Ada perasaan yang terkadang sulit kamu jelaskan, terutama ketika kamu menyadari bahwa masih memiliki orang tua adalah sebuah privilege. Ah, bodoh sekali, kamu justru merasa enggan untuk pulang. Kamu memahami bahwa waktu bersama mereka tidak akan berlangsung selamanya. Kamu tahu, usia mereka semakin menua dan belum tentu besok masih ada kesempatan untuk berbakti, membahagiakan, atau sekadar duduk bersama mereka di ruang tamu. Namun, memahami semua itu ternyata tidak selalu membuatmu ingin segera pulang.
Entahlah, perasaan itu terasa begitu hambar.
Seharusnya minggu ini kamu pulang ke rumah. Namun, entah kenapa, kamu justru lebih ingin menghabiskan waktu sendiri di kamar atau pergi mendaki gunung. Ada sesuatu yang membuatmu merasa lebih nyaman berada jauh dari rumah, meskipun secara logika kamu tahu bahwa pulang adalah hal yang seharusnya kamu lakukan.
Kamu memahami semuanya secara objektif. Kamu tahu, orang tua tidak akan selamanya ada. Kamu juga mengerti bahwa suatu hari nanti, mungkin kamu akan merindukan hal-hal sederhana yang sekarang justru terasa biasa saja. Suara ibu yang menelepon, pertanyaan bapak tentang pekerjaan, atau obrolan ringan yang terkadang tidak terlalu kamu tanggapi.
Kamu tahu semua itu berharga. Namun, mengapa rasanya begitu sulit untuk sekadar pulang?
Minggu siang, ibumu menelepon. Ia bertanya kenapa kamu tidak pulang. Dengan nada yang mungkin terdengar biasa saja, kamu menjawab datar, mungkin minggu depan.
Ah, bodoh sekali.
Padahal, ibumu hanya ingin bertemu denganmu. Ia tidak meminta sesuatu yang rumit. Ia hanya ingin kamu pulang dan mengunjunginya, setidaknya setiap tiga minggu sekali. Sesederhana itu.
Pernah suatu ketika, ibumu mengatakan bahwa sekarang kamu belum memiliki istri, tetapi sudah jarang pulang. Ia kemudian bertanya, bagaimana nanti kalau kamu sudah berkeluarga?
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, tetapi kalau dipikirkan lebih jauh, ada sesuatu yang cukup menyentuh di dalamnya. Ibumu tidak sedang menuntut banyak hal. Ia hanya ingin tetap memiliki waktu bersama anaknya, seseorang yang sejak kecil pernah ia rawat, yang kini perlahan tumbuh dewasa dan mulai memiliki kehidupan sendiri.
Sementara itu, kamu sedang sibuk membangun kehidupanmu sendiri. Bekerja, mengejar mimpi, merencanakan masa depan, dan mencoba menjadi seseorang yang lebih baik daripada dirimu kemarin.
Tidak ada yang salah dengan semua itu. Kamu memang perlu bertumbuh, mandiri, dan belajar bertanggung jawab atas kehidupanmu sendiri. Namun, terkadang, di tengah kesibukan mengejar masa depan, kamu lupa bahwa ada orang-orang yang juga ingin menjadi bagian dari perjalananmu hari ini.
Dan mungkin, ibumu hanya ingin menjadi bagian dari itu.
Tumbuh Mandiri, tetapi Terbiasa Merasa Sendiri
Kalau dipikir-pikir, mungkin persoalan ini tidak sesederhana malas pulang atau lebih suka menghabiskan waktu sendirian. Ada sesuatu yang lebih panjang di belakangnya.
Kamu tidak tumbuh dengan kedekatan emosional yang begitu kuat bersama keluarga. Sejak SMP, kamu sudah terbiasa tinggal di asrama dan menjalani banyak hal sendiri. Bahkan sejak SD, ada masa ketika perhatian orang tua terasa terbatas karena mereka sibuk bekerja.
Setelah lulus SMA, kamu mulai menghadapi tuntutan kehidupan yang semakin besar. Kamu harus mengambil keputusan sendiri, menyelesaikan persoalanmu sendiri, dan belajar memahami dirimu tanpa selalu memiliki tempat untuk bercerita.
Kamu bertarung dengan pikiranmu sendiri. Kamu belajar berdamai dengan keadaan, menemukan jalan keluar, dan perlahan membangun kehidupan yang kamu inginkan.
Kamu terbiasa merasa sendiri.
Bukan berarti kamu benar-benar tidak memiliki siapa-siapa. Namun, ada perbedaan antara mengetahui bahwa seseorang menyayangimu dan benar-benar merasakan kedekatan dengannya.
Kamu tahu orang tuamu menyayangimu. Kamu percaya bahwa dalam diam dan sujud mereka, ada doa-doa tulus yang selalu menyertaimu. Kamu juga memahami bahwa mereka berusaha mendukungmu dengan cara yang mereka mampu.
Kondisi kehidupanmu sekarang pun berbeda dengan beberapa tahun lalu. Hari-harimu dipenuhi pekerjaan, sedangkan sebelumnya kamu masih harus membagi waktu untuk menyelesaikan studi magister, termasuk pergi ke kampus di kota berbeda setiap akhir pekan.
Ibumu memahami itu. Ia tahu kamu sedang berusaha membangun kehidupanmu sendiri.
Namun, memahami kasih sayang orang tua secara logika ternyata tidak selalu membuatmu otomatis merasakan kedekatan secara emosional.
Mungkin kamu menyayangi mereka, tetapi tidak selalu tahu bagaimana cara menunjukkan atau merasakannya. Mungkin kamu ingin dekat, tetapi sudah terlalu lama terbiasa menjaga jarak. Mungkin ada bagian dari dirimu yang masih belajar memahami bahwa rumah bukan hanya tempat untuk pulang, melainkan juga tempat untuk membangun kembali hubungan yang selama ini terasa jauh.
Dan untuk memahami semua itu, mungkin kamu membutuhkan waktu.
Kamu tidak harus langsung menemukan jawabannya hari ini. Kamu juga tidak perlu memaksakan diri untuk tiba-tiba merasakan kedekatan yang selama ini belum sepenuhnya kamu temukan.
Namun, setidaknya, kamu bisa mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang ingin kamu perbaiki.
Mengapa Kamu Lebih Bahagia Saat Mendaki Gunung?
Belakangan ini, kamu mulai bertanya kepada dirimu sendiri. Mengapa setiap kali pergi mendaki gunung atau bermain ke alam, kamu selalu merasa begitu bersemangat? Mengapa perjalanan yang melelahkan justru bisa membuatmu merasa lebih hidup, sedangkan pulang ke rumah terkadang terasa seperti sesuatu yang ingin kamu tunda?
Jawaban paling sederhana yang muncul adalah karena di alam, kamu bisa menjadi dirimu sendiri.
Di gunung, kamu tidak perlu memikirkan terlalu banyak ekspektasi. Kamu hanya perlu berjalan, menikmati pemandangan, menjaga keselamatan, dan memastikan bisa kembali pulang dengan selamat. Ada tantangan yang harus dihadapi, ada hal-hal baru yang bisa ditemukan, dan ada ruang untuk mendengarkan pikiranmu sendiri.
Kamu bisa menikmati kesunyian tanpa harus menjelaskan apa pun kepada siapa pun.
Kamu bisa duduk memandangi kabut, berjalan melewati hutan, atau menghabiskan waktu di puncak tanpa merasa harus menjadi seseorang yang memenuhi harapan orang lain.
Di sana, kamu merasa bebas.
Sementara itu, ketika pulang ke rumah, ada kemungkinan kamu justru kembali berhadapan dengan berbagai ekspektasi. Pertanyaan tentang masa depan, pekerjaan, pasangan hidup, dan hal-hal lain yang mungkin belum sepenuhnya siap kamu jawab.
Bukan berarti orang tuamu selalu bermaksud memberikan tekanan. Bisa jadi, mereka hanya ingin mengetahui perkembangan hidupmu, memastikan kamu baik-baik saja, atau menunjukkan kepedulian dengan cara yang mereka pahami.
Namun, sesuatu yang dimaksudkan sebagai bentuk perhatian terkadang tetap bisa terasa seperti tekanan bagi seseorang yang sedang berusaha menemukan jalannya sendiri.
Di satu sisi, kamu ingin membahagiakan orang tua. Di sisi lain, kamu juga ingin memiliki ruang untuk menentukan kehidupanmu tanpa merasa harus selalu menjelaskan setiap keputusan.
Kamu ingin pulang, tetapi juga ingin mempertahankan kebebasan yang selama ini kamu temukan ketika berada jauh dari rumah.
Mungkin itulah salah satu alasan mengapa perasaanmu menjadi begitu rumit.
Kamu tidak sedang memilih antara menyayangi orang tua atau menyayangi dirimu sendiri. Kamu hanya sedang belajar bagaimana menjalankan keduanya tanpa terus-menerus merasa bersalah.
Kamu Tidak Harus Menunggu Perasaan Itu Datang
Beberapa minggu lalu, kamu sempat merasakan sesuatu yang berbeda. Ada keinginan yang begitu kuat untuk membahagiakan ibu. Kamu bahkan pernah mengatakan kepada dirimu sendiri bahwa ketika orang-orang mulai menuntutmu untuk segera menemukan perempuan yang akan menjadi istrimu, kamu justru ingin lebih dahulu membahagiakan perempuan yang sudah kamu miliki dalam hidupmu: ibumu.
Kalimat itu terasa begitu sederhana, tetapi saat itu kamu benar-benar mempercayainya.
Kamu ingin membuatnya bahagia. Kamu ingin lebih sering pulang, menghabiskan waktu bersamanya, dan menunjukkan bahwa semua perjuangan yang telah ia lakukan tidak pernah kamu lupakan.
Namun, entah kenapa, perasaan itu perlahan menghilang. Kamu kembali merasa hambar, kembali enggan pulang, dan kembali bertanya-tanya mengapa sesuatu yang sebelumnya terasa begitu penting mendadak menjadi sulit dilakukan.
Mungkin kamu berharap perasaan sayang itu akan muncul dengan sendirinya. Kamu menunggu sampai benar-benar rindu, menunggu sampai merasa ingin pulang, atau menunggu sampai ada dorongan emosional yang membuat semuanya terasa lebih mudah.
Namun, pagi tadi, seorang teman memberikan sudut pandang yang cukup menarik. Mungkin sekarang waktunya kamu mencari atau menciptakan sesuatu yang membuat pulang terasa menyenangkan, seperti halnya ketika kamu mendaki gunung.
Kalimat itu membuatmu berpikir.
Bagaimana jika selama ini kamu terlalu sibuk menunggu perasaan yang tepat, padahal kamu bisa mulai menciptakan pengalaman yang perlahan menumbuhkan perasaan itu?
Kamu tidak harus menunggu rindu untuk menelepon ibu. Kamu tidak harus menunggu merasa ingin pulang untuk membeli makanan kesukaannya. Kamu tidak harus menunggu kedekatan itu muncul dengan sendirinya untuk mulai duduk bersama bapak dan mendengarkan ceritanya.
Mungkin kamu bisa mulai dengan hal-hal sederhana. Pulang tanpa membawa ekspektasi bahwa semuanya harus langsung terasa hangat. Mengajak ibu makan di luar, membantu bapak mengerjakan sesuatu, atau sekadar menghabiskan sore bersama mereka tanpa sibuk memikirkan hal lain.
Tidak harus selalu ada percakapan mendalam. Tidak harus ada momen emosional yang membuatmu tiba-tiba menyadari betapa berharganya keluarga.
Terkadang, kedekatan dibangun dari hal-hal yang sangat biasa. Dari kehadiran yang diulang, percakapan kecil yang perlahan menjadi kebiasaan, dan waktu yang diberikan tanpa harus menunggu alasan khusus.
Mungkin, pada awalnya, kamu tetap akan merasa canggung. Mungkin kamu masih akan lebih menikmati waktu sendirian atau merasa ingin segera kembali ke rutinitasmu. Tidak apa-apa. Kamu tidak harus langsung menyukai setiap prosesnya.
Yang penting, kamu mulai memberikan kesempatan kepada dirimu sendiri untuk membangun sesuatu yang selama ini terasa jauh.
Sebab, hubungan yang baik tidak selalu dimulai dari perasaan yang besar. Terkadang, hubungan itu tumbuh karena seseorang memilih untuk tetap hadir, bahkan ketika perasaannya belum sepenuhnya menemukan tempat.
Sebelum Waktunya Terlambat
Jujur, ada sesuatu yang kamu takutkan dari semua ini.
Kamu takut jika perasaan itu tidak kunjung datang. Kamu takut terlalu lama mencari jawaban, terlalu sibuk memahami dirimu sendiri, sampai akhirnya waktu yang tersedia justru habis lebih dahulu.
Kamu takut suatu hari nanti, ketika benar-benar ingin hadir sepenuhnya untuk orang tua, kesempatan itu sudah tidak ada.
Kamu membayangkan hari ketika ingin menelepon ibu, tetapi tidak ada lagi suara yang menjawab. Hari ketika ingin pulang, tetapi rumah tidak lagi terasa sama karena orang-orang yang selama ini kamu anggap akan selalu ada ternyata sudah tidak bisa kamu temui.
Mungkin kamu belum siap membayangkan kemungkinan itu. Namun, kamu tahu bahwa waktu tidak pernah benar-benar menunggu siapa pun.
Usia orang tuamu bertambah. Usiamu juga bertambah. Kehidupan terus berjalan, dan tidak ada yang bisa memastikan berapa banyak kesempatan yang masih tersisa.
Kamu tidak ingin menghabiskan masa muda hanya untuk mengejar mimpi, lalu menyadari bahwa ada bagian penting dari kehidupan yang tidak sempat kamu nikmati.
Namun, kamu juga tidak ingin menjalani semuanya dengan rasa bersalah. Kamu tidak ingin pulang hanya karena takut dianggap sebagai anak yang tidak berbakti. Kamu ingin suatu hari nanti bisa pulang dengan perasaan yang lebih lapang, menikmati waktu bersama keluarga bukan hanya karena merasa wajib, melainkan karena benar-benar ingin hadir di sana.
Dan mungkin, perjalanan menuju perasaan itu memang membutuhkan usaha.
Pagi tadi, kamu mulai memahami bahwa kamu tidak harus menunggu sampai benar-benar ingin pulang. Kamu bisa menciptakan alasan untuk pulang. Kamu bisa merencanakan kegiatan kecil bersama ibu dan bapak, membawa sesuatu yang mereka sukai, atau mengajak mereka melakukan hal sederhana yang selama ini jarang dilakukan bersama.
Kamu bisa mulai membangun kenangan baru, bukan hanya mengandalkan kenangan masa kecil yang mungkin terasa jauh.
Barangkali, kamu juga perlu belajar melihat rumah dari sudut pandang yang berbeda. Bukan hanya sebagai tempat yang menyimpan tuntutan dan ekspektasi, tetapi sebagai tempat di mana ada dua orang yang ingin melihat anaknya baik-baik saja.
Mereka mungkin tidak selalu tahu bagaimana cara menyampaikan kasih sayang dengan cara yang kamu butuhkan. Kamu pun mungkin belum sepenuhnya tahu bagaimana cara menerima dan membalasnya.
Namun, kalian masih memiliki kesempatan untuk belajar.
Kamu tidak perlu menunggu semuanya sempurna untuk memulainya.
Pada akhirnya, kamu menyadari bahwa membahagiakan orang tua bukan berarti harus mengorbankan seluruh kehidupanmu sendiri. Kamu tetap boleh mengejar mimpi, pergi mendaki gunung, membangun karier, dan menikmati waktu sendirian. Kamu tetap berhak memiliki ruang untuk bertumbuh menjadi dirimu sendiri.
Namun, di tengah semua perjalanan itu, jangan sampai kamu lupa menyediakan ruang bagi mereka.
Mungkin kamu tidak bisa mengubah masa lalu atau tiba-tiba membangun kedekatan yang belum pernah benar-benar terbentuk. Namun, kamu masih bisa menentukan bagaimana ingin menjalani hubungan itu mulai hari ini.
Kamu tidak akan menunggu perasaan rindu datang untuk pulang. Kamu akan mencoba menciptakan alasan agar pulang menjadi sesuatu yang menyenangkan.
Kamu tidak akan menunggu sampai benar-benar merasa dekat untuk mulai hadir. Kamu akan belajar membangun kedekatan itu sedikit demi sedikit.
Bukankah memang seharusnya begitu?
Sebab, terkadang, hal-hal yang paling berharga dalam hidup tidak selalu datang dengan perasaan yang menyenangkan sejak awal. Ada yang perlu diusahakan, dirawat, dan diberikan waktu agar bisa tumbuh.
Dan mungkin, kali ini, perjalanan yang perlu kamu lakukan bukan perjalanan menuju puncak gunung, melainkan perjalanan untuk menemukan kembali jalan pulang.
Bukan hanya pulang ke sebuah rumah, tetapi juga pulang kepada hubungan yang ingin kamu bangun bersama orang-orang yang selama ini, dengan segala keterbatasannya, telah berusaha menyayangimu.
Kamu tidak tahu seberapa cepat perasaan itu akan tumbuh. Namun, setidaknya, kamu tidak ingin terus menunggu sampai semuanya terlambat.
Kali ini, kamu akan mulai melangkah lebih dahulu.
