Belakangan ini aku sering berpikir, mungkin selama ini aku terlalu sibuk mengejar hidup yang sempurna dan membayangkan semuanya berjalan sesuai rencana. Pekerjaan yang baik, hubungan yang baik, keadaan yang baik, serta diri sendiri yang selalu tahu harus ke mana. Padahal, hidup lebih sering membawa kita ke tempat-tempat yang tidak pernah kita rencanakan. Ada hal-hal yang meleset, rencana yang tidak selesai, keputusan yang disesali, kesalahan masa lalu yang kembali muncul saat malam sunyi, dan bagian dari diri sendiri yang belum bisa diterima.
Mungkin memang begitu cara hidup bekerja. Tidak semuanya datang dengan jawaban atau bisa diperbaiki hanya karena kita sudah berusaha sebaik mungkin. Dulu aku mengira itu berarti gagal, tetapi sekarang aku belajar melihatnya secara berbeda. Mungkin tidak semua yang berakhir buruk adalah kegagalan. Ada hal yang harus terjadi agar kita tahu tidak semua hal harus dipertahankan, dan ada jalan berat supaya kita belajar berjalan tanpa terlalu banyak berharap pada kepastian.
Aku masih sering keras pada diri sendiri, merasa tertinggal, dan membandingkan hidupku dengan orang lain. Padahal, aku tidak pernah tahu apa yang mereka lewati, sama seperti mereka yang tidak tahu berapa banyak hal yang sudah kutahan sendirian. Kita sering menilai diri dari hasil akhir, sampai lupa bahwa bangun tidur saja butuh keberanian, bertahan pelan-pelan adalah bentuk usaha, dan kemajuan kecil tetaplah sebuah kemajuan.
Aku ingin belajar tidak membenci bagian diri yang belum selesai, tidak harus selalu merasa baik-baik saja, dan tidak memaksa diri menjadi seseorang yang belum siap kutamui. Menjadi lebih baik tidak harus dimulai dari membenci diri sendiri. Kita bisa bertumbuh sambil menyayangi diri yang berantakan dan memperbaiki kesalahan tanpa harus terus menghukum diri sendiri.
Aku ingin percaya bahwa hidup tidak harus sempurna untuk disyukuri, tidak harus memiliki semuanya untuk merasa cukup, dan tidak harus selalu berhasil untuk merasa berharga. Ada hari-hari ketika aku meragukan semuanya, dan itu tidak apa-apa. Aku tidak harus selalu kuat, hanya perlu memberi waktu untuk bernapas sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Ketidaksempurnaan bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan. Ia ada di dalam keputusan yang salah, luka yang belum sembuh, mimpi yang belum tercapai, dan diri kita yang terus belajar. Berdamai dengan ketidaksempurnaan berarti berhenti menuntut diri untuk tidak pernah terluka, berhenti memaksa masa lalu berubah, dan berhenti mengukur perjalanan sendiri dengan langkah orang lain.
Lalu perlahan, aku menerima diriku apa adanya, dengan segala kekurangan, cerita yang belum terbagi, dan hal-hal yang pernah membuatku jatuh namun membuatku bertahan sampai hari ini. Hidup memang tidak pernah benar-benar sempurna. Namun semoga, aku tetap bisa menemukan alasan untuk tinggal, berjalan pelan-pelan, memaafkan diri sendiri, dan percaya bahwa hidup yang sederhana serta berantakan ini tetap bisa menjadi hidup yang indah.
