Pernah nggak sih kalian membayangkan bisa Roadtrip Keliling Indonesia dari Sabang sampai Merauke, mengunjungi satu per satu provinsi di Indonesia, melihat langsung berbagai budaya, menikmati keindahan alam, mencicipi makanan khas, sampai datang ke festival-festival unik yang mungkin selama ini cuma kita lihat dari layar?
Aku sering membayangkannya.
Bukan cuma sekadar traveling dari satu tempat ke tempat lain, tapi benar-benar mencoba mengenal Indonesia lebih dekat. Melihat bagaimana orang-orang hidup di daerah yang berbeda, mendengar bahasa yang mungkin belum pernah aku dengar, mencoba makanan yang namanya bahkan susah disebut, sampai berdiri di tempat-tempat yang selama ini cuma muncul di foto.
Rasanya pasti luar biasa.
Entah kapan mimpi ini benar-benar bisa terwujud. Bisa jadi beberapa tahun lagi, bisa juga jauh lebih lama. Tapi menurutku, nggak ada salahnya kalau mulai dari sekarang aku bikin catatannya.
Siapa tahu, suatu hari nanti catatan ini bukan lagi sekadar rencana.
Tapi benar-benar menjadi jejak perjalanan.
Kenalan Dulu dengan Indonesia

Sebelum benar-benar memulai perjalanan keliling Indonesia, di catatan pertama ini aku ingin mengajak kalian kenalan dulu dengan negeri yang selama ini kita tinggali.
Well, kita sering banget mendengar kalimat, “Indonesia itu luas banget.”
Tapi sebenarnya, seberapa luas sih Indonesia?
Indonesia merupakan negara kepulauan yang wilayahnya membentang sangat luas dari barat ke timur. Ada ribuan pulau, puluhan provinsi, ratusan kabupaten dan kota, serta berbagai macam bentang alam yang membuat perjalanan dari satu daerah ke daerah lain terasa seperti berpindah dunia.
Indonesia saat ini memiliki 38 provinsi yang tersebar dari ujung barat sampai ujung timur. Dari Aceh di Sumatera hingga Papua di bagian timur, setiap wilayah punya cerita, karakter, tradisi, makanan, bahasa, dan pemandangan yang berbeda.
Dan yang membuatku semakin penasaran adalah satu hal:
Kita mungkin tinggal di negara yang sama, tetapi pengalaman hidup orang-orang di dalamnya bisa sangat berbeda.
Ada masyarakat yang hidup dekat gunung, ada yang menggantungkan hidup dari laut, ada yang tinggal di tengah hutan, ada pula yang hidup di kota-kota besar dengan gedung pencakar langit.
Belum lagi pulau-pulau kecil yang mungkin namanya saja belum pernah kita dengar.
Bayangkan kalau semua itu benar-benar kita datangi satu per satu.
Indonesia, Negara di Antara Dua Benua dan Dua Samudra
Kalau melihat letaknya di peta, Indonesia punya posisi geografis yang menarik.
Indonesia berada di antara Benua Asia dan Australia, serta di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.
Mungkin kelihatannya cuma informasi geografi yang kita hafalkan waktu sekolah.
Tapi kalau dipikir-pikir lagi, posisi tersebut ikut membentuk kekayaan Indonesia.
Perdagangan, perpindahan manusia, sejarah, dan interaksi berbagai kelompok selama berabad-abad membuat Indonesia berkembang menjadi tempat dengan keragaman budaya yang luar biasa.
Makanya, semakin kita menjelajah Indonesia, semakin terasa bahwa negeri ini bukan cuma soal pemandangan.
Ada manusia dan cerita di balik setiap tempat.
Dari Hutan, Laut, sampai Gunung

Kalau bicara tentang keindahan alam Indonesia, rasanya kita nggak akan pernah kehabisan bahan.
Ada hutan hujan tropis, pantai, pulau-pulau kecil, danau, sungai, air terjun, sampai gunung-gunung yang menjadi tujuan para pendaki.
Indonesia juga memiliki banyak taman nasional yang tersebar di berbagai wilayah.
Ada Taman Nasional Ujung Kulon di Banten yang menjadi habitat badak Jawa. Ada Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur yang menjadi rumah bagi komodo, reptil purba yang menjadi salah satu ikon Indonesia.
Kemudian di Kalimantan ada Taman Nasional Tanjung Puting, yang terkenal sebagai salah satu kawasan penting bagi orangutan.
Kalau bergerak lebih jauh ke timur, ada Taman Nasional Lorentz di Papua. Kawasan ini begitu luas dan memiliki bentang alam yang sangat beragam, dari ekosistem pesisir hingga pegunungan.
Belum lagi kehidupan bawah laut Indonesia.
Ada Taman Nasional Bunaken di Sulawesi Utara, Raja Ampat di Papua Barat Daya, Wakatobi di Sulawesi Tenggara, sampai berbagai kawasan pesisir lainnya yang menjadi rumah bagi terumbu karang dan beragam biota laut.
Dan jujur saja, sebagai orang yang suka jalan-jalan dan naik gunung, bagian ini yang paling bikin aku nggak sabar.
Karena Indonesia seolah punya daftar perjalanan yang nggak pernah selesai.
Gunung-Gunung Indonesia yang Ingin Aku Datangi

Indonesia juga punya banyak gunung dengan karakter yang berbeda-beda.
Salah satu yang paling terkenal adalah Puncak Jaya atau Carstensz Pyramid di Papua, yang selama ini dikenal sebagai salah satu puncak tertinggi di Indonesia dan bagian dari Seven Summits.
Sementara di Lombok ada Gunung Rinjani, salah satu gunung yang terkenal karena keindahan lanskapnya.
Ada kaldera luas, Danau Segara Anak, jalur pendakian yang menantang, serta pemandangan matahari terbit yang membuat perjalanan berhari-hari terasa layak.
Dan tentu saja, Rinjani bukan satu-satunya.
Ada Semeru, Kerinci, Slamet, Sumbing, Sindoro, Merbabu, Lawu, Arjuno-Welirang, Raung, Argopuro, sampai gunung-gunung lain yang mungkin namanya belum terlalu populer.
Sebagian mungkin akan aku datangi.
Sebagian mungkin tidak.
Karena pada akhirnya, perjalanan bukan soal berapa banyak tempat yang berhasil kita centang dari daftar.
Yang lebih penting adalah cerita apa yang kita bawa pulang.
Air Terjun, Danau, dan Tempat-Tempat yang Membuat Kita Berhenti Sejenak

Setelah gunung dan laut, Indonesia masih punya banyak tempat lain yang nggak kalah menarik.
Ada Air Terjun Tumpak Sewu di Lumajang, Jawa Timur, dengan aliran air yang membentuk tirai raksasa di antara tebing-tebing hijau.
Ada Danau Toba di Sumatera Utara yang begitu luas dan punya sejarah serta kebudayaan yang panjang.
Ada juga berbagai air terjun, danau, gua, lembah, dan sungai yang tersebar di banyak daerah.
Dan mungkin justru tempat-tempat seperti inilah yang nantinya akan membuat perjalanan terasa berbeda.
Karena terkadang kita nggak membutuhkan tempat yang terkenal.
Kita hanya membutuhkan tempat yang membuat kita berhenti sebentar, duduk, menarik napas, lalu berkata,
“Gila, ternyata Indonesia seindah ini.”
Lebih dari 700 Bahasa dan Ribuan Budaya

Kalau alam Indonesia saja sudah bikin pusing menentukan tujuan perjalanan, budaya Indonesia lebih gila lagi.
Indonesia memiliki ratusan bahasa daerah yang digunakan oleh masyarakat di berbagai wilayah.
Bahasa Jawa, Sunda, Madura, Minangkabau, Bugis, Banjar, Bali, Sasak, dan masih banyak lagi hanyalah sebagian kecil dari keragaman bahasa yang ada.
Di Papua saja, terdapat ratusan bahasa yang digunakan oleh berbagai kelompok masyarakat.
Artinya, perjalanan keliling Indonesia nantinya bukan cuma soal belajar nama tempat.
Aku juga ingin mendengar bagaimana orang-orang di setiap daerah berbicara, bagaimana mereka menyapa orang lain, bagaimana mereka bercerita, dan bagaimana bahasa menjadi bagian dari identitas mereka.
Karena mungkin, ada cerita-cerita yang nggak akan pernah kita temukan di buku perjalanan.
Cerita itu hanya bisa ditemukan ketika kita datang dan ngobrol langsung dengan orangnya.
Ribuan Suku dan Tradisi

Indonesia juga dikenal sebagai salah satu negara dengan keragaman suku bangsa yang sangat tinggi.
Ada Suku Jawa, Sunda, Batak, Minangkabau, Dayak, Bugis, Toraja, Bali, Sasak, Dani, Asmat, dan masih banyak kelompok masyarakat lainnya.
Masing-masing punya tradisi, bahasa, pakaian, rumah adat, kesenian, sampai cara memandang kehidupan.
Dan bagian ini menurutku menarik.
Karena traveling sering kali membuat kita sadar bahwa cara kita menjalani hidup bukan satu-satunya cara yang ada.
Ada banyak cara manusia membangun keluarga, bekerja, merayakan kehidupan, menghormati leluhur, dan memaknai alam.
Mungkin itu salah satu alasan kenapa aku ingin keliling Indonesia.
Bukan cuma untuk melihat tempat baru, tetapi juga untuk belajar dari manusia-manusia yang tinggal di dalamnya.
Festival Budaya dari Sabang sampai Merauke
Indonesia juga punya banyak festival dan tradisi budaya yang menarik untuk disaksikan.
Ada Pasola di Sumba, tradisi berkuda yang menjadi bagian dari budaya masyarakat Sumba.
Di Bali ada Bali Arts Festival, yang menghadirkan berbagai pertunjukan dan karya seni.
Di Sumatera Barat ada Festival Tabuik di Pariaman.
Kemudian ada Dieng Culture Festival di Jawa Tengah yang terkenal dengan prosesi cukur rambut anak-anak gimbal.
Dan sebenarnya masih banyak lagi.
Festival-festival tersebut membuatku berpikir bahwa perjalanan ke suatu daerah seharusnya nggak berhenti di tempat wisata.
Kalau bisa, datanglah ketika masyarakat setempat sedang merayakan sesuatu.
Karena di sana kita bisa melihat budaya bukan sebagai pajangan, tetapi sebagai sesuatu yang benar-benar hidup.
Kalau Sudah Sampai Sini, Jangan Lupakan Makanannya

Nah.
Ini bagian yang sebenarnya nggak kalah penting.
Kuliner Indonesia.
Kalau perjalanan nanti benar-benar terwujud, aku rasa salah satu masalah terbesarnya adalah berat badan.
Bagaimana tidak?
Dari Sumatera ada rendang.
Dari Palembang ada pempek.
Dari Madura ada sate Madura.
Dari Yogyakarta ada gudeg.
Belum lagi nasi Padang, soto dari berbagai daerah, rawon, papeda, coto Makassar, ayam betutu, mie Aceh, bubur Manado, ikan bakar, sampai makanan-makanan lokal yang mungkin belum pernah kita dengar sebelumnya.
Dan yang menarik, satu nama makanan saja kadang bisa punya versi berbeda di daerah lain.
Jadi kalau nanti ada yang bertanya,
“Fin, sudah keliling Indonesia?”
Aku mungkin akan menjawab,
“Belum semuanya. Tapi kulinernya sedang diusahakan.”
Menyusuri Jejak Sejarah Indonesia

Indonesia juga punya sejarah panjang yang bisa ditemukan hampir di setiap penjuru negeri.
Salah satu yang paling terkenal tentu saja Candi Borobudur di Jawa Tengah.
Candi Buddha yang dibangun berabad-abad lalu ini menjadi salah satu peninggalan sejarah paling penting di Indonesia.
Tetapi Borobudur hanyalah salah satu bagian kecil dari perjalanan sejarah Indonesia.
Ada Candi Prambanan, situs-situs kerajaan di Jawa, peninggalan Kesultanan di berbagai daerah, benteng kolonial, kota tua, hingga berbagai situs budaya yang tersebar dari barat sampai timur.
Mungkin nanti aku ingin melihat semuanya bukan sekadar sebagai objek wisata.
Aku ingin tahu cerita di baliknya.
Siapa yang membangun?
Kenapa dibangun?
Bagaimana kehidupan masyarakat pada masa itu?
Dan bagaimana semua peninggalan tersebut akhirnya menjadi bagian dari Indonesia yang kita kenal sekarang?
Ini Baru Awal dari Mimpi Keliling Indonesia

Setelah menulis semua ini, aku malah semakin sadar kalau Indonesia ternyata terlalu luas untuk sekadar dibuat menjadi daftar tempat wisata.
Ada 38 provinsi, ratusan kabupaten dan kota, ribuan pulau, ratusan bahasa, berbagai suku, budaya, makanan, sejarah, gunung, laut, hutan, dan cerita manusia yang menunggu untuk ditemukan.
Dan ini baru sebagian kecil.
Kadang aku masih bertanya-tanya,
“Kapan ya aku bisa benar-benar menginjakkan kaki di setiap provinsi di Indonesia?”
Aku nggak tahu.
Mungkin perjalanan itu akan dimulai tahun depan.
Mungkin lima tahun lagi.
Atau mungkin jalannya justru jauh lebih panjang dari yang aku bayangkan.
Tapi nggak apa-apa.
Untuk sekarang, aku ingin mulai dari hal sederhana: mencatat.
Mencatat tempat yang ingin dikunjungi.
Mencatat budaya yang ingin dipelajari.
Mencatat gunung yang ingin didaki.
Mencatat makanan yang ingin dicoba.
Dan mencatat cerita-cerita Indonesia yang selama ini mungkin terlalu sering kita lewatkan.
Karena siapa tahu, suatu hari nanti aku akan membuka kembali tulisan ini sambil tersenyum dan berkata,
“Ternyata mimpi yang dulu cuma ditulis, akhirnya benar-benar pernah dijalani.”
Amin.
Selanjutnya: Catatan Keliling 38 Provinsi Indonesia

Ini baru catatan pertama.
Setelah ini, aku ingin mengajak kalian mengenal 38 provinsi di Indonesia satu per satu.
Kita akan melihat taman nasional, gunung, laut, pantai, air terjun, dan tempat-tempat menarik lainnya. Tapi nggak cuma itu.
Aku juga ingin mencatat semboyan daerah, suku, bahasa, budaya, rumah adat, peninggalan sejarah, festival, sampai makanan khas dari setiap provinsi.
Anggap saja ini sebagai daftar perjalanan.
Sebuah perjalanan yang mungkin belum tahu kapan akan dimulai, tetapi setidaknya sudah punya arah.
Jadi, kalau suatu hari nanti aku benar-benar berangkat dari Sabang sampai Merauke, kita nggak mulai dari nol.
Kita sudah punya catatannya.
Sampai ketemu di perjalanan berikutnya.
