Tidak pernah membayangkan kalau akhirnya aku kembali hadir dalam agenda tahunan Kampung Inggris Mengajar (KIM).
Setelah berpartisipasi pada KIM pertama beberapa tahun lalu, tahun ini aku kembali mengikuti Kampung Inggris Mengajar 5. Artinya, ini sudah menjadi tahun kelimaku terlibat dalam program tersebut.
Lima tahun.
Ternyata aku sudah cukup lama berada di Pare.
Hari ini, rangkaian KIM 5 dimulai dengan Training of Trainer (TOT) pertama yang dilaksanakan di Karambola, Kampung Inggris, Pare. Ada sekitar 23 tutor dari berbagai lembaga kursus di Kampung Inggris yang mengikuti kegiatan ini.
Yang menarik, sebagian besar merupakan pengajar baru. Melihat mereka datang dengan wajah yang masih fresh dan energi yang begitu besar, aku seperti sedang melihat diriku sendiri beberapa tahun lalu.
Kami kemudian mendengarkan pemaparan dari Indah Dwi, atau yang biasa dipanggil Mom Indah, dari Divisi Pendidikan Forum Kampung Bahasa. Ia menjelaskan kembali tentang Kampung Inggris Mengajar, tujuan program, serta bagaimana program ini dijalankan di tengah masyarakat Kampung Inggris Pare.
Kampung Inggris Mengajar merupakan program pelatihan bahasa Inggris gratis yang digagas oleh Forum Kampung Bahasa untuk masyarakat lokal di kawasan Kampung Inggris, Pare, Kediri. Program ini ditujukan kepada masyarakat yang sehari-hari berinteraksi dengan para pelajar dan pendatang, seperti pedagang kaki lima, pengemudi ojek, pemilik indekos, pelaku UMKM, hingga aparatur sipil negara.
Tujuannya sederhana: membantu masyarakat memiliki kemampuan komunikasi dasar dalam bahasa Inggris sehingga mereka lebih percaya diri ketika berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai daerah.
Program ini juga melibatkan pengajar dari berbagai lembaga kursus di Pare. Kegiatan belajar biasanya dilaksanakan secara berkala pada malam hari agar tidak mengganggu aktivitas dan pekerjaan warga pada siang hari.
Menariknya lagi, Kampung Inggris Mengajar pernah mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) sebagai program pembinaan bahasa Inggris masyarakat lokal terbesar.
Setelah sesi pemaparan, kami masuk ke beberapa kegiatan seperti microteaching, sharing pengalaman dari pelaksanaan KIM sebelumnya, hingga presentasi materi.
Semuanya dibuat cukup menyenangkan.
Fun learning.
Padahal sebenarnya hari ini aku punya agenda lain. Sabtu ini aku sudah berjanji dengan teman untuk pergi ke Blitar dan bermain ke pantai. Tapi karena harus mengikuti TOT terlebih dahulu, keberangkatan akhirnya ditunda sampai sore.
Untungnya, temanku dari Surabaya juga terlambat datang.
Jadi kami sama-sama berangkat sore.
Konsekuensinya, tentu saja: missing sunset.
Tapi tidak apa-apa.
Ada sesuatu yang justru lebih menarik dari perjalanan hari ini. Melihat para tutor baru membuatku seperti kembali ke masa ketika pertama kali mengajar bahasa Inggris di Kampung Inggris.
Aku ingat bagaimana rasanya berdiri di depan kelas dengan sedikit takut, banyak ragu, tetapi punya energi yang seolah tidak ada habisnya.
Hari ini, aku melihat energi itu pada mereka.
Mungkin aku dulu juga sama penakutnya.
Dan mungkin, aku juga seenergik itu.
Lima tahun kemudian, aku masih berada di sini.
Bedanya, dulu aku sedang mencari cara untuk menjadi seorang pengajar. Sekarang, aku justru bisa melihat orang-orang baru yang sedang memulai perjalanan yang sama.
Ternyata waktu memang berjalan sejauh itu.
Dan tanpa sadar, Pare sudah menjadi bagian yang cukup panjang dalam perjalanan hidupku.
