, mungkin hanya ingin menikmati lagunya sambil menjalani aktivitas seperti biasa. Namun, ada satu hal yang justru lebih dulu menarik perhatianmu: kamera yang digunakan dalam pembuatan video musik tersebut. Bukan kamera sinema mahal dengan banyak aksesori, bukan pula kamera mirrorless keluaran terbaru. Bentuknya justru mengingatkanmu pada sebuah handycam lawas yang sederhana. Sebagai seseorang yang suka merekam perjalanan dan menyimpan banyak dokumentasi, tentu saja hal seperti ini bisa membuatmu penasaran.
Kalau ditanya secara pasti kamera apa yang digunakan dalam MV tersebut, kamu belum bisa memastikannya. Namun, setelah memperhatikan bentuk dan tampilannya, ada dua model Sony Handycam yang menurutmu cukup mirip, yaitu Sony HDR-CX220E dan Sony HDR-CX450.
Sebelum membahas kameranya lebih jauh, mari melihat MV-nya terlebih dahulu.
Backburner: Sebuah Kenangan yang Direkam
Video musik Backburner dari NIKI disajikan dengan potongan-potongan gambar yang cepat. Tidak banyak adegan yang dibuat rumit. Isinya seperti kumpulan rekaman keseharian: momen bersama, tingkah konyol, perjalanan, dan berbagai kejadian kecil yang mungkin bagi orang lain terlihat biasa saja.
Namun, justru kesederhanaan itu yang membuatnya menarik.
Dalam interpretasimu, video tersebut seperti kumpulan rekaman yang dibuat oleh mantan kekasih NIKI. Kamera seolah menjadi sudut pandang seseorang yang pernah dekat dengannya. Ada banyak momen ketika mereka menghabiskan waktu bersama, melakukan hal-hal sederhana, tertawa, dan menikmati kebersamaan.
NIKI seperti sedang melihat kembali rekaman-rekaman lama itu. Mengingat seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidupnya, sekaligus menyadari bahwa orang tersebut sekarang sudah tidak lagi berada di tempat yang sama.
Hal menariknya, sepanjang video kamu justru beberapa kali tersenyum, bahkan tertawa melihat tingkah mereka. Banyak adegan yang terasa lucu, hangat, dan menggemaskan. Namun, ketika kembali mengingat makna lagunya, muncul perasaan yang berbeda.
Ada kerinduan di balik semua potongan kenangan itu.
Sebab, melihat kembali sesuatu yang pernah membuatmu bahagia terkadang justru menjadi cara paling sederhana untuk menyadari bahwa semuanya sudah berlalu. Kamu masih bisa melihat gambarnya, mengingat kejadiannya, bahkan mungkin mengingat bagaimana rasanya saat itu. Namun, orang yang berada di dalam kenangan tersebut belum tentu masih bisa kamu temui dengan cara yang sama.
Barangkali, itulah yang membuat MV ini terasa menarik. Gambarnya penuh dengan keceriaan, tetapi ada kesedihan yang diam-diam mengikuti setiap potongannya.
Seolah-olah NIKI sedang mencoba tersenyum ketika mengingat masa lalu, meskipun ada bagian dari dirinya yang masih tertinggal di sana.
Apa Sebenarnya Makna Backburner?
Sebelum membahas lebih jauh, istilah backburner sendiri cukup menarik.
Dalam konteks hubungan, seseorang yang menjadi backburner adalah orang yang disimpan sebagai pilihan cadangan. Seseorang yang mungkin tidak benar-benar dipilih, tetapi juga tidak sepenuhnya dilepaskan. Ia tetap dihubungi ketika orang yang sedang dikejar tidak memberikan perhatian, ketika hubungan lain sedang bermasalah, atau ketika seseorang membutuhkan tempat untuk kembali.
Posisinya tidak benar-benar menjadi prioritas, tetapi juga tidak pernah benar-benar ditinggalkan.
Dan menurutmu, itulah gambaran hubungan yang diceritakan NIKI dalam lagu ini.
Ada seseorang yang hanya datang ketika sedang membutuhkan. Ketika merasa sedih, kecewa, atau tidak memiliki tempat untuk bercerita, NIKI menjadi orang yang dihubungi. Namun, ketika keadaan kembali membaik, orang tersebut bisa saja menghilang lagi.
Yang menyedihkan, NIKI tampaknya menyadari posisinya.
Ia tahu bahwa dirinya bukan pilihan utama. Ia tahu bahwa hubungan seperti itu tidak seharusnya membuatnya bertahan. Namun, ada perasaan yang membuatnya tetap menerima keadaan tersebut.
Setidaknya, selama mereka masih berbicara. Selama orang itu masih mengingatnya. Selama masih ada kemungkinan bahwa suatu hari nanti semuanya bisa berubah.
Dalam salah satu bagian liriknya, ada pengakuan bahwa ia merasa sedih karena menerima posisi sebagai pilihan cadangan. Bukan karena tidak tahu bahwa dirinya pantas mendapatkan sesuatu yang lebih baik, melainkan karena perasaan terkadang tidak sesederhana apa yang dipikirkan oleh akal sehat.
Kamu bisa tahu bahwa sesuatu tidak baik untukmu, tetapi tetap kesulitan untuk benar-benar melepaskannya.
Dan mungkin, itu salah satu alasan mengapa lagu ini terasa begitu dekat dengan banyak orang.
Kenapa Kamera dalam MV Ini Menarik Perhatian?
Sekarang, mari kembali ke hal yang pertama kali membuatmu penasaran: kameranya.
Ada sesuatu yang menarik dari penggunaan handycam dalam video musik ini. Visualnya terasa seperti rekaman pribadi yang dibuat tanpa terlalu banyak perencanaan. Tidak selalu sempurna, tidak selalu stabil, dan tidak selalu memiliki komposisi gambar yang ideal.
Namun, justru itu yang membuatnya terasa hidup.
Kamera seperti ini memberikan kesan bahwa seseorang sedang merekam kehidupan, bukan sedang membuat sebuah produksi film yang besar. Ada spontanitas yang muncul dari setiap gambar. Seolah-olah orang yang memegang kamera hanya ingin memastikan bahwa momen tersebut tidak hilang begitu saja.
Buat kamu yang suka merekam perjalanan, suasana seperti ini terasa menyenangkan.
Selama ini, ada banyak hal yang ingin kamu dokumentasikan. Perjalanan ke gunung, suasana kota, obrolan bersama teman, secangkir kopi, sampai kejadian-kejadian kecil yang mungkin tidak terlalu penting bagi orang lain.
Kadang, kamu tidak membutuhkan kamera dengan spesifikasi paling tinggi untuk melakukan semuanya. Yang penting, dokumentasinya aman. Momen tersebut berhasil direkam dan suatu hari nanti masih bisa diputar kembali.
Bahkan, mungkin setelah beberapa tahun berlalu, rekaman sederhana itu justru menjadi sesuatu yang paling berharga.
Karena pada akhirnya, kamera bukan hanya soal menghasilkan gambar yang bagus. Kamera juga bisa menjadi alat untuk menyimpan ingatan.
Sony HDR-CX220E vs Sony HDR-CX450
Setelah mencari beberapa referensi, ada dua kamera yang menurutmu memiliki tampilan cukup mirip dengan handycam dalam MV Backburner. Keduanya berasal dari lini Sony Handycam.
Berikut perbandingan spesifikasi keduanya berdasarkan informasi produk Sony.
| Fitur | Sony HDR-CX220E | Sony HDR-CX450 |
|---|---|---|
| Tahun rilis | Sekitar 2013 | Sekitar 2016 |
| Lensa | Carl Zeiss Vario-Tessar | ZEISS Vario-Tessar |
| Optical Zoom | 27x | 30x |
| Stabilisasi gambar | Electronic SteadyShot dengan Active Mode | Optical SteadyShot, 5-axis Intelligent Active Mode |
| Format rekaman | AVCHD | XAVC S, AVCHD, MP4 |
| Wi-Fi/NFC | Tidak tersedia | Tersedia |
| Audio | Dolby Digital 2-channel stereo | Mendukung Dolby Digital 5.1-channel |
| Layar LCD | 2,7 inci, 230K dots | 3 inci, 460K dots, touchscreen |
Dari tabel tersebut, terlihat bahwa Sony HDR-CX450 memiliki beberapa keunggulan dibandingkan pendahulunya. Optical zoom-nya sedikit lebih besar, sistem stabilisasinya lebih canggih, dan sudah mendukung konektivitas Wi-Fi serta NFC.
Sementara itu, Sony HDR-CX220E menawarkan spesifikasi yang lebih sederhana. Namun, bukan berarti kamera ini tidak menarik. Justru kesederhanaannya menjadi salah satu alasan mengapa handycam generasi lama masih punya daya tarik tersendiri.
Kalau tujuannya hanya untuk merekam perjalanan, aktivitas sehari-hari, atau membuat video dengan nuansa dokumentasi rumahan, keduanya masih menarik untuk dipertimbangkan.
Tentu saja, spesifikasi bukan satu-satunya hal yang menentukan hasil rekaman. Kondisi kamera, pencahayaan, pengaturan, dan cara pengambilan gambar juga punya pengaruh besar.
Dan satu hal yang perlu digarisbawahi: kedua kamera ini masih sebatas kandidat berdasarkan kemiripan bentuk. Belum ada kepastian bahwa salah satunya benar-benar digunakan dalam MV tersebut.
Ada Sesuatu yang Berharga dari Rekaman Sederhana
Semakin diperhatikan, ada satu hal yang membuat MV Backburner terasa berbeda.
Kamera dalam video itu seperti menjadi tempat penyimpanan kenangan. Bukan hanya merekam wajah seseorang, tetapi juga merekam bagaimana dua orang pernah menghabiskan waktu bersama.
Mungkin saat rekaman itu dibuat, tidak ada yang berpikir bahwa suatu hari nanti gambar-gambar tersebut akan menjadi sesuatu yang menyedihkan untuk dilihat kembali.
Saat itu, mereka hanya sedang bersenang-senang.
Mereka tertawa, bercanda, melakukan hal-hal konyol, dan menikmati waktu yang tersedia. Tidak ada yang tahu bahwa suatu hari nanti, semua itu hanya akan menjadi potongan kenangan.
Dan bukankah kehidupan memang sering seperti itu?
Kamu tidak selalu menyadari bahwa sebuah momen sedang menjadi kenangan. Terkadang, kamu baru memahami betapa berharganya sesuatu setelah semuanya berlalu.
Itulah mengapa kamu menyukai kegiatan dokumentasi. Bukan karena setiap rekaman harus menjadi konten, bukan pula karena semuanya harus diunggah ke media sosial. Ada kalanya kamu hanya ingin menyimpan sesuatu untuk dirimu sendiri.
Sebuah perjalanan yang mungkin tidak akan terulang. Percakapan yang mungkin tidak akan terjadi lagi. Wajah teman-teman yang suatu hari nanti akan memiliki kesibukan masing-masing.
Atau bahkan suasana kamar, jalanan, dan tempat minum kopi yang sekarang terasa biasa saja.
Siapa tahu, beberapa tahun lagi, ketika kamu membuka kembali rekaman tersebut, ada perasaan hangat yang muncul.
Bukan karena gambarnya sempurna, tetapi karena kamu pernah berada di sana.
Tentang Musik, Kamera, dan Kenangan
Pada akhirnya, pagi ini kamu menemukan sesuatu yang menarik dari sebuah lagu. Awalnya hanya ingin mendengarkan Backburner, tetapi justru berakhir dengan mencari tahu jenis kamera yang digunakan dalam video musiknya.
Begitulah kadang hal-hal kecil bekerja. Satu hal bisa membawamu pada hal lain yang tidak pernah direncanakan.
Dari sebuah lagu, kamu memikirkan hubungan dan kenangan. Dari sebuah video, kamu kembali tertarik pada dunia kamera dan dokumentasi. Dari sebuah handycam lawas, kamu kembali diingatkan tentang alasan mengapa selama ini suka merekam banyak hal.
Mungkin tidak semua rekaman harus memiliki cerita besar. Tidak semua foto harus terlihat indah. Dan tidak semua momen harus dibagikan kepada orang lain.
Beberapa cukup disimpan.
Sebab, suatu hari nanti, ketika waktu sudah berjalan terlalu jauh, kamu mungkin akan merindukan hal-hal sederhana yang sekarang sedang kamu jalani.
Dan ketika hari itu tiba, setidaknya kamu masih punya sesuatu untuk dilihat kembali.
Sebuah lagu, sebuah video, atau rekaman sederhana dari kamera lama.
Sometimes, memories are all we have left.
Dan mungkin, itulah alasan mengapa kamu ingin terus merekam kehidupan.
