Menjadi manusia di zaman sekarang rasanya semakin rumit.
Belakangan ini, beberapa kasus kematian mahasiswa kembali membuatku berpikir. Pada Agustus 2024, seorang mahasiswa UGM angkatan 2021 ditemukan meninggal di kosnya di Sleman. Di waktu yang berdekatan, Aulia Risma Lestari, mahasiswi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Universitas Diponegoro, juga ditemukan meninggal di Semarang. Kasus-kasus tersebut kemudian mendapat perhatian luas dan mendorong pembicaraan tentang kesehatan mental, tekanan pendidikan, beban kerja, hingga dugaan perundungan dalam lingkungan pendidikan. Namun, penyebab seseorang mengakhiri hidup tidak pernah sesederhana satu alasan, dan dalam beberapa kasus, penyelidikan terhadap latar belakangnya masih berlangsung.
Sebagai bagian dari generasi ini, aku merasa ada banyak hal yang perlu kita renungkan bersama.
Dunia yang kita tinggali seolah semakin penuh tuntutan. Akademik, pekerjaan, keluarga, pertemanan, hubungan, bahkan kehidupan di media sosial. Kita terus didorong untuk menjadi lebih baik, berbuat lebih banyak, mencapai lebih tinggi.
Lebih.
Lebih.
Dan lebih.
Sampai tanpa sadar, kita mulai menuntut diri sendiri untuk menjadi sempurna.
Ironisnya, dalam proses mengejar kesempurnaan itu, kita sering lupa bahwa manusia memang tidak diciptakan untuk selalu sempurna. Kita bisa gagal. Kita bisa lelah. Kita bisa kehilangan arah. Bahkan ada hari ketika bangun dari tempat tidur saja terasa seperti sebuah pencapaian.
Tetapi entah kenapa, kita sering merasa tidak punya hak untuk mengakuinya.
Abad ke-21 membawa banyak perubahan terhadap cara kita melihat kehidupan. Kita hidup di tengah budaya yang sering mendorong kita untuk selalu berpikir positif. Be positive. Keep going. You can do it.
Kalimat-kalimat itu tentu tidak salah.
Tapi terkadang aku berpikir, apakah kita juga masih memberikan ruang untuk mengatakan, “Aku sedang tidak baik-baik saja”?
Sebab tidak semua kesedihan harus segera disulap menjadi pelajaran. Tidak semua kegagalan harus langsung dicari sisi positifnya. Ada kalanya kita hanya perlu mengakui bahwa sesuatu memang terasa berat.
Kita terlalu sering melihat pencapaian orang lain tanpa melihat perjuangan yang tidak mereka tampilkan.
Di media sosial, kita melihat wisuda, pekerjaan baru, perjalanan, rumah, kendaraan, hubungan, penghargaan, dan berbagai macam pencapaian. Kita melihat hasil akhirnya, lalu diam-diam membandingkannya dengan kehidupan kita sendiri.
Akhirnya kita merasa tertinggal.
Ketika segala sesuatu mulai diukur dari pencapaian, manusia perlahan bisa lupa bahwa dirinya bukan sebuah angka. Nilai seseorang tidak seharusnya hanya ditentukan dari IPK, jabatan, gaji, gelar, jumlah pengikut, atau seberapa banyak pencapaian yang bisa dipamerkan.
Lalu aku kembali bertanya kepada diri sendiri:
Apakah hidup memang harus selalu tentang pencapaian?
Apakah kita harus selalu menjadi versi terbaik dari diri sendiri?
Dan apakah ketika kita sedang tidak produktif, sedang gagal, sedang lelah, atau sedang kehilangan arah, itu berarti kita sedang menjadi manusia yang tidak berguna?
Menurutku, tidak.
Mungkin kita hanya terlalu lama lupa bahwa hidup juga membutuhkan jeda.
Kita perlu belajar mengenali batas diri sendiri. Belajar mengatakan cukup. Belajar berhenti ketika tubuh dan pikiran sudah meminta istirahat.
Dan yang paling penting, belajar meminta bantuan ketika kita memang membutuhkannya.
Mencari bantuan bukan tanda kelemahan. Bercerita kepada seseorang bukan berarti kita gagal menjadi manusia yang kuat. Mendatangi psikolog atau tenaga profesional ketika kita merasa tidak mampu menanggung semuanya sendirian juga bukan sesuatu yang memalukan.
Justru mungkin, itu adalah bentuk keberanian untuk tetap memilih hidup dan merawat diri.
Aku juga percaya bahwa menjadi pendengar bagi orang lain adalah sesuatu yang sederhana tetapi penting. Tidak selalu harus punya jawaban. Tidak selalu harus memberikan nasihat.
Kadang seseorang hanya membutuhkan tempat untuk bercerita tanpa langsung dihakimi.
Kita tidak harus menjadi penyelamat bagi semua orang. Tetapi mungkin kita bisa menjadi seseorang yang membuat orang lain merasa sedikit lebih aman untuk berkata,
“Aku sedang tidak baik-baik saja.”
Karena bisa jadi, kalimat sederhana itu adalah sesuatu yang selama ini terlalu sulit untuk mereka ucapkan.
Aku berharap kita bisa menciptakan ruang yang lebih manusiawi. Ruang di mana seseorang tidak harus berpura-pura kuat setiap waktu. Ruang di mana kegagalan tidak langsung dianggap sebagai akhir. Ruang di mana seseorang boleh merasa lelah tanpa harus merasa bersalah.
Kita semua sedang berjuang dengan sesuatu yang tidak selalu terlihat.
Mungkin teman kita yang terlihat paling bahagia sedang menyimpan sesuatu.
Mungkin orang yang paling sering tersenyum sedang berusaha keras untuk bertahan.
Mungkin seseorang yang terlihat baik-baik saja sebenarnya hanya sedang belajar menyembunyikan rasa sakitnya.
Kita tidak pernah benar-benar tahu.
Maka, mungkin tidak ada salahnya sedikit lebih lembut kepada diri sendiri dan kepada orang lain.
Kita tidak harus selalu menjadi sempurna.
Tidak harus selalu produktif.
Tidak harus selalu menang.
Tidak harus selalu terlihat baik-baik saja.
Menjadi manusia berarti menerima bahwa ada hari ketika kita kuat dan ada hari ketika kita rapuh. Ada hari ketika kita berlari, dan ada hari ketika kita hanya sanggup berjalan.
Dan tidak apa-apa.
Barangkali hidup bukan tentang menjadi manusia yang selalu berhasil melewati semuanya sendirian.
Barangkali hidup adalah tentang terus mencari alasan untuk bertahan, sambil belajar menerima bahwa kita memang tidak harus selalu baik-baik saja.
Malang, 17 Agustus 2024
