Tau nggak sih, pengalaman pertama itu menyenangkan sekali.
Mempelajari sesuatu yang baru selalu punya cara sendiri untuk membuat kita excited. Mungkin itu sebabnya orang yang berani mencoba hal-hal baru sering punya lebih banyak cerita untuk dibawa pulang.
Tapi untuk menjadi jago, excited saja tentu tidak cukup. Setelah hari pertama yang menyenangkan, kita harus melewati hari-hari berikutnya yang mungkin jauh lebih membosankan. Mengulang, belajar dari kesalahan, dan tetap melakukannya meskipun rasa penasaran sudah tidak sebesar pertama kali.
Hari ini, 1 Oktober, setelah gajian bulan lalu yang ternyata masih belum habis, bosku tiba-tiba mengajakku mancing.
Sehari sebelumnya dia memanggilku masuk ke ruangan.
Kirain mau ngajak diskusi pekerjaan.
Ternyata ngajak mancing.
Yang lebih lucu, ketika teman-temanku tetap masuk office seperti biasa, bosku malah bilang, “Jangan bilang-bilang. Ikut aja.”
Ya sudah. Siapa yang bisa menolak ajakan mancing mendadak?
Kami berangkat berlima: aku, bosku, Pak Riza yang sekarang sudah menjadi restoran manager di kapal pesiar, Pak Rolly dari Sumatra yang punya aksen bahasa Inggris seperti US native speaker, dan Pak Aldi dari Jakarta yang merupakan pengajar barista.
Dari Kediri kami menuju Jombang. Perjalanannya kurang lebih satu jam.
Tujuan kami adalah Happy Family Fishing & Resto, yang berada di Gendong–Watugaluh, Kecamatan Diwek, Jombang. Tempatnya cukup luas, bersih, dan hijau. Selain kolam pemancingan, tersedia restoran, playground, taman hijau, kolam ikan koi, kamar mandi, mushola, dan fasilitas lainnya.
Jadi, tempat ini bukan cuma untuk memancing. Bisa juga untuk berkumpul bersama keluarga atau acara kantor.
Belajar Alat Pancing
Karena ini pengalaman pertamaku, aku mulai mengenal berbagai alat pancing yang sebelumnya hanya pernah kulihat sekilas.
Ada joran atau rod, tongkat panjang untuk melempar umpan dan menahan tarikan ikan. Kemudian ada reel, alat untuk menggulung dan menyimpan senar. Jenis spinning reel menjadi salah satu yang cukup mudah digunakan, terutama untuk pemula.
Ada juga fishing line atau senar pancing, hook atau kail, float atau pelampung, serta swivel dan snap yang berfungsi sebagai konektor dalam rangkaian pancing.
Ternyata bagian-bagian joran juga punya nama sendiri. Ada blank sebagai batang utama, handle/grip sebagai pegangan, reel seat sebagai tempat mengunci reel, dan tip top sebagai cincin paling ujung.
Sementara pada reel ada spool, tempat senar digulung, dan bail arm, kawat melengkung yang membantu mengatur keluarnya senar.
Awalnya aku kira memancing itu tinggal lempar kail.
Ternyata lumayan banyak juga yang harus dipelajari.
Umpan Mancing Ikan Air Tawar
Selain alat, tentu saja ada umpan mancing.
Umpan alami yang umum digunakan untuk memancing ikan air tawar antara lain cacing tanah, udang, jangkrik, ulat hongkong, hingga katak kecil. Jenis umpan tentu bisa disesuaikan dengan ikan yang menjadi target.
Untuk pemula seperti aku, yang penting umpan sudah terpasang dan kail masuk ke kolam.
Sisanya tinggal menunggu.
Dan ternyata bagian menunggu inilah yang membutuhkan kesabaran.
Mancing di Happy Family Fishing & Resto Jombang
Kami mulai memancing sekitar pukul 09.30 dan selesai sekitar pukul 12.30.
Kurang lebih tiga jam.
Hasilnya, kami mendapatkan sekitar 4,5 kilogram ikan nila/patin dan 3 kilogram ikan lele.
Di kolam pemancingan ini sendiri tersedia beberapa jenis ikan air tawar, seperti lele, nila, mujair, gurami, dan tombro atau ikan mas.
Tapi menurutku, hasil tangkapan bukan bagian paling menarik dari pengalaman mancing pertama ini.
Yang menyenangkan adalah melihat semuanya ikut menikmati.
Ada yang sibuk dengan pancingnya, ada yang ngobrol, ada yang sesekali mengecek HP, dan ada juga yang mulai lupa kalau beberapa jam sebelumnya kami masih punya pekerjaan.
Setelah selesai memancing, kami makan bersama di tempat yang sama.
Bosku kemudian bilang, kalau sudah mancing seperti ini, biasanya kita jadi tidak terlalu memikirkan pekerjaan.
Ada telepon masuk? Biarkan sebentar.
Ada urusan kantor? Nanti dulu.
Nikmati momennya.
Dan mungkin memang itu yang kami lakukan hari itu.
Untuk beberapa jam, kami tidak sedang menjadi pekerja, pengajar, manager, atau apa pun. Kami hanya lima orang yang sedang duduk di pinggir kolam, menunggu ikan memakan umpan.
Pengalaman pertama ternyata bukan hanya tentang mencoba sesuatu yang belum pernah kita lakukan.
Kadang, ia juga memberi kesempatan untuk berhenti sebentar.
Hari itu aku belajar satu hal: pertama kali memang selalu menyenangkan. Tapi untuk menjadi ahli, kita harus bersedia melewati hari-hari setelahnya yang tidak selalu menyenangkan.
Mungkin begitu juga dengan hidup.
Kita tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar untuk merasa bahagia. Kadang cukup sebuah ajakan mancing yang datang tiba-tiba, perjalanan satu jam, beberapa ekor ikan, makan bersama, dan keputusan untuk tidak memikirkan pekerjaan selama beberapa jam.
Sisanya, biarkan hari berjalan sendiri.
