Kamu yakin semua orang akan setuju dengan gagasanmu bahwa ikhlas itu omong kosong. Saat dimana kamu dipaksa untuk melupakan dan melepaskan sesuatu yang sebenarnya masih ingin kamu pertahankan. Kamu dipaksa menerima kenyataan yang tidak pernah kamu inginkan, berdamai dengan keadaan yang tidak pernah kamu harapkan, lalu berpura-pura baik-baik saja seolah semuanya memang seharusnya terjadi. Sampai pada akhirnya, ketika kamu berhenti menangis, berhenti bertanya, dan tidak lagi berusaha mengembalikan sesuatu yang sudah hilang, orang-orang akan berkata bahwa kamu sudah ikhlas. Padahal, mereka tidak pernah benar-benar tahu berapa banyak hal yang harus kamu lawan sendirian untuk sampai di titik itu.
Aneh, bukan? Betapa mudahnya orang lain menyuruhmu ikhlas atas sesuatu yang tidak pernah mereka miliki, kehilangan yang tidak pernah mereka rasakan, atau seseorang yang tidak pernah menjadi bagian penting dalam hidup mereka. Mereka bilang, semua sudah ada jalannya. Ada yang lebih baik menantimu di depan sana. Waktu akan menyembuhkan semuanya. Kamu hanya perlu menerima dan melanjutkan hidup.
Kalimat-kalimat itu mungkin terdengar masuk akal. Bahkan, mungkin memang benar. Namun, memahami sesuatu dengan kepala dan menerimanya dengan hati adalah dua perkara yang berbeda. Kamu bisa memahami mengapa sesuatu harus berakhir, tetapi bukan berarti kamu siap kehilangan. Kamu bisa tahu bahwa seseorang tidak lagi ingin tinggal, tetapi bukan berarti kamu berhenti berharap dia berubah pikiran. Kamu juga bisa mengerti bahwa sebuah kesempatan sudah berlalu, tetapi bukan berarti kamu tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya jika kesempatan itu masih menjadi milikmu.
Sayangnya, hidup tidak selalu memberi waktu kepada perasaan untuk mengejar kenyataan. Sesuatu bisa berakhir hari ini, sementara hatimu mungkin baru benar-benar memahaminya beberapa bulan, bahkan bertahun-tahun kemudian.
Barangkali, ikhlas hanyalah nama yang diberikan kepada seseorang yang sudah terlalu lelah untuk terus berharap.
Kamu sudah mencoba berbagai cara. Memikirkan kemungkinan yang lain, mencari alasan mengapa semuanya bisa terjadi, mengulang kembali percakapan yang pernah berlangsung, sampai membayangkan hal-hal yang seharusnya kamu lakukan secara berbeda. Kamu bertanya-tanya apakah hasilnya akan berubah jika waktu itu kamu memilih jalan yang lain, mengatakan sesuatu yang berbeda, atau berusaha sedikit lebih keras.
Namun, semakin jauh kamu berjalan dalam pikiranmu sendiri, semakin kamu menyadari bahwa tidak ada satu pun dari semua kemungkinan itu yang bisa mengubah kenyataan. Kamu hanya sedang menghabiskan waktu untuk berdebat dengan sesuatu yang sudah selesai.
Lalu, pada suatu titik, kamu lelah.
Bukan karena sudah tidak peduli. Bukan pula karena semua kenangan itu tiba-tiba kehilangan maknanya. Kamu hanya tidak lagi memiliki tenaga untuk terus-menerus memperjuangkan sesuatu yang tidak bisa kamu kendalikan. Kamu mulai berhenti mencari jawaban, berhenti menunggu kabar, dan berhenti menyusun kemungkinan tentang masa depan yang mungkin tidak akan pernah terjadi.
Orang lain mungkin melihatnya sebagai tanda bahwa kamu sudah berhasil mengikhlaskan semuanya. Padahal, mungkin kamu hanya sedang belajar bertahan hidup dengan kenyataan yang ada.
Bukankah terkadang hidup memang sesederhana itu? Kamu tidak benar-benar sembuh, tetapi tetap harus bangun pagi. Kamu masih merindukan seseorang, tetapi pekerjaan tidak bisa diselesaikan dengan terus-menerus memikirkannya. Kamu masih menyimpan penyesalan, tetapi hari esok tetap datang tanpa meminta izin terlebih dahulu.
Kamu tetap harus mandi, makan, bekerja, menyelesaikan tanggung jawab, dan menjalani hari-hari yang terus bergerak. Dunia tidak pernah benar-benar berhenti hanya karena ada sesuatu di dalam dirimu yang belum selesai.
Mungkin karena itulah manusia akhirnya belajar melepaskan. Bukan selalu karena sudah siap, melainkan karena tidak punya pilihan lain.
Namun, ada satu hal yang perlu kamu pahami. Melepaskan tidak selalu berarti melupakan. Kamu tidak harus menghapus semua kenangan untuk membuktikan bahwa kamu sudah melanjutkan hidup. Kamu tidak harus membenci seseorang hanya karena hubungan dengannya tidak lagi bisa dipertahankan. Kamu juga tidak perlu menganggap semua yang pernah kamu perjuangkan sebagai kesalahan hanya karena hasil akhirnya tidak sesuai harapan.
Ada hal-hal yang tetap berharga meskipun tidak bisa kamu miliki selamanya.
Seseorang mungkin pernah membuatmu merasa menjadi manusia paling bahagia di dunia, meskipun pada akhirnya dia juga menjadi alasan mengapa kamu harus belajar menerima kehilangan. Sebuah perjalanan mungkin pernah menjadi bagian paling menyenangkan dalam hidupmu, meskipun kamu tidak akan pernah bisa mengulanginya dengan orang-orang yang sama. Sebuah mimpi mungkin pernah membuatmu begitu bersemangat menjalani hari, meskipun kenyataan kemudian membawamu ke arah yang berbeda.
Apakah semua itu lantas menjadi tidak berarti hanya karena akhirnya tidak berjalan sesuai keinginanmu?
Tentu tidak.
Kamu boleh merindukan sesuatu tanpa harus kembali kepadanya. Kamu boleh mengingat seseorang tanpa harus menghubunginya. Kamu boleh menyesali keputusan masa lalu tanpa harus terus menghukum dirimu sendiri. Dan kamu boleh bersedih atas sesuatu yang sudah berakhir tanpa harus merasa bahwa kamu gagal menjadi manusia yang dewasa.
Sebab, menjadi dewasa bukan berarti kamu harus selalu mampu menerima segala sesuatu dengan lapang dada. Ada kalanya kamu tetap kecewa, marah, sedih, bahkan mempertanyakan mengapa hidup harus berjalan seperti ini. Tidak ada yang salah dengan perasaan-perasaan itu. Kamu tidak harus terburu-buru mengubah kesedihan menjadi pelajaran hidup hanya supaya semuanya terlihat lebih masuk akal.
Tidak semua luka harus segera menghasilkan kebijaksanaan. Tidak semua kehilangan harus langsung membuatmu menjadi lebih kuat. Terkadang, kamu hanya perlu mengakui bahwa sesuatu memang menyakitkan, tanpa harus mencari sisi baiknya saat itu juga.
Barangkali, selama ini kamu terlalu sibuk berusaha menjadi seseorang yang bisa menerima segalanya sampai lupa bahwa kamu juga manusia yang boleh merasa kecewa.
Kamu boleh berharap sesuatu berjalan sesuai keinginanmu. Kamu boleh menginginkan seseorang tetap tinggal. Kamu boleh berharap sebuah kesempatan datang kembali. Kamu boleh merasa bahwa hidup tidak adil ketika sesuatu yang begitu kamu perjuangkan justru berakhir dengan cara yang tidak pernah kamu bayangkan.
Keinginan-keinginan itu tidak membuatmu lemah. Yang perlu kamu pelajari adalah bagaimana menghadapi kenyataan ketika hidup tidak memberikan apa yang kamu inginkan.
Sebab, ada perbedaan antara mempertahankan sesuatu yang masih mungkin diperjuangkan dan memaksakan diri untuk menggenggam sesuatu yang sudah tidak bisa kamu miliki. Keduanya mungkin terasa sama-sama sulit, tetapi tidak selalu membutuhkan tindakan yang sama.
Kamu perlu tahu kapan harus berusaha lebih keras dan kapan harus berhenti. Kapan harus memperbaiki sesuatu dan kapan harus menerima bahwa tidak semua hal bisa diperbaiki. Kapan harus bertahan dan kapan harus pergi, meskipun sebagian dirimu masih ingin tinggal.
Tidak ada rumus yang selalu berhasil untuk semua keadaan. Kamu hanya bisa belajar mengenali batas dirimu sendiri, memahami apa yang masih berada dalam kendalimu, dan menerima bahwa ada hal-hal yang memang tidak bisa kamu atur sesuka hati.
Mungkin, ikhlas bukan tentang berhenti menginginkan sesuatu. Mungkin, ikhlas adalah ketika kamu masih menginginkannya, tetapi perlahan berhenti memaksa kehidupan untuk memberikannya kepadamu.
Kamu masih boleh berharap, tetapi tidak harus menggantungkan seluruh kebahagiaanmu pada harapan itu. Kamu masih boleh menyimpan kenangan, tetapi tidak perlu menjadikan masa lalu sebagai tempat tinggal. Kamu masih boleh menyayangi seseorang, tetapi juga harus memahami bahwa perasaanmu tidak otomatis membuat seseorang memiliki kewajiban untuk tinggal.
Pada akhirnya, kamu tidak harus melupakan semuanya untuk bisa melanjutkan hidup. Ada kenangan yang mungkin akan tetap tinggal, ada nama yang sesekali masih muncul dalam pikiran, dan ada bagian dari dirimu yang mungkin akan selalu mengingat bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang pernah begitu berarti.
Biarkan saja.
Tidak semua hal yang menetap di dalam ingatan harus kembali menjadi bagian dari kehidupanmu. Ada yang cukup dikenang, ada yang cukup disyukuri karena pernah hadir, dan ada pula yang perlu kamu tinggalkan meskipun kamu tidak pernah benar-benar menginginkan perpisahan itu.
Jadi, apakah ikhlas memang omong kosong?
Mungkin, jika ikhlas dimaknai sebagai kewajiban untuk segera melupakan, berhenti bersedih, dan menerima segala sesuatu tanpa protes. Namun, jika ikhlas adalah proses panjang untuk berhenti melawan kenyataan yang tidak bisa diubah, mungkin ada sesuatu yang bisa kamu pelajari darinya.
Kamu tidak harus menyukai kenyataan yang terjadi. Kamu tidak harus setuju dengan cara hidup mengambil sesuatu darimu. Kamu bahkan tidak harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Kamu hanya perlu perlahan memahami bahwa tidak semua yang kamu inginkan akan menjadi milikmu, tidak semua yang kamu perjuangkan akan berakhir sesuai harapan, dan tidak semua yang kamu cintai bisa kamu pertahankan selamanya.
Barangkali, pada akhirnya, kamu tidak benar-benar melupakan atau melepaskan semuanya. Kamu hanya belajar menjalani hidup tanpa terus-menerus meminta masa lalu untuk kembali.
Dan jika suatu hari nanti kamu bisa mengingat semuanya tanpa lagi merasa perlu mengubah apa yang sudah terjadi, mungkin itulah yang selama ini disebut ikhlas.
Bukan karena kamu sudah tidak peduli. Bukan karena semuanya tidak lagi berarti. Melainkan karena kamu akhirnya mengerti bahwa ada hal-hal yang boleh tetap kamu inginkan, meskipun tidak lagi bisa kamu miliki.
Kamu tidak harus menang dalam setiap kehilangan. Terkadang, cukup dengan berhenti menyakiti diri sendiri demi sesuatu yang sudah tidak bisa kembali, kamu sudah melakukan hal yang paling sulit.
Lalu, jika orang-orang bertanya apakah kamu sudah ikhlas, kamu tidak perlu buru-buru menjawab iya.
Sebab, hanya kamu yang tahu seberapa jauh perjalananmu untuk sampai ke titik ini. Hanya kamu yang tahu apa yang masih tersisa, apa yang perlahan memudar, dan apa yang mungkin akan selalu kamu simpan diam-diam.
Biarkan waktu yang menjawabnya.
Sementara itu, lanjutkan saja hidupmu. Bukan untuk membuktikan bahwa kamu sudah melupakan semuanya, tetapi karena dirimu yang sekarang juga layak mendapatkan kesempatan untuk bahagia.
Toh, hidupmu tidak seharusnya berhenti hanya karena ada sesuatu yang tidak bisa kamu bawa sampai akhir perjalanan.
