Aku baru saja menyelesaikan membaca buku yang cukup menampar pikiranku, Start with Why karya Simon Sinek. Sebelum membaca bukunya, aku sebenarnya sudah sering mendengar konsep Why dari Sinek lewat TED Talk dan berbagai presentasinya. Tapi setelah membaca bukunya, aku baru benar-benar memahami kenapa pertanyaan sederhana seperti “Why?” ternyata bisa menjadi sesuatu yang begitu penting.
Selama ini kita sering memulai sesuatu dengan pertanyaan, “Apa yang mau kita lakukan?” atau “Bagaimana cara melakukannya?” Kita sibuk memikirkan apa yang harus dibuat, bagaimana membuatnya, bagaimana menjualnya, bagaimana mendapatkan hasilnya. Tapi Sinek justru mengajak kita mundur sedikit dan bertanya, “Kenapa aku melakukan ini?”
Dan pertanyaan itu ternyata tidak sesederhana kelihatannya.
Banyak perusahaan besar seperti Apple, Southwest Airlines, dan Disney tidak hanya menjual produk atau layanan. Mereka menjual sebuah gagasan, sebuah keyakinan, sebuah alasan kenapa mereka ada. Apple misalnya, bukan sekadar menjual laptop atau handphone. Mereka membawa gagasan tentang keberanian untuk berpikir berbeda dan menantang sesuatu yang sudah dianggap biasa.
People don’t buy what you do. They buy why you do it.
Mungkin itu yang membuat orang bisa merasa menjadi bagian dari sesuatu ketika membeli sebuah produk. Bukan sekadar membeli barang, tapi merasa memiliki nilai atau cerita yang sama dengan apa yang dibawa oleh sebuah brand.
Dan setelah membaca buku ini, aku jadi bertanya kepada diriku sendiri.
Why do I write?
Kenapa aku menulis?
Pertanyaan ini terasa cukup penting karena aku baru saja mulai membangun blog ini lagi. Selama ini aku sering punya banyak keinginan. Ingin menulis buku, ingin membuat konten, ingin traveling, ingin membuat video, ingin memotret, ingin bercerita. Tapi terlalu banyak “apa” kadang membuatku lupa bertanya “kenapa”.
Kalau hanya ingin punya blog, mungkin aku bisa berhenti ketika sudah bosan.
Kalau hanya ingin menjadi penulis, mungkin aku bisa berhenti ketika tulisan tidak dibaca banyak orang.
Kalau hanya ingin membuat konten, mungkin aku bisa berhenti ketika views-nya sedikit.
Tapi kalau aku tahu kenapa aku melakukan semuanya, mungkin aku punya alasan untuk tetap berjalan ketika hasilnya belum terlihat.
Aku ingin menulis karena ada banyak hal yang ingin kusimpan. Pengalaman, perjalanan, buku yang kubaca, orang-orang yang pernah datang, tempat-tempat yang pernah kukunjungi, bahkan hal-hal kecil yang mungkin hari ini terasa biasa saja tapi suatu hari nanti ingin kuingat kembali.
Maybe this blog is not just about writing.
Maybe it’s about keeping a record of who I am becoming.
Buku ini juga mengingatkanku bahwa Why bukan sesuatu yang hanya berlaku untuk perusahaan. Kita juga membutuhkannya dalam kehidupan pribadi.
Ketika kita tahu kenapa kita bekerja, kenapa kita belajar, kenapa kita ingin membangun sesuatu, kenapa kita ingin pergi, atau kenapa kita ingin menjadi seseorang yang berbeda dari hari ini, kita punya alasan yang lebih kuat untuk bertahan ketika semuanya mulai terasa berat.
Karena perjalanan pasti punya masa ketika kita bosan. Ada masa ketika hasil tidak sesuai harapan. Ada masa ketika kita mulai bertanya, “Buat apa aku melakukan semua ini?”
Dan mungkin di saat seperti itu, kita tidak membutuhkan motivasi baru.
Kita hanya perlu mengingat kembali Why kita.
Aku juga belajar satu hal lain dari buku ini: konsistensi terhadap nilai yang kita percaya jauh lebih penting daripada sekadar mengejar hasil. Kita boleh mengubah cara, strategi, bahkan tujuan-tujuan kecil di sepanjang perjalanan. Tapi jangan sampai kita kehilangan alasan kenapa kita memulainya.
Mungkin itu juga yang ingin aku lakukan lewat blog ini.
Aku tidak tahu nantinya akan dibaca berapa orang. Aku tidak tahu apakah blog ini akan menghasilkan uang, menjadi buku, atau hanya menjadi kumpulan tulisan yang suatu hari nanti kubaca sendiri ketika sudah tua.
But I know why I started.
Aku ingin menulis.
Aku ingin bercerita.
Aku ingin menyimpan perjalanan hidupku.
Dan kalau ternyata ada orang lain yang menemukan sesuatu dari tulisan-tulisan ini, mungkin itu adalah bonusnya.
Karena pada akhirnya, mungkin kita terlalu sering bertanya tentang what dan how, sampai lupa pada satu pertanyaan paling sederhana:
Why are you doing what you’re doing?
Mungkin sebelum memulai sesuatu yang baru, kita tidak perlu buru-buru mencari cara untuk berhasil.
Duduk sebentar.
Tarik napas.
Lalu tanyakan kepada diri sendiri:
Why?
