Dalam rangka kehilangan arah, pikiranmu liar mencari jawaban sampai akhirnya kembali kamu temukan ambisi yang sederhana it. Sejak beberapa hari terakhir, kamu kembali banyak menghabiskan waktu dengan membaca buku. Algoritma media sosialmu pun mulai dipenuhi konten tentang buku, rekomendasi bacaan, ulasan novel, hingga cerita orang-orang yang membangun perpustakaan pribadi. Setelah menyelesaikan empat novel dalam tiga hari, kamu menyadari satu hal yang selama ini mungkin terlupakan. Ternyata, ada kebahagiaan sederhana yang tidak membutuhkan pencapaian besar, perjalanan jauh, atau pengakuan dari banyak orang. Kamu hanya perlu membaca, menikmati cerita, dan membiarkan pikiranmu berkelana ke berbagai tempat yang bahkan belum pernah kamu kunjungi.
Lucu juga, bagaimana sesuatu yang sederhana bisa mengingatkanmu pada hal-hal besar yang pernah kamu impikan.
Saat melihat berbagai video tentang buku, tiba-tiba kamu teringat kembali pada ambisi yang sebenarnya ingin kamu bangun sejak lama. Membaca lebih banyak buku, menulis, membuat karya, dan meninggalkan sesuatu yang bisa dibaca atau dinikmati orang lain. Sesederhana itu. Namun, entah bagaimana, kamu justru sering melupakan hal-hal sederhana tersebut karena terlalu sibuk membayangkan pencapaian yang lebih besar.
Kamu terlalu sibuk memikirkan masa depan, sampai terkadang lupa mempersiapkan diri untuk benar-benar berada di sana.
Terlalu Sibuk Membayangkan Masa Depan
Kamu punya banyak keinginan. Ingin menjadi penulis, membuat konten, membangun personal branding, mengembangkan kemampuan di bidang human resources, menjelajahi berbagai tempat, sampai suatu hari nanti bisa bepergian ke luar negeri tanpa terlalu memikirkan biaya perjalanan. Semua itu adalah hal-hal yang menarik untuk dikejar. Kamu punya banyak rasa ingin tahu dan selalu ingin mencoba sesuatu yang baru.
Masalahnya, terkadang ambisimu tumbuh jauh lebih cepat daripada kemampuanmu untuk mewujudkannya.
Kamu membayangkan kehidupan yang besar, berbagai kemungkinan yang terbuka, dan dirimu di masa depan yang sudah berhasil mencapai banyak hal. Namun, kamu lupa bahwa menjadi seseorang yang kamu bayangkan membutuhkan proses panjang. Ada pengetahuan yang harus dipelajari, keterampilan yang perlu diasah, kebiasaan yang harus dibangun, dan kondisi keuangan yang perlu dipersiapkan.
Kamu ingin sampai di suatu tempat, tetapi terkadang belum benar-benar siap menjalani kehidupan yang ada di sana.
Pernahkah kamu membayangkan bagaimana rasanya jika semua ambisi itu benar-benar terwujud?
Kamu memiliki banyak klien, pekerjaan berdatangan, proyek yang harus diselesaikan, dan kesempatan yang semakin terbuka. Ponselmu terus berbunyi. Ada pesan yang harus dibalas, telepon yang perlu diangkat, jadwal pertemuan yang harus diatur, serta berbagai keputusan yang menuntut perhatianmu. Belum lagi tanggung jawab untuk menjaga kualitas pekerjaan dan memenuhi harapan orang-orang yang telah mempercayaimu.
Kehidupan yang selama ini kamu impikan ternyata juga membawa tanggung jawab yang tidak sedikit.
Ada satu kalimat dari film-film Marvel yang masih kamu ingat, meskipun mungkin kamu tidak ingat lagi siapa yang pertama kali mengucapkannya dalam konteks yang kamu kenal: With great power comes great responsibility.
Dengan kekuatan yang besar, datang pula tanggung jawab yang besar.
Kamu bisa saja mengejar kehidupan yang lebih besar, tetapi apakah kamu sudah siap dengan tanggung jawab yang menyertainya? Apakah kamu sudah memiliki keterampilan, pengetahuan, kedisiplinan, dan ketenangan yang cukup untuk menjalaninya?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuatmu berpikir ulang.
Barangkali, selama ini kamu terlalu sibuk mengejar kehidupan yang kamu inginkan, sampai lupa mempersiapkan diri untuk menjalaninya. Kamu ingin memiliki banyak proyek, tetapi belum tentu sudah mampu mengelola semuanya. Kamu ingin memiliki banyak kesempatan, tetapi belum tentu sudah siap menentukan mana yang benar-benar perlu diambil.
Kamu tidak kekurangan ambisi. Kamu hanya perlu belajar mengarahkannya.
Ternyata, Kamu Hanya Membutuhkan Ketenangan
Semakin dipikirkan, semakin kamu menyadari bahwa kehidupan yang kamu inginkan sebenarnya tidak harus serumit itu.
Kamu tidak harus selalu sibuk untuk merasa produktif. Kamu tidak harus terus-menerus menerima pekerjaan untuk merasa berkembang. Kamu juga tidak perlu mengejar semua kesempatan hanya karena takut kehilangan kemungkinan untuk menjadi seseorang yang lebih besar.
Terkadang, yang kamu butuhkan hanyalah kestabilan dan ketenangan.
Kamu ingin memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan hidup, membeli buku yang ingin dibaca, membangun perpustakaan pribadi, dan sesekali pergi berlibur ke tempat yang belum pernah dikunjungi. Kamu ingin punya waktu untuk menulis, membuat video, mempelajari sesuatu yang baru, dan menikmati kopi tanpa harus terus-menerus memeriksa ponsel.
Kamu ingin bekerja, tetapi juga ingin tetap memiliki kehidupan di luar pekerjaan.
Kamu ingin berkembang, tetapi tidak ingin kehilangan dirimu sendiri dalam prosesnya.
Bukankah itu terdengar lebih masuk akal?
Mungkin kamu tidak benar-benar menginginkan kehidupan yang dipenuhi kesibukan. Kamu hanya ingin memiliki kebebasan untuk melakukan hal-hal yang kamu sukai tanpa terus-menerus dibatasi oleh keadaan keuangan, kemampuan, atau tuntutan pekerjaan.
Kamu ingin punya pilihan.
Namun, kebebasan seperti itu tentu tidak datang begitu saja. Kamu tetap perlu bekerja, meningkatkan kemampuan, mengatur keuangan, dan membangun sesuatu yang bisa menopang kehidupanmu di masa depan. Bedanya, kali ini kamu ingin melakukannya dengan arah yang lebih jelas.
Bukan sekadar mengejar sebanyak mungkin pencapaian, melainkan membangun kehidupan yang benar-benar ingin kamu jalani.
Membaca Buku, Sebuah Ambisi yang Sederhana
Setelah cukup lama memikirkan berbagai hal, kamu akhirnya kembali pada sesuatu yang sederhana: membaca buku.
Empat novel dalam tiga hari mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang. Namun, bagi kamu, pengalaman itu seperti menemukan kembali sesuatu yang sempat hilang. Kamu kembali menikmati proses membaca, mengikuti cerita, mengenal karakter, dan membiarkan pikiranmu beristirahat sejenak dari berbagai urusan yang selama ini memenuhi kepala.
Kamu juga menyadari bahwa membaca bukan hanya tentang menyelesaikan buku sebanyak mungkin.
Ada sesuatu yang lebih menarik dari itu. Setiap buku memberimu kesempatan untuk melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Kamu bisa memahami perasaan seseorang melalui cerita, menemukan pertanyaan baru dari sebuah pemikiran, atau sekadar menikmati perjalanan tokoh-tokoh fiksi yang mungkin tidak pernah benar-benar ada.
Tentu saja, tidak semua buku akan meninggalkan kesan mendalam. Ada buku yang selesai dibaca lalu perlahan terlupakan. Ada pula kalimat yang terasa begitu berarti hari ini, tetapi beberapa bulan kemudian kamu bahkan tidak ingat pernah membacanya.
Namun, bukankah itu juga alasan untuk terus membaca?
Kamu tidak harus mengingat setiap halaman. Kamu hanya perlu terus memberikan kesempatan kepada dirimu untuk belajar, menemukan sesuatu, dan memperluas cara pandang.
Lagi pula, jika kamu memang ingin menjadi penulis, membuat konten, atau meninggalkan karya yang bisa dibaca orang lain, bukankah membaca adalah salah satu cara paling masuk akal untuk memulainya?
Kamu tidak bisa terus-menerus berharap memiliki sesuatu untuk ditulis jika tidak pernah memberi pikiranmu bahan untuk diolah.
Kamu membutuhkan cerita, pengalaman, pengetahuan, dan sudut pandang baru. Semua itu bisa kamu temukan dari buku, percakapan, perjalanan, maupun kehidupan sehari-hari.
Jadi, mungkin sudah saatnya kamu berhenti mempersulit sesuatu yang sebenarnya bisa dimulai hari ini.
Baca buku. Selesaikan satu demi satu. Nikmati prosesnya.
Tidak perlu buru-buru menjadi seseorang yang luar biasa hanya karena kamu ingin memiliki kehidupan yang luar biasa.
Membeli Buku Tanpa Harus Mengkhawatirkan Uang
Tentu saja, ada satu masalah yang tidak bisa kamu abaikan. Membeli banyak buku membutuhkan uang, sedangkan membaca banyak buku membutuhkan waktu.
Kalau mengikuti keinginan, rasanya ingin membeli semua buku menarik yang muncul di media sosial. Belum lagi buku-buku yang direkomendasikan teman, novel yang sedang ramai dibicarakan, atau bacaan yang sudah lama masuk daftar keinginanmu.
Namun, kamu juga tahu bahwa uang tidak bisa dihabiskan hanya untuk memenuhi semua keinginan.
Kamu masih punya kebutuhan lain. Ada tabungan yang perlu dibangun, kemampuan yang harus dikembangkan, dan rencana masa depan yang membutuhkan persiapan keuangan. Kamu tidak ingin kesenangan hari ini justru menjadi masalah untuk dirimu sendiri di kemudian hari.
Lalu, bagaimana caranya agar kamu tetap bisa membaca banyak buku tanpa harus terus-menerus mengkhawatirkan biaya?
Kamu mulai mengingat kembali sesuatu yang pernah kamu lakukan. Beberapa waktu lalu, kamu pernah mencoba membuat ulasan buku dan menjadi afiliator. Hasilnya memang belum besar, tetapi kamu pernah mendapatkan komisi dari penjualan buku. Kamu bahkan pernah mendapatkan buku gratis.
Artinya, kamu sebenarnya sudah menemukan salah satu kemungkinan yang bisa dikembangkan.
Kamu hanya perlu berhenti menganggapnya sebagai sesuatu yang pernah dicoba, lalu mulai melihatnya sebagai proyek yang bisa dibangun secara lebih serius.
Bayangkan jika kamu menjadikan kegiatan membaca sebagai bagian dari proses membuat konten. Setelah menyelesaikan sebuah buku, kamu bisa membagikan hal-hal menarik yang kamu temukan. Tidak harus berupa ulasan panjang atau analisis yang rumit. Kamu bisa menceritakan karakter yang paling kamu sukai, bagian yang membuatmu berpikir, kutipan yang membekas, atau pelajaran yang kamu temukan dari cerita tersebut.
Kamu tidak harus menjadi kritikus buku. Kamu hanya perlu menjadi pembaca yang bersedia berbagi pengalaman.
Lagipula, bukankah kamu memang suka bercerita?
Kamu bisa membuat video pendek untuk TikTok atau Instagram, kemudian mengembangkan pembahasan yang lebih panjang untuk YouTube. Kamu juga bisa menulis ulasannya di blog finjournals agar pemikiranmu tidak hanya berhenti sebagai konten yang tenggelam di linimasa media sosial.
Dengan begitu, satu kegiatan bisa memberikan beberapa manfaat sekaligus. Kamu membaca untuk dirimu sendiri, mendokumentasikan apa yang kamu pelajari, melatih kemampuan berbicara dan menulis, membangun personal branding, serta membuka peluang mendapatkan penghasilan melalui afiliasi atau kerja sama dengan penerbit.
Jika nantinya ada penerbit yang tertarik bekerja sama dan memberikan buku untuk diulas, tentu itu akan menjadi bonus yang menyenangkan.
Namun, kamu perlu mengingat satu hal: jangan sampai keinginan mendapatkan komisi atau buku gratis justru menghilangkan kesenanganmu dalam membaca.
Jangan sampai kamu kembali terjebak dalam pola yang sama, yaitu mengubah sesuatu yang kamu sukai menjadi perlombaan untuk mengejar hasil.
Nikmati bukunya terlebih dahulu. Bagikan hal-hal yang memang menarik bagimu. Biarkan prosesnya tumbuh secara perlahan.
Membagikan Sesuatu agar Kamu Tidak Mudah Melupakannya
Ada alasan lain mengapa membuat konten dari buku yang kamu baca terasa masuk akal.
Kamu tahu bahwa ingatan manusia tidak selalu bisa diandalkan. Sesuatu yang hari ini terasa penting bisa saja terlupakan beberapa minggu kemudian. Kamu mungkin pernah membaca sebuah kalimat yang membuatmu merenung cukup lama, tetapi ketika ingin menceritakannya kembali, kamu justru kesulitan mengingat apa yang sebenarnya membuat kalimat itu begitu berarti.
Karena itulah, mendokumentasikan proses membaca bisa menjadi kebiasaan yang berguna.
Ketika membuat ulasan buku, kamu dipaksa untuk mengingat kembali isi bacaan, memilih bagian yang menarik, menyusun pemikiran, dan menjelaskannya dengan bahasamu sendiri. Proses itu membuatmu berinteraksi lebih jauh dengan apa yang sudah kamu baca.
Mengajarkan atau membagikan sesuatu kepada orang lain juga bisa membantu memperkuat pemahaman. Kamu tidak sekadar menerima informasi, tetapi mencoba mengolahnya menjadi sesuatu yang bisa dipahami orang lain.
Tentu saja, membuat konten tidak otomatis membuatmu mengingat semuanya. Namun, setidaknya kamu memiliki catatan yang bisa dibuka kembali ketika membutuhkan pengingat.
Bahkan, video yang kamu buat hari ini mungkin akan terasa berguna beberapa tahun mendatang.
Bayangkan suatu hari nanti kamu lupa dengan sebuah gagasan yang pernah begitu berarti. Kemudian, tanpa sengaja, kamu menemukan kembali video lama yang membahas buku tersebut. Kamu menonton dirimu sendiri menjelaskan sesuatu yang pernah kamu pelajari, lalu menyadari bahwa ada pemikiran lama yang ternyata masih relevan dengan kehidupanmu sekarang.
Bukankah itu menarik?
Kamu tidak hanya sedang membuat konten untuk orang lain. Kamu juga sedang meninggalkan jejak pemikiran untuk dirimu sendiri di masa depan.
Dan mungkin, di situlah salah satu alasan terbesarmu ingin terus menulis dan membuat video.
Bukan hanya supaya orang lain mengenalmu, tetapi supaya suatu hari nanti kamu bisa melihat kembali perjalanan pikiranmu sendiri.
Kembali Membuat Konten, tetapi Kali Ini Lebih Terarah
Saat ini, kamu juga mulai kembali aktif mengisi kanal YouTube finjournals. Rasanya menyenangkan ketika akhirnya ada sesuatu yang kembali bergerak setelah cukup lama tertunda.
Namun, kali ini kamu ingin melakukannya dengan cara yang sedikit berbeda.
Kamu tidak ingin sekadar mengejar jumlah unggahan. Kamu ingin lebih memperhatikan kualitas, gagasan, dan nilai yang bisa dibagikan melalui setiap karya. Entah itu video tentang buku, pembahasan pengembangan diri, proyek edukasi, dokumentasi perjalanan, atau cerita sederhana tentang kehidupan sehari-hari.
Kamu ingin setiap video memiliki alasan untuk dibuat.
Bukan berarti semuanya harus sempurna. Justru kamu perlu mengingat bahwa keinginan untuk menghasilkan sesuatu yang sempurna sering kali menjadi alasan mengapa banyak hal akhirnya tidak pernah selesai.
Kamu sudah cukup lama memiliki berbagai ide. Ada banyak video yang ingin dibuat, cerita yang ingin ditulis, dan pengalaman yang ingin didokumentasikan. Namun, terkadang kamu terlalu sibuk membayangkan hasil akhirnya sampai lupa bahwa semua itu hanya bisa terwujud jika kamu bersedia memulai.
Jadi, kali ini kamu ingin lebih realistis.
Buat video yang bisa kamu selesaikan dengan kemampuan dan waktu yang tersedia. Perbaiki kualitasnya secara bertahap. Pelajari hal-hal yang belum kamu kuasai. Bangun kebiasaan yang bisa dipertahankan dalam jangka panjang.
Kamu tidak perlu langsung memiliki studio yang bagus, peralatan paling mahal, atau jumlah penonton yang besar. Kamu hanya perlu terus belajar membuat karya yang semakin baik.
Kualitas memang penting, tetapi kualitas juga tumbuh melalui proses. Kamu tidak bisa menunggu sampai merasa hebat untuk mulai menghasilkan sesuatu.
Mulailah dengan apa yang kamu punya. Lalu, tingkatkan kualitasnya seiring bertambahnya kemampuan, pengetahuan, dan pengalamanmu.
Belajar Menurunkan Ambisi untuk Traveling
Ada satu hal lain yang juga perlu kamu atur kembali: keinginan untuk traveling.
Kamu masih ingin pergi ke banyak tempat. Ada gunung yang ingin didaki, kota yang ingin dijelajahi, jalan panjang yang ingin dilewati, dan negara-negara yang ingin dikunjungi. Rasanya selalu ada sesuatu yang menarik untuk dilihat di luar sana.
Masalahnya, keinginan itu terkadang terlalu besar hingga mengganggu ketenanganmu sendiri.
Ketika melihat orang lain bepergian, kamu mulai membayangkan perjalanan berikutnya. Ketika menemukan tempat yang menarik, kamu langsung ingin pergi ke sana. Ketika menyadari betapa luasnya dunia, kamu merasa waktu berjalan terlalu cepat dan ada begitu banyak tempat yang belum sempat kamu kunjungi.
Kamu ingin pergi ke sana kemari, seolah-olah semua tempat harus didatangi secepat mungkin.
Padahal, kamu juga memiliki kehidupan yang perlu dibangun. Ada pekerjaan, keuangan, keterampilan, dan proyek-proyek yang tidak akan berkembang jika terus-menerus ditinggalkan demi perjalanan berikutnya.
Kamu tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menjelajahi dunia. Namun, kamu juga tidak ingin terus-menerus merasa tertinggal hanya karena belum bisa pergi ke tempat yang kamu inginkan.
Karena itu, kali ini kamu ingin belajar mengurangi, bukan berhenti sepenuhnya.
Sesekali traveling tentu tidak masalah. Kamu tetap bisa mendaki gunung, mengunjungi tempat baru, atau merencanakan perjalanan yang sudah lama diimpikan. Namun, kamu ingin lebih selektif dalam menentukan tujuan.
Jika memang ingin bepergian, pilih perjalanan yang benar-benar ingin kamu nikmati atau dokumentasikan. Tidak harus selalu pergi hanya karena sedang ingin pergi. Tidak harus selalu mengunjungi setiap tempat menarik yang muncul di media sosial.
Mungkin kamu bisa mengurangi frekuensi perjalanan, tetapi mempersiapkan perjalanan yang lebih bermakna. Sesekali, alih-alih mengunjungi beberapa tempat dalam waktu singkat, kamu bisa memilih satu destinasi dan menikmatinya dengan lebih tenang.
Bahkan, jika keuangan dan persiapanmu sudah memungkinkan, kamu bisa mulai merencanakan perjalanan ke luar negeri.
Namun, semuanya harus berjalan seiring dengan kesiapanmu.
Kamu ingin kemampuan, pengetahuan, dan kondisi keuanganmu cukup kuat untuk mendukung keinginanmu menjelajahi dunia. Kamu tidak ingin terus-menerus memaksakan diri mengikuti emosi, lalu harus mengorbankan hal-hal lain yang sebenarnya juga penting.
Sebab, traveling seharusnya menjadi bagian dari kehidupan yang kamu bangun, bukan sesuatu yang membuat kehidupanmu berantakan.
Kamu ingin menikmati perjalanan tanpa terus-menerus merasa bersalah karena menghabiskan uang. Kamu ingin mengambil foto, membuat video, dan menulis cerita tanpa merasa sedang melarikan diri dari tanggung jawab.
Kamu ingin bepergian karena memang siap, bukan sekadar karena tidak sabar.
Dan mungkin, itu juga bagian dari proses menjadi dewasa. Belajar bahwa tidak semua keinginan harus segera diwujudkan, meskipun kamu punya banyak alasan untuk mengejarnya.
Ambisi Sederhana yang Ingin Kamu Pertahankan
Setelah memikirkan semuanya, kamu mulai merasa bahwa hidup tidak harus selalu tentang pencapaian yang besar.
Kamu tidak harus menjadi orang paling sukses di antara teman-temanmu. Kamu tidak harus memiliki bisnis besar dalam waktu dekat. Kamu juga tidak perlu membuktikan bahwa semua ambisi yang pernah kamu ceritakan kepada orang lain benar-benar bisa diwujudkan.
Kamu hanya perlu membangun kehidupan yang sesuai dengan hal-hal yang benar-benar kamu anggap penting.
Kamu ingin membaca lebih banyak buku, menulis lebih banyak cerita, dan suatu hari menerbitkan buku yang bisa dibaca orang lain. Kamu ingin memiliki perpustakaan pribadi, tempat kamu menyimpan buku-buku yang pernah menemani berbagai fase kehidupanmu. Kamu ingin terus membuat konten, membagikan pemikiran, dan mendokumentasikan perjalanan yang kamu lalui.
Kamu ingin memiliki pekerjaan yang cukup baik untuk menopang kebutuhan hidup, memberi ruang bagi kreativitas, dan membuatmu tetap punya waktu untuk menikmati kehidupan di luar pekerjaan.
Kamu ingin sesekali pergi ke luar negeri, melihat dunia yang lebih luas, mengenal orang-orang baru, dan membawa pulang cerita yang bisa kamu tulis.
Lebih dari itu, kamu ingin meninggalkan sesuatu yang bertahan lebih lama daripada kesibukanmu hari ini.
Sesuatu yang mungkin bisa disebut sebagai legacy, warisan pemikiran yang kamu tinggalkan melalui tulisan, buku, foto, video, atau karya-karya lain yang kamu buat sepanjang hidup.
Kamu tidak tahu seberapa besar pengaruhnya nanti. Mungkin hanya akan dibaca oleh beberapa orang. Mungkin suatu hari ada seseorang yang menemukan tulisanmu ketika sedang mencari jawaban atas pertanyaan yang sama. Mungkin ada orang yang menonton videomu, lalu menemukan sudut pandang baru yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehnya.
Kamu tidak bisa menentukan sejauh mana sebuah karya akan berjalan setelah dilepaskan ke dunia.
Namun, kamu bisa menentukan apakah kamu akan terus membuatnya.
Dan untuk sekarang, rasanya itu sudah cukup.
Kamu tidak harus memikirkan bagaimana caranya meninggalkan warisan besar ketika bahkan kebiasaan kecilmu sendiri belum sepenuhnya terbangun. Kamu hanya perlu mulai menulis, membaca, membuat video, dan menyelesaikan satu demi satu hal yang memang ingin kamu kerjakan.
Beli buku ketika keuangan memungkinkan. Baca ketika ada waktu. Tuliskan sesuatu ketika ada gagasan. Buat video ketika ada cerita yang ingin dibagikan. Pergilah ketika memang sudah siap.
Tidak harus semuanya selesai tahun ini.
Tidak harus semuanya menghasilkan uang.
Tidak harus semuanya mendapat pengakuan.
Kamu hanya perlu memastikan bahwa hal-hal yang kamu lakukan hari ini perlahan membawamu mendekati kehidupan yang kamu inginkan.
Pada akhirnya, mungkin ambisimu memang sesederhana itu.
Kamu ingin membaca banyak buku, menulis buku sendiri, membangun perpustakaan pribadi, membuat karya yang bermanfaat, dan sesekali bepergian ke tempat-tempat baru. Kamu ingin memiliki cukup uang untuk menjalani semua itu tanpa harus terus-menerus merasa khawatir. Kamu ingin terus bertumbuh, tetapi tetap punya waktu untuk menikmati hidup.
Kamu tidak sedang berhenti bermimpi besar. Kamu hanya sedang belajar membedakan antara mimpi yang benar-benar kamu inginkan dan ambisi yang selama ini kamu kejar karena terlalu sibuk membayangkan siapa dirimu di masa depan.
Sebab, mungkin yang selama ini kamu butuhkan bukanlah ambisi yang lebih besar, melainkan kesediaan untuk menjalani ambisi yang sudah kamu miliki.
Pelan-pelan saja. Baca satu buku lagi. Tulis satu cerita lagi. Selesaikan satu video lagi. Sisihkan sedikit uang untuk perjalanan berikutnya.
Lalu, ulangi semuanya besok.
Tidak perlu terburu-buru menjadi seseorang yang hebat. Kamu hanya perlu terus menjadi seseorang yang bersedia belajar, berkarya, dan menikmati prosesnya.
Karena pada akhirnya, kamu tidak ingin menghabiskan seluruh hidup hanya untuk mengejar kehidupan yang kamu bayangkan. Kamu juga ingin benar-benar hidup di dalamnya.
