Ada masa ketika kita bertanya kepada Tuhan, “Kenapa harus jalan ini?”
Kita sudah berusaha, sudah berdoa, tapi yang datang justru sesuatu yang tidak pernah kita harapkan. Jalan terasa semakin terjal, rencana berantakan, dan doa-doa seperti belum menemukan jawabannya.
Lalu kita mulai protes.
Kenapa aku harus mengalami ini? Kenapa bukan jalan yang lebih mudah? Kenapa orang lain terlihat begitu lancar, sementara aku harus berkali-kali jatuh?
Mungkin karena kita terlalu ingin memahami semuanya sekarang.
Kita ingin tahu ke mana hidup akan membawa kita. Kita ingin memastikan bahwa setiap keputusan akan berakhir baik. Padahal, kita hanya bisa melihat sebagian kecil dari perjalanan.
Tuhan mungkin melihat sesuatu yang belum mampu kita lihat.
Bukan berarti setiap kesulitan pasti akan langsung terasa indah. Ada luka yang memang menyakitkan. Ada kehilangan yang membutuhkan waktu untuk diterima. Ada doa yang jawabannya mungkin tidak pernah datang dalam bentuk yang kita harapkan.
Dan sebagai manusia, wajar jika sesekali kita bertanya.
Wajar jika kita lelah.
Wajar jika kita menangis dan bahkan mempertanyakan mengapa semua ini harus terjadi.
Tapi setelah itu, mungkin kita perlu kembali diam dan berkata,
“Aku belum mengerti, Tuhan. Tapi aku ingin tetap percaya.”
Sebab mungkin iman bukan tentang memahami seluruh jalan yang sedang kita tempuh. Iman adalah keberanian untuk terus melangkah meski kita belum tahu apa yang menunggu di ujungnya.
Kita boleh punya rencana. Boleh punya keinginan. Boleh berusaha mengubah keadaan.
Namun ketika sesuatu akhirnya berada di luar kendali kita, mungkin di sanalah kita belajar melepaskan.
Bukan karena menyerah.
Tapi karena percaya bahwa hidup tidak selalu harus berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan agar tetap memiliki arti.
Mungkin hari ini kita belum mengerti.
Mungkin besok juga belum.
Tapi tidak apa-apa.
Untuk sementara, cukup berjalan.
Dan jika langkah terasa terlalu berat, berhentilah sejenak, tarik napas, lalu katakan pada diri sendiri:
“Aku percaya kepada Tuhan, bahkan untuk jalan yang belum mampu kupahami.”
