Memasuki rangkaian Kampung Inggris Mengajar (KIM), hari ini, Rabu, 30 September, dilaksanakan grand opening Kampung Inggris Mengajar 5 di Kresna Institute, salah satu lembaga kursus yang berada di kawasan Kampung Inggris, Pare, Kediri.
Ada perasaan yang cukup berbeda ketika aku kembali ke tempat ini.
Tahun 2019, aku pernah belajar di Kresna Institute. Waktu itu aku datang sebagai seorang peserta kursus bahasa Inggris. Duduk di dalam kelas, membuka catatan, dan menyimak materi grammar dengan seksama. Enam tahun kemudian, aku kembali ke tempat yang sama dengan peran yang berbeda.
Kali ini aku datang sebagai salah satu tutor yang akan mengajar dan berpartisipasi dalam program Kampung Inggris Mengajar.
Rasanya seperti melihat kembali diriku sendiri yang dulu.
Dalam acara grand opening ini, hadir sejumlah pihak yang terlibat dalam pelaksanaan KIM, mulai dari Pemerintah Desa Tulungrejo dan Desa Pelem, dua wilayah yang menjadi bagian dari kawasan Kampung Inggris, jajaran kepolisian seperti Kapolres dan Kapolsek, perwakilan Dinas Pendidikan dan Pariwisata, hingga masyarakat yang akan menjadi peserta program.
Pesertanya pun beragam. Ada warga yang baru pertama kali mengikuti Kampung Inggris Mengajar, tetapi ada juga yang sudah mengikuti program ini hingga lima kali berturut-turut.
Salah satu bagian yang cukup menarik bagiku adalah sambutan dari ketua panitia. Ada satu kalimat yang menurutku sederhana, tetapi cukup mengena:
βEnglish is not only a subject, but English is a skill. And skill needs learning and practicing.β
Bahasa Inggris bukan sekadar mata pelajaran. Ia adalah sebuah keterampilan. Dan seperti keterampilan lainnya, kemampuan berbahasa Inggris tidak cukup hanya dipelajari, tetapi juga perlu dipraktikkan.
Karena itu, jangan takut berbicara. Jangan takut membuat kesalahan. Jangan takut mencoba.
Kesalahan dalam belajar bukan akhir dari segalanya. Justru dari kesalahan itulah kita bisa growing better.
Kampung Inggris Mengajar 5
Kampung Inggris Mengajar tahun kelima ini juga terasa sedikit berbeda. Selain masyarakat lokal, program kali ini turut melibatkan Polres Kediri sebagai salah satu peserta.
Sebagai tutor, kami membawa tiga semangat yang menjadi jargon dalam menjalankan program ini: Teaching, Inspiring, and Empowering.
Sementara KIM sendiri punya jargon yang sangat khas:
Ora sinau, ora maju.
Ayo sinau, ayo maju.
Tidak belajar, tidak maju. Ayo belajar, ayo maju.
Dalam grand opening, kami juga melakukan role-play percakapan sederhana antara pedagang jasuke dan para tutor yang berperan sebagai pembeli. Sederhana, tetapi justru dari percakapan seperti inilah kemampuan bahasa Inggris bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Aku sendiri melihat sudah cukup banyak pedagang di sekitar Kampung Inggris yang mengikuti program ini. Beberapa di antara mereka kini terlihat jauh lebih percaya diri ketika berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.
Dan menurutku, di situlah salah satu hal menarik dari Kampung Inggris Mengajar.
Bahasa Inggris tidak berhenti di ruang kelas. Ia dibawa ke warung, jalanan, tempat kerja, dan kehidupan sehari-hari masyarakat yang memang hidup berdampingan dengan ribuan pelajar dari berbagai daerah.
Pelaksanaan Kampung Inggris Mengajar 5 akan dimulai pada 5 Oktober dan berakhir pada 14 Oktober. Selama kurang lebih dua minggu, para tutor akan kembali turun langsung untuk mendampingi masyarakat belajar bahasa Inggris.
Enam tahun lalu aku datang ke Kresna sebagai seorang murid yang sedang belajar grammar.
Hari ini aku kembali sebagai tutor.
Entah bagaimana rasanya bagi diriku yang dulu jika bisa melihat diriku yang sekarang. Tapi satu hal yang aku tahu, perjalanan di Kampung Inggris ternyata sudah membawaku cukup jauh.
Semoga dua minggu ke depan bukan hanya menjadi perjalanan belajar bahasa Inggris bagi para peserta, tetapi juga menjadi perjalanan yang memberi sedikit dampak baik bagi masyarakat Kampung Inggris, para tutor, dan semua orang yang terlibat di dalamnya.
